“Buat apa belajar kalau hati dan pikiran belum siap?” ~ Ahmad Faishal Sujatmiko~
Di tengah hiruk-pikuk persiapan masa depan yang identik dengan jadwal belajar ketat, kelas tambahan, dan berbagai strategi meraih kesuksesan, Ahmad Faishal Sujatmiko justru memilih mendengarkan dirinya sendiri. Remaja yang akrab disapa Faishal ini memiliki prinsip yang ia sebut ‘nyeleneh’ karena ia tidak percaya bahwa belajar harus selalu dipaksakan. Bagi murid kelas XII A MAN 1 Yogyakarta ini, hasil terbaik justru lahir ketika hati dan pikiran berada dalam keadaan siap. Cara pandang yang sederhana, tetapi jujur itulah yang perlahan menuntunnya menemukan jalan menuju dunia yang benar-benar ia sukai: bahasa dan sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
Bagi Faishal, ketertarikan terhadap bahasa Inggris bukan muncul menjelang detik akhir di masa-masa pencarian perguruan tinggi di kelas XII. Ia mengaku bahwa sejak duduk di bangku sekolah dasar, bahasa Inggris selalu menjadi mata pelajaran yang terasa akrab baginya. Nilai yang konsisten baik dan pengalaman yang hampir tidak pernah berhadapan dengan remedial menjadi pengalaman kecil yang terus membekas hingga akhirnya menumbuhkan kecintaan yang lebih besar. “Saya bukan ingin flexing atau bagaimana, tetapi sejak SD, nilai bahasa Inggris saya sering bagus dan jarang remedial. Mungkin hal itulah yang membuat saya tertarik dengan bahasa Inggris,” ujar Faishal sambil tersenyum.
Ketertarikan akan bahasa Inggris kemudian tumbuh menjadi keyakinan. Putra pasangan Arif Sujatmiko dan Widyastuti Fatimah Ikhsan ini pun mantap memilih program studi Sastra Inggris sebagai tujuan berikutnya. Baginya, pilihan tersebut bukan sekadar mengikuti minat, tetapi juga menjadi ruang untuk terus berkembang dan memperdalam kemampuan yang telah lama ia cintai. “Saya memilih Sastra Inggris karena memang tertarik dengan bahasa Inggris. Saya berharap di sana saya dapat meningkatkan kemampuan berbahasa saya,” tutur Faishal.
Di balik pilihannya itu, Faishal memiliki cara belajar yang mungkin membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Saat belajar mandiri, ia tidak memaksakan diri untuk membuka buku atau menekuni materi ketika kondisi hati dan pikirannya belum siap. Sebaliknya, ia memilih menunggu momen ketika dirinya benar-benar siap untuk menerima dan memahami pelajaran. “Kalau belajar sendiri, saya biasanya belajar saat hati dan pikiran saya siap. Dengan cara itu, saya merasa lebih mudah menangkap apa yang ingin saya pelajari. Kalau di sekolah, tentu saya tetap memperhatikan guru dengan seksama,” jelas Faishal.
Bagi Faishal, mengenali diri sendiri merupakan bagian penting dari proses belajar. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki ritme dan cara masing-masing untuk memahami pelajaran. Bagi Faishal, yang terpenting bukanlah mengikuti cara orang lain, melainkan menemukan metode yang paling sesuai dengan diri sendiri dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
Di tengah kesibukan sebagai murid kelas XII, Faishal juga meluangkan waktu untuk menjalani hobinya. Ia gemar berlari, sebuah aktivitas yang bukan hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga menjadi cara baginya untuk menjernihkan pikiran. Sesekali, ia juga menikmati waktu dengan membaca berbagai buku dan literatur. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut justru mendekatkannya dengan dunia bahasa dan sastra.
Meski dikenal sebagai sosok yang tenang, Faishal memiliki pandangan yang cukup tegas mengenai pentingnya usaha dan tanggung jawab. Karena itu, ia memiliki pesan sederhana, tetapi sarat makna, bagi adik-adik kelasnya. “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, kumpulkan tugas tepat waktu, jangan sering terlambat masuk sekolah, dan tolong, perhatikan guru kalian,” pesan Faishal.
Lebih dari sekadar nasihat, Faishal juga memiliki filosofi hidup yang selalu ia pegang. Baginya, masa depan adalah hasil dari pilihan dan usaha yang dilakukan hari ini. Faishal percaya bahwa setiap orang akan menuai apa yang ditanamnya. Menurutnya, mereka yang enggan berusaha sejak sekarang harus siap menerima konsekuensinya di masa depan. Sebaliknya, mereka yang berani bekerja keras dan berjuang sejak dini akan menuai hasil yang setimpal, sehingga ketika dewasa nanti, yang tersisa untuk dipikul hanyalah tanggung jawab atas kesuksesan yang telah diraih.
Setelah menyelesaikan pendidikannya nanti, Faishal bercita-cita untuk berkarier sebagai seorang translator bahasa Inggris-Indonesia. Namun, apabila jalan hidup membawanya ke arah yang berbeda, ia juga membuka kemungkinan untuk menjadi seorang sastrawan. Apa pun profesi yang akan dijalaninya kelak, satu hal yang pasti, kecintaannya terhadap bahasa akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Mungkin cara belajar Faishal tidak akan ditemukan dalam buku-buku motivasi atau seminar tentang strategi meraih kesuksesan. Namun, justru dari keberaniannya memahami diri sendiri dan kesederhanaan dalam bersikap, Faishal menemukan arah yang ingin ia tuju. Di tengah tuntutan untuk selalu bergerak cepat dan mengikuti cara orang lain, ia memilih satu hal yang sederhana, percaya pada prosesnya sendiri. Dan barangkali, itulah pelajaran paling berharga dari perjalanan Faishal bahwa menemukan cara belajar yang tepat untuk diri sendiri bisa menjadi langkah awal untuk menemukan masa depan yang tepat pula.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































