Situbondo, 20 Juli 2026 — Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Jember (UNEJ) dan Universitas dr. Soebandi tahun 2026 resmi diterjunkan di Alun-Alun Situbondo pada 14 Juli 2026. Salah satu kelompok yang beranggotakan 12 mahasiswa kemudian ditempatkan di Desa Kedunglo, Kecamatan Asembagus untuk mengabdi selama beberapa pekan ke depan. Sebelum turun langsung ke lapangan, tim sempat membekali diri dalam penerjunan secara offline pada Alun Alun Situbondo. Pada penerjunan tersebut, dilakukan upacara dan juga penyematan atribut untuk masing masing Universitas. Selain itu, juga terdapat sosialisasi tingkat kecamatan yang digelar di Pendopo aula kecamatan. Pada sosialisasi tersebut, mahasiswa antara lain diminta untuk mengumpulkan data warga yang masuk klaster desil 1 dan 2 sebagai bagian dari pemetaan kemiskinan yang menjadi dasar penyaluran bantuan sosial seperti PKH (Program Keluarga Harapan).
Memasuki minggu pertama, para mahasiswa memfokuskan diri pada kegiatan kunjungan observasi kepada perangkat desa serta tokoh masyarakat sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menyerap aspirasi warga. Rangkaian kunjungan observasi berlangsung sejak 15 hingga 17 Juli 2026, dimulai dari kantor desa, tempat tim berkenalan dengan Kepala Dusun Penjalinan Pak Ja’is, Pak Samsuri yang membawahi Kampung Penjalinan bagian selatan, tokoh Kampung Krajan Pak Supriyadi, dan Pak Sahwi selaku staf desa yang membidangi pemetaan desil dan bantuan sosial. Hasil dari perbincangan ini dapat terungkap bahwa Dusun Cerpat dan Penjalinan merupakan dua dusun dengan wilayah terpanjang di Desa Kedunglo, sekaligus informasi agenda kerja bakti di wilayah pantura serta rencana kunjungan lanjutan ke Ketua RT.
Masih di hari yang sama, tim melanjutkan kunjungan ke Bidan Desa Bu Hasanatin dan Bidan Santi untuk menggali persoalan kesehatan masyarakat. Pada perbincangan tersebut terpetakan sejumlah kasus yang menjadi perhatian, mulai dari satu kasus down syndrome pada balita, darah tinggi, diabetes melitus, hingga 11 kasus stunting serta beberapa kasus gizi buruk yang disebabkan pola makan yang kurang memperhatikan kandungan gizi. Meski begitu, Kedunglo bersama Desa Trigonco tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting paling rendah di daerah tersebut. Agenda kesehatan dalam waktu dekat meliputi pelatihan kader posyandu pada 19 Juli, kegiatan posyandu di delapan titik pada 20 – 28 Juli, imunisasi pada 28 Juli, serta program Makan Bergizi Gratis yang direncanakan menyasar posyandu pada Oktober mendatang. Tim KKN sendiri dijadwalkan turut membantu sebagai operator posyandu pada 18 Juli.
Kunjungan observasi berikutnya mahasiswa bertemu Ibu Rika, Ketua Kader Pembangunan Manusia (KPM) sejak 2021. Beliau menjelaskan program rutin seperti PKK bulanan, posyandu untuk berbagai kelompok usia, hingga kunjungan rumah oleh Tim Pendamping Keluarga. Ibu Rika juga menyoroti tantangan berupa pola pikir warga yang masih awam, keterbatasan literasi digital yang membuat warga rentan menjadi korban penipuan daring, serta masih adanya kasus putus sekolah dan pernikahan dini akibat keterbatasan biaya. Kunjungan hari itu ditutup di rumah Ketua RT 1 RW 6, yang turut dihadiri tokoh RT lain. Pada pertemuan tersebut terungkap bahwa Desa Kedunglo terdiri atas tiga dusun, dengan berbagai persoalan seperti kebiasaan membakar sampah mandiri, usulan drainase yang belum terealisasi sejak lama, hingga potensi UMKM pupuk di wilayah Rembes dan Betu Labeng.
Pada 16 Juli 2026, tim mendatangi kediaman Bapak Latif, Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang juga menjabat sebagai petugas FKH dan Ketua HIPPA. Beliau menekankan pentingnya prinsip pemberdayaan masyarakat serta memaparkan sejumlah persoalan mendasar desa, mulai dari warga yang belum terjangkau bantuan, krisis air minum di Betu labeng, distribusi air yang tidak merata, akses jalan rusak menuju Desa Pesangghem, hingga persoalan pengelolaan sampah dan limbah kotoran sapi yang mencemari air saat musim hujan. Pada sisi lain, potensi ekonomi seperti UMKM keripik pisang khas Betu lawang dan unit usaha penggemukan sapi BUMDes turut teridentifikasi.
Rangkaian kunjungan observasi minggu pertama ditutup pada 17 Juli 2026 dengan kunjungan ke Bapak Hasan, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Ia menjelaskan bahwa dari sekitar 4.000 meter luas hutan, baru sekitar 342–350 meter yang dikelola optimal, dengan komoditas unggulan berupa kopi, porang, dan kemiri. Sayangnya, sektor perkebunan kopi masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari masa panen yang panjang, serangan hama monyet, minimnya perawatan dan penyuluhan, hingga ketiadaan alat produksi seperti selep kupas dan alat pengemasan. Sebagai tindak lanjut, tim menyepakati sejumlah rencana program bersama, meliputi pembuatan silase, uji coba bibit kopi, produksi bubuk kompos, dan pemanfaatan kayu kaliandra.
Hasil dari rangkaian kunjungan observasi sepanjang minggu pertama ini, mahasiswa KKN Kolaborasi UNEJ–Universitas dr. Soebandi mendapatkan gambaran awal yang cukup komprehensif mengenai Desa Kedunglo, mulai dari persoalan kesehatan, tantangan sosial, sanitasi, kesenjangan akses air bersih dan bantuan sosial, hingga potensi ekonomi berbasis kopi dan UMKM lokal. Bekal pemahaman ini diharapkan menjadi fondasi bagi penyusunan program kerja yang tepat sasaran pada minggu-minggu berikutnya.
(Dina Lu’luul Karimah – Dike Safira Ramadhani, Tim Humas KKN Kolaborasi UNEJ–Universitas dr. Soebandi 2026, Desa Kedunglo)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































