Di zaman ketika hampir semua kejadian bisa direkam dan dibagikan dalam hitungan detik saja, menjaga emosi ternyata bukan perkara sederhana. Seseorang bisa saja awalnya hanya merasa kesal karena sebuah kejadain kecil di jalan, tetapi beberapa menit kemudian tindakannya sudah menjadi tontonan banyak orang di media sosial. Dari situ muncul pertanyaan sederhana: apakah kita benar-benar mampu mengendalikan emosi ketika berada dalam situasi yang membuat kita tertekan?
Pertanyaan tersebut terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari karena ruang publik dan media sosial sekarang seperti tidak bisa dipisahkan. Apa yang terjadi di jalan, di tempat kerja, di kampus, bahkan dalam percakapan biasa, bias berubah menjadi komsumsi publik ketika seseorang merekam dan mengunggahnya ke internet.
Salah satu contoh yang mencakup menggambarkan persoalan tersebut terjadi di Surabaya pada 27 April 2026. Seorang pengendara sepeda motor yang diketahui sebagai anggota TNI Aangkatan Laut menjadi sorotan setelah video dirinya marah dan menggebrak ambulans di Jalan Bengawan viral di media sosial. Menurut pemberitaan detikJaktim, pengendara tersebut saat itu berada di jalur berlawanan arah dan kemudian emosi ketika diminta memberikan jalan kepada ambulans. Peristiwa tersebut direkam dan diunggah ke media sosial hingga mendapat banyak perhatian dari warganet.
Beberapa hari setelah video tersebut ramai, pengendara yang diketahui bernama Kopka Sujarwo menyampaikan permintaan maaf kepada pihak ambulans dan mengakui kesalahannya karena telah melanggar lalu lintas.
Marah itu Manusiawi, Tetapi Tindakan Tetap Perlu Dikendalikan
Marah bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Setiap orang pasti pernah merasakannya. Kita bisa marah ketika diperlakukan tidak adil, merasa dirugikan, tersinggung, atau menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
American Psychological Association menjelaskan bahwa kemarahan tidak lagi dapat dikendalikan dan berubah menjadi perilaku yang merusak hubungan, kesehatan, atau kehidupan seseorang. Artinya, masalah sebenarnya bukan pada munculnya rasa marah, tetapi pada bagaimana seseorang memilih untuk merespons rasa tersebut.
Hal ini penting karena emosi dan tindakan bukanlah sesuatu yang sama. Seseorang mungkin tidak bias memilih kapan rasa marah muncul, tetapi ia masih mempunyai kesempatan untuk menentukan apa yang dilakukan setelah rasa marah tersebut muncul.
Dalam situasi di jalan raya, misalnya, seseorang mungkin merasa terganggu karena kendaraan lain mengambil jalurnya. Rasa kesal bisa muncul secara spontan. Tetapi apakah rasa kesal tersebut harus berakhir dengan bentakan, makian, atau tindakan fisik? Tentu tidak.
Ketika Emosi Bertemu dengan Kecepatan Media Sosial
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika sebuah tindakan direkam dan menjadi viral. Di media sosial, orang sering kali hanya melihat potongan kejadian. Kita tidak selalu mengetahui apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya atau bagaimana keadaan sebenarnya. Namun, karena video sudah tersebar dan mendapatkan banyak komentar, kita terdorong untuk segera memberikan penilaian.
Kasus ambulans di Surabaya menunjukkan bagaimana sebuah tindakan yang terjadi di ruang publik dapat berubah menjadi persoalan yang dibicarakan banyak orang. Video tersebut pertama kali mencuat melalui unggahan akun tiktok milik sopir ambulans dan kemudian mendapatkan ribuan tanda suka, ratusan kali dibagikan, dan juga berbagai komentar dari warganet.
Di sinilah era viral menghadirkan tantangan baru dalam mengelola emosi. Kita tidak hanya menghadapi emosi pribadi, tetapi juga berhadapan dengan emosi orang lain yang muncul secara bersamaan di media sosial.
Melihat ratusan orang marah di kolom komentar dapat membuat seseorang semakin mudah ikut marah. Akibatnya, media sosial terkadang membuat kita lebih cepat bereaksi daripada berpikir. Padahal, tidak semua sesuatu yang viral harus langsung kita komentari. Tidak semua persoalan membutuhkan kemarahan kita.
Perilaku Agresif Sering Berawal dari Respons yang Tidak Terkendali
Perilaku agresif dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tidak selalu berupa tindakan kekerasan yang besar. Bentakan, ancaman, penghinaan, memukul benda, atau tindakan yang sengaja membuat orang lain merasa takut juga menjadi bentuk agresivitas.
Dalam kasus di Surabaya, tindakan menggebrak ambulans menjadi bagian yang membuat kejadian tersebut mendapat perhatian publik. Terlepas dari penilaian terhadap individu yang terlibat, peristiwa tersebut dapat menjadi contoh bagaimana emosi yang tidak terkendali dapat muncul dalam bentuk perilaku agresif di ruang publik.
Yang menarik, tindakan seperti itu terkadang hanya berlangsung dalam beberapa detik. Namun, akibatnya bisa jauh lebih panjang. Ketikan ada orang yang merekam, tindakan tersebut dapat tersebar ke ribuan bahkan jutaan orang. Identitas seseorang dapat diketahui, reputasinya dapat di pertanyakan, dan masalah yang awalnya hanya terjadi antara dua pihak berubah menjadi perhatian publik.
Menahan Diri Bukan Memendam Emosi
Penelitian yang dilakukan Sophie L. Kjærvik dan Brad J. Bushman dalam Clinical Psychology Review memberikan gambaran yang menarik mengenai hal ini. Mereka melakukan meta-analisis terhadap 154 penelitian yang melibatkan lebih dari 10.000 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas yang membantu menurunkan tingkat keterbangkitan fisiologis, seperti pernapasan dalam, relaksasi, mindfulness, meditasi, dan timeout, lebih konsisten dalam menurunkan kemarahan dan agresivitas dibandingkan aktivitas yang justru meningkatkan keterbangkitan.
Dengan kata lain, ketika sedang marah, kita tidak selalu perlu “melampiaskannya”.
Justru terkadang yang kita perlukan adalah berhenti sebentar.
Tidak langsung membalas.
Tidak langsung mengetik komentar.
Tidak langsung berteriak.
Memberikan waktu kepada diri sendiri untuk tenang mungkin terlihat sederhana, tetapi langkah tersebut dapat mencegah kita melakukan sesuatu yang nantinya kita sesali.
American Psychological Association juga menekankan pentingnya mengenali pemicu kemarahan dan mempelajari cara meresponsnya dengan lebih sehat. Kemarahan dapat dikendalikan dengan berbagai strategi, termasuk mengubah cara berpikir dan berkomunikasi secara lebih konstruktif.
Penulis: Fatimah Az Zahra, Mahasiswa Universitas Siber Asia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































