SLEMAN – Di saat banyak tradisi lokal mulai ditinggalkan, masyarakat Padukuhan Jetissumur, Kelurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, masih konsisten menyelenggarakan Upacara Adat Becekan sebagai warisan budaya yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi. Tradisi tahunan yang dipusatkan di kawasan sumur tua ini tidak hanya menjadi bagian dari adat masyarakat, tetapi juga melibatkan seluruh warga dalam rangkaian kegiatan mulai dari gotong royong, prosesi adat, hingga kenduri bersama.
Upacara Adat Becekan dilaksanakan di sekitar sumber air atau sumur yang berada di tengah Padukuhan Jetissumur. Berdasarkan keterangan narasumber, sumur tersebut sejak dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat karena tidak pernah mengalami kekeringan dan mampu memenuhi kebutuhan air beberapa padukuhan di sekitarnya. Keberadaan sumur tersebut kemudian menjadi pusat pelaksanaan tradisi Becekan yang tetap dipertahankan hingga sekarang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan gotong royong membersihkan dan menghias lingkungan sebagai bentuk persiapan pelaksanaan upacara. Masyarakat kemudian melaksanakan tirakatan dan doa bersama, dilanjutkan dengan pengambilan air suci sebagai bagian dari prosesi sebelum memasuki pelaksanaan upacara adat.
Pada prosesi inti, masyarakat menyiapkan hidangan becek yang berasal dari olahan daging kambing. Seluruh proses penyembelihan kambing, pengulitan, pemotongan daging, pengolahan bumbu, memasak, hingga penyajian dilakukan oleh kaum laki-laki di dalam kawasan sumur sesuai ketentuan adat yang masih dilestarikan. Kaum perempuan tidak diperkenankan memasuki area pagar sumur selama prosesi berlangsung.

Hidangan becek kemudian disajikan bersama berbagai kelengkapan kenduri, antara lain tumpeng nasi gurih, ingkung ayam kampung, nasi golong, beberapa jenis jenang, tumpeng robyong, jajan pasar, dan gunungan hasil bumi. Setelah prosesi selesai, masyarakat mengikuti kenduri bersama sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur.
Selain menjadi rangkaian prosesi adat, Upacara Adat Becekan juga mengandung berbagai nilai yang terus dijaga oleh masyarakat Padukuhan Jetissumur. Narasumber menjelaskan bahwa istilah Becekan berasal dari kata becek yang bermakna tempat yang selalu mengandung air atau tetap basah. Makna tersebut menjadi simbol harapan agar sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat tetap lestari dan tidak pernah kering.
Nilai kebersamaan juga tercermin dalam pelaksanaan kenduri setelah prosesi selesai. Seluruh warga menikmati hidangan secara bersama-sama tanpa membedakan jabatan, status sosial, maupun tingkat ekonomi. Hidangan disajikan menggunakan daun pisang dan peralatan tradisional sebagai bentuk pemanfaatan potensi alam sekaligus mempertahankan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.

Berbagai perlengkapan yang digunakan dalam upacara adat juga memiliki makna tersendiri. Takir yang terbuat dari daun pisang dimaknai sebagai ajakan untuk menata hati dan mengendalikan diri. Sementara itu, tumpeng melambangkan hubungan manusia dengan sesama serta hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan nasi golong menjadi simbol kebulatan tekad dan persatuan masyarakat dalam menjaga kebersamaan.
Menurut narasumber, masyarakat tetap melaksanakan Upacara Adat Becekan bukan karena meyakini adanya kekuatan tertentu pada tempat tersebut, melainkan sebagai bentuk pelestarian warisan budaya yang mengandung banyak ajaran tentang kebersamaan dan kehidupan bermasyarakat. Atas dasar itu, sejak tahun 2012 pelaksanaan Becekan mulai dikemas dengan kirab budaya agar lebih menarik bagi generasi muda tanpa menghilangkan prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Selain prosesi adat, penyelenggaraan Upacara Adat Becekan juga dikemas dengan kirab budaya dan pentas seni yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Menurut narasumber, pengemasan tersebut mulai dilakukan sejak tahun 2012 sebagai upaya mempertahankan tradisi agar tetap dikenal oleh generasi muda tanpa mengubah pelaksanaan upacara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan Upacara Adat Becekan menjadi salah satu potensi budaya Padukuhan Jetissumur yang terus dijaga oleh masyarakat. Melalui keterlibatan warga dalam setiap rangkaian kegiatan, tradisi ini diharapkan tetap lestari sekaligus menjadi identitas budaya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Oleh: Nuri Salsa Bella Ramadani, Mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































