Jakarta — BEM Pesantren Seluruh Indonesia menyatakan sikap menolak gerakan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) apabila gerakan tersebut berpotensi memperkeruh suasana dan mengganggu stabilitas masyarakat serta menyatakan tidak terlibat dalam aksi tersebut. BEM Pesantren mendorong masyarakat, khususnya generasi muda dan santri, agar senantiasa mengedepankan etika, kesantunan, serta nilai-nilai keislaman dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik.
Penyampaian pendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral, etika sosial, dan penghormatan terhadap hak masyarakat lain.
“Dalam perspektif Islam, menyampaikan kritik dan mengingatkan penguasa merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, tetapi harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan tidak menimbulkan kemudaratan.” Ujar Ahmad Tomy Wijaya
BEM Pesantren Seluruh Indonesia melalui Koordinator Pusat memandang bahwa tradisi pesantren memiliki nilai penting yang dapat menjadi pedoman dalam membangun budaya demokrasi yang sehat. Pesantren tidak hanya mengajarkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran, tetapi juga membentuk karakter melalui adab, kesabaran, tawadhu, tabayun, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Kritik Boleh Keras, Cara Tetap Beradab
Dalam menyampaikan aspirasi, substansi kritik tidak harus kehilangan ketegasan. Namun, cara menyampaikannya harus tetap mencerminkan akhlak dan budaya santun. Demonstrasi hendaknya tidak berubah menjadi tindakan anarkis, perusakan fasilitas umum, provokasi, ataupun tindakan yang merugikan masyarakat.
Prinsip tersebut sejalan dengan nilai Islam yang menempatkan kemaslahatan sebagai salah satu tujuan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Aspirasi yang disampaikan dengan niat memperbaiki keadaan akan lebih bermakna apabila dilakukan secara tertib, damai, dan bertanggung jawab.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia juga mengajak para santri, mahasiswa dan generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Semangat tabayun perlu dikedepankan agar setiap gerakan sosial dibangun berdasarkan informasi.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia menegaskan bahwa santri memiliki posisi strategis dalam menjaga keseimbangan antara keberanian bersuara dan keteladanan dalam bersikap. Santri harus berani menyampaikan kebenaran, tetapi tetap menjaga adab. Santri boleh kritis, tetapi tidak kehilangan kesantunan. Santri boleh berbeda pandangan, tetapi tetap menjaga persaudaraan.
Semangat tersebut menjadi penting di tengah dinamika sosial dan politik yang semakin cepat. Ruang publik membutuhkan generasi yang tidak hanya lantang menyuarakan aspirasi, tetapi juga memiliki kedalaman moral dan kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa.
“Dari pesantren kita belajar bahwa menyampaikan kebenaran membutuhkan keberanian, tetapi menjaga adab membutuhkan kebijaksanaan. Demokrasi harus menghadirkan kebebasan bersuara sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan,” pungkas Tomy.
Pada akhirnya, BEM Pesantren Seluruh Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan ruang demokrasi sebagai ruang pendidikan publik, bukan arena permusuhan. Aspirasi harus disampaikan dengan akal sehat, hati yang jernih, adab yang baik, dan semangat menjaga persatuan bangsa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































