ACEH SINGKIL – Di tengah pesatnya arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap mengancam eksistensi budaya lokal, masyarakat Kabupaten Aceh Singkil terbukti tangguh dalam mempertahankan tradisi leluhur mereka. Sebuah kajian komprehensif yang diuraikan dalam Artikel_Jurnal_Tukhun_Kakhai.pdf mengupas tuntas bagaimana strategi komunikasi tradisional menjadi instrumen utama dalam menjaga kelestarian tradisi Tukhun Kakhai.
Tukhun Kakhai, yang secara harfiah dalam bahasa Singkil berarti “turun ke sungai”, merupakan upacara adat daur hidup atau ritual “turun mandi” bagi bayi. Ritual ini biasanya dilaksanakan saat bayi berusia hitungan hari ganjil (seperti 7, 14, atau 21 hari) setelah puput pusar. Secara filosofis, prosesi ini bukan sekadar aktivitas memandikan bayi, melainkan sebuah bentuk permohonan doa kepada Sang Pencipta agar sang anak dianugerahi kesehatan, keselamatan, serta penyucian jiwa dan raga.
Menurut kajian kualitatif deskriptif dalam Artikel_Jurnal_Tukhun_Kakhai.pdf, keberhasilan pewarisan budaya ini sangat bergantung pada efektivitas tiga dimensi komunikasi tradisional yang berakar kuat di masyarakat:
Komunikasi Antarpribadi dalam Keluarga: Keluarga inti bertindak sebagai agen pelestari kebudayaan paling krusial. Orang tua dan tetua menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda melalui narasi historis dan persuasi personal. Penggunaan bahasa daerah Singkil memainkan peran penting untuk membangun kedekatan emosional dan menegaskan bahwa tradisi ini adalah identitas kultural, bukan sesuatu yang kuno.
Komunikasi Kelompok Berbasis Kekerabatan (Sarakata): Tukhun Kakhai adalah sebuah peristiwa sosial. Sebelum acara dimulai, pihak keluarga mengundang kerabat (sarakata) dan tetangga dalam forum musyawarah untuk pembagian tugas secara gotong royong (mekhayo). Proses ini juga menjadi sarana edukasi partisipatif bagi pemuda-pemudi desa yang belajar tata cara ritual secara langsung (learning by doing).
Komunikasi Simbolik (Non-Verbal): Benda-benda yang digunakan dalam ritual berfungsi sebagai “komunikator diam” yang mentransmisikan nilai filosofis. Air sungai menyimbolkan kehidupan dan kemampuan beradaptasi, sedangkan peusijuek (tepung tawar) melambangkan kedamaian. Selain itu, senandung atau mantra yang diucapkan oleh dukun khanak (bidan kampung) memadukan unsur syariat Islam dengan kearifan adat lokal sebagai doa keselamatan.
Lebih jauh, kajian ini juga menyoroti bagaimana masyarakat dan tokoh adat melakukan adaptasi komunikasi untuk menghadapi tantangan zaman, seperti rasionalitas generasi muda dan berkurangnya akses ke sungai yang bersih. Saat ini, para tokoh adat merekonstruksi makna ritual sehingga Tukhun Kakhai kerap dimodifikasi menggunakan wadah air besar di pekarangan rumah, tanpa sedikit pun menghilangkan esensi pesan simbolik yang ingin disampaikan.
Kesimpulannya, pelestarian tradisi Tukhun Kakhai tidak mengandalkan medium teknologi modern, melainkan ikatan emosional yang diciptakan melalui komunikasi tradisional. Kekuatan komunikasi ini berhasil merawat kohesi sosial dan internalisasi nilai spiritual, menjadikan Tukhun Kakhai tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman di Aceh Singkil.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































