Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang makna kemerdekaan. Perjuangan para pahlawan dikenang, bendera Merah Putih dikibarkan, upacara digelar, dan rasa syukur atas terbebasnya negeri ini dari penjajahan kembali dihadirkan. Namun, di balik kemerdekaan sebuah bangsa, ada kemerdekaan lain yang tak kalah penting untuk direnungkan: sudahkah manusia benar-benar merdeka dari hawa nafsu?
Seseorang mungkin hidup di negeri yang merdeka, tetapi sesungguhnya ia tidak mampu memaknai arti kemerdekaan itu sendiri. Ia masih terjajah oleh keserakahan hingga tidak mampu mengendalikan amarah. Kebebasan menentukan pilihan pun belum tentu membebaskan manusia dari gengsi, keinginan untuk dipuji, atau kebutuhan untuk selalu diakui. Bahkan, sebuah jabatan yang seharusnya menjadi amanah bisa berubah menjadi jalan untuk memenuhi kepentingan pribadi ketika rasa cukup mulai kehilangan tempat.
Penjajahan semacam ini tidak kasatmata. Terlebih lagi, orang yang dijajah kadang tidak mampu merasakannya. Tidak ada rantai yang mengikat, tidak ada pintu yang dikunci, dan tidak ada kekuasaan yang memaksa. Namun, manusia dapat perlahan kehilangan kebebasannya ketika hidup dikendalikan oleh keinginan yang tak mampu ia kendalikan. Al-Qur’an mengingatkan tentang keadaan manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasa atas dirinya. Allah Swt. berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya…” (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ayat tersebut tidak berarti setiap keinginan harus dipandang buruk dan sangat dikekang. Keinginan untuk makan, memiliki keluarga, memperoleh kehidupan yang layak, meraih prestasi, dan mewujudkan cita-cita adalah bagian dari fitrah manusia. Persoalan muncul ketika keinginan tidak lagi berjalan bersama akal, iman, dan pertimbangan moral. Ketika apa yang diinginkan selalu dianggap benar hanya karena diinginkan, manusia perlahan menyerahkan kendali hidupnya kepada hawa nafsu.
Keserakahan, misalnya, membuat seseorang sulit merasa cukup. Apa yang telah dimiliki tidak lagi menghadirkan rasa syukur karena perhatian terus tertuju pada apa yang belum diperoleh. Dari sinilah berbagai penyimpangan bermula. Korupsi tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan mencolok. Terkadang ia berawal dari pembenaran sederhana: “hanya sedikit,” atau “sesekali tidak apa-apa.” Ketika pembenaran semacam itu terus dipelihara, hati perlahan kehilangan kepekaan dalam membedakan antara hak dan keinginan.
Di era digital seperti ini, hawa nafsu juga hadir melalui amarah. Seseorang mungkin memiliki kesempatan untuk menahan diri, tetapi memilih membalas demi melampiaskan perasaan. Di ruang digital, godaan ini semakin mudah. Sebuah komentar pedas dapat ditulis dalam hitungan detik, sementara akibatnya mungkin dirasakan jauh lebih lama. Kebebasan berbicara menjadi tidak bermakna apabila seseorang justru tidak mampu membebaskan dirinya dari dorongan untuk menyakiti. Seolah menjadi pemenang dengan merugikan orang lain adalah salah satu bentuk kesuksesan.
Ada pula bentuk yang lebih halus: keinginan untuk selalu mendapat pengakuan. Media sosial memungkinkan seseorang melihat respons orang lain hampir setiap saat. Pujian membuat hati berbunga, sementara kurangnya perhatian menimbulkan kegelisahan. Tanpa disadari, ukuran kebahagiaan dan harga diri bergeser dari dalam diri menuju penilaian orang lain. Pada saat itulah kebebasan menjadi rapuh, karena ketenangan hati bergantung pada sesuatu yang berada di luar kendali.
Keinginan untuk selalu menang pun bisa menjadi belenggu. Tidak semua kekalahan mudah diterima. Ada yang menyalahkan keadaan, merendahkan lawan, atau menyimpan kekecewaan begitu lama hingga hubungan baik ikut menjadi korban. Padahal, kekalahan justru bisa menjadi kesempatan untuk belajar merendahkan hati. Yang perlu ditaklukkan bukanlah orang lain, melainkan ego yang ingin selalu berada di atas.
Karena itu, hawa nafsu tidak perlu dimatikan, melainkan dididik dan diarahkan. Intinya, seseorang harus mampu mendidik hawa nafsu sendiri-sendiri dengan menempatkan keinginan pada jalan yang benar. Manusia membutuhkan keinginan untuk bekerja, belajar, mencintai, membangun keluarga, dan meraih cita-cita. Hawa nafsu yang terbiasa dididik akan memberikan pertimbangan melalui akal, iman yang terarah, dan takwa yang menjaga langkah ketika godaan datang.
Orang yang bertakwa bukanlah manusia yang bebas dari keinginan, melainkan manusia yang tidak membiarkan keinginan menguasai dirinya. Ketika ada kesempatan mengambil sesuatu yang bukan haknya, ia memilih menjaga amanah. Ketika amarah datang, ia berusaha menahan diri. Ketika pujian menghampiri, ia tetap rendah hati. Ketika keinginan untuk menang begitu kuat, hawa nafsu yang terkendali menjadi pagar agar seseorang selalu berada di jalan yang benar.
Penulis : Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































