Sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan inklusif, mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang (UM) melalui program Belajar Bersama Masyarakat (BBM) menggelar kegiatan mewarnai bersama siswa-siswi SLB Islam Yasindo di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, pada Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini bertujuan menghadirkan suasana belajar yang ramah dan menyenangkan sekaligus mengasah kreativitas serta motorik halus anak-anak berkebutuhan khusus melalui media seni.
Sejak pagi hari, kedatangan tim KKN UM disambut hangat oleh para guru dan siswa di lokasi. Suasana keakraban langsung terjalin saat seluruh siswa, guru, dan mahasiswa membaur untuk mengikuti senam pagi bersama. Kebersamaan semakin terasa ketika kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa sebelum aktivitas utama dimulai.
Menariknya, dalam kegiatan ini tim KKN UM menyiapkan lembar mewarnai khusus berupa sketsa (lineart) maskot dan ikon topeng malangan yang digambar langsung oleh mahasiswa. Sementara itu, siswa-siswi SLB Islam Yasindo antusias membawa peralatan mewarnai milik mereka sendiri, seperti krayon dan pensil warna.
Radli Zenitra Zhidrata selaku Penanggung Jawab kegiatan menceritakan bagaimana kegiatan tersebut berlangsung sejak awal. Ia menuturkan,
”Sesampainya di sana, kami disambut hangat oleh para guru dan murid. Kami mengawali kegiatan hari ini dengan senam pagi, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta berdoa bersama sebelum pembelajaran dimulai. Setelah itu, kami mempersiapkan seluruh peralatan untuk melaksanakan program kerja, yaitu kegiatan mewarnai bersama anak-anak.”
Ia juga mengungkapkan bahwa interaksi langsung dengan siswa SLB memberikan perspektif dan pandangan baru bagi para mahasiswa ketika ditanya soal kesannya selama mendampingi kegiatan mewarnai tersebut.
“Rasanya sih lebih aware, terus lebih empati juga sama mereka, dan menyenangkan sekali. Saya sangat excited,” ungkapnya.
Tak dipungkiri, mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus memang memberikan tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut justru menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk melatih kedewasaan sikap dan kepekaan emosional. Radli menambahkan,
“Tantangannya sih kita harus lebih sabar dan lebih berusaha untuk mengerti anak-anak.”
Suasana kelas terasa hidup dan interaktif saat mahasiswa mendampingi siswa satu per satu, menanyakan warna kesukaan mereka, hingga membimbing proses mewarnai dengan telaten. Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan rasa syukur dan doa terbaik untuk seluruh siswa SLB Islam Yasindo.
“Alhamdulillah lancar, sejauh ini lancar, alhamdulillah. Semoga mereka menjadi anak-anak yang teladan, rajin, baik kepada orang, kuat, dan sopan,” tutur Radli mengakhiri keterangannya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































