Pasuruan — Ejekan antarteman sering kali dianggap sebagai candaan biasa. Namun, bagaimana jika candaan tersebut membuat seorang anak takut, malu, memilih menyendiri, bahkan enggan datang ke sekolah?
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerah (KKN-P) Kelompok 27 saat menggelar edukasi “Stop Bullying di Sekolah” bagi siswa SDN 1 Tosari, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6, kegiatan tersebut tidak sekadar mengenalkan istilah bullying. Para siswa diajak memahami situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari mengejek teman, memberikan julukan yang tidak disukai, mengucilkan, memukul, hingga menyebarkan cerita tentang teman melalui media digital.
Salah satu pesan utama yang disampaikan kepada siswa adalah keberanian untuk mengatakan “tidak” terhadap bullying.
Bercanda atau Menyakiti?
Dalam sesi edukasi, mahasiswa mengajak siswa memahami bahwa tidak semua tindakan yang disebut “bercanda” benar-benar menjadi candaan bagi orang yang menerimanya.
Bercanda seharusnya membuat semua teman merasa senang, tidak bertujuan menyakiti, tidak dilakukan terus-menerus, dan tidak membuat seseorang merasa takut atau malu.
Sebaliknya, bullying merupakan tindakan menyakiti orang lain yang dilakukan dengan sengaja dan berulang. Tindakan tersebut dapat membuat korban merasa sedih, takut, malu, maupun tidak nyaman.
Mahasiswa KKN-P 27 juga mengenalkan empat bentuk bullying kepada para siswa.
Pertama, bullying fisik, seperti memukul, menendang, atau melakukan tindakan kekerasan fisik lainnya.
Kedua, bullying verbal, misalnya mengejek, memaki, menghina, mempermalukan, memberikan julukan yang tidak disukai, hingga menyebarkan gosip.
Ketiga, bullying sosial, seperti sengaja mengucilkan teman, tidak mengajak bermain, mendiamkan, atau membuat seseorang dijauhi teman-temannya.
Keempat, cyberbullying, yaitu tindakan menyakiti melalui media digital, seperti mengirim pesan yang menyakitkan, mengejek melalui media sosial, atau menyebarkan sesuatu tentang teman melalui internet.
Materi tersebut diberikan dengan bahasa sederhana agar siswa dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang mungkin mereka temui di sekolah maupun lingkungan pertemanan.
Bullying Bisa Membuat Anak Takut ke Sekolah
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa dampak bullying tidak berhenti pada rasa sedih sesaat.
Anak yang mengalami bullying dapat merasa kecewa dan menangis, kehilangan kepercayaan diri, menjauh dari orang lain, merasa takut dan cemas, hingga mengalami kesulitan belajar karena tidak nyaman berada di sekolah.
Siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah tanda yang perlu diperhatikan ketika seorang teman mungkin mengalami bullying.
Di antaranya menjadi lebih pendiam dan sulit berkonsentrasi, sering menyendiri dan terlihat sedih, takut pergi ke sekolah, hingga memiliki luka atau memar.
Dengan mengenali tanda tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga lebih peka terhadap kondisi teman di sekitarnya.
Jangan Jadi Penonton
Pesan penting lainnya dalam kegiatan tersebut adalah mengajak siswa untuk tidak menjadi penonton ketika bullying terjadi.
Apabila melihat temannya disakiti, diejek, atau dihina, siswa diajak untuk tidak ikut tertawa, tidak merekam kejadian, serta tidak menyebarkannya kepada orang lain.
Sebaliknya, siswa dapat menemani korban agar tidak merasa sendirian, mengajaknya menuju tempat yang aman, serta melapor kepada guru apabila tindakan tersebut terus berlangsung.
Sementara bagi siswa yang mengalami bullying, mahasiswa memberikan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan, yakni berani berkata “tidak” atau “berhenti”, menjauh menuju tempat yang aman, mencari teman yang dapat dipercaya, serta menceritakan kejadian kepada orang dewasa.
Guru Soroti Pentingnya Edukasi Sejak Dini
Kegiatan edukasi tersebut mendapat respons dari pihak sekolah. Menurut Pak Riko, Wali Kelas 2, memberikan pemahaman mengenai bullying sejak sekolah dasar penting karena sejumlah perilaku yang dianggap bercanda oleh anak sebenarnya dapat menyakiti temannya.
”Dampaknya sangat bagus dan mendukung program pemerintah. Kalau untuk perilaku bullying sekarang insyaAllah sudah tidak ada, sudah ada peningkatan perilaku sekitar 98 persen dibandingkan dulu,” ujar Pak Riko selaku perwakilan pihak sekolah
Ia menilai kegiatan seperti ini dapat membantu siswa lebih memahami perasaan temannya dan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.
Siswa Mulai Paham Batas Bercanda
Pemahaman mengenai batas antara bercanda dan bullying juga menjadi salah satu hal yang dapat digali langsung dari siswa setelah kegiatan berlangsung.
Rafael, siswa kelas 6, mengatakan bahwa dirinya kini lebih memahami tindakan apa saja yang dapat membuat teman merasa tidak nyaman.
“Saya Ketika di bully merasa sedih dan Ketika membully teman merasa tidak enakan dan kasihan. Jadi Ketika berteman harus rukun dan berkeluarga,” katanya.
Jawaban sederhana dari siswa tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa edukasi anti-bullying bukan hanya tentang memperkenalkan sebuah istilah, tetapi membantu anak menentukan sikap ketika berhadapan dengan persoalan nyata di lingkungan sekolah.
Mulai dari Saling Menghargai
Pada akhir kegiatan, Mahasiswa KKN-P Kelompok 27 mengajak siswa membangun lingkungan sekolah yang aman melalui kebiasaan sederhana.
Siswa didorong untuk saling menghargai, saling membantu, tidak mengejek teman, bermain bersama tanpa mengucilkan, serta lebih peduli terhadap perasaan orang lain.
Pesan yang dibawa pun sederhana: menjadi anak yang baik tidak cukup hanya dengan tidak melakukan bullying. Anak-anak juga perlu berani membantu ketika melihat teman diperlakukan tidak baik.
Melalui program edukasi tersebut, Mahasiswa KKN-P Kelompok 27 berharap siswa SDN 1 Tosari semakin mampu mengenali bullying, berani berkata “tidak” terhadap tindakan yang menyakiti, serta ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan menyenangkan.
Sebab, sekolah yang nyaman dapat dimulai dari hal sederhana: tidak mengejek, tidak mengucilkan, berani membantu, dan saling menghargai.
Penulis: Anggota KKN-P 27
Dokumentasi: KKN-P Kelompok 27
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































