Di negeri dengan garis pantai puluhan ribu kilometer, selancar (surfing) telah lama menjadi lebih dari sekedar olahraga air. Ia menjadi penanda identitas nasional Australia. Sejak perenang asal Hawaii, Duke Kahanamoku, memperkenalkan gaya berselancar di Sydney pada 1914-1915, budaya ini tumbuh melintasi kelas sosial, melahirkan kosakata dan gaya hidup tersendiri, hingga masuk ke dalam sastra. Salah satu penulis yang paling dalam menangkapnya adalah Tim Winton, novelis asal Australia Barat, lewat kumpulan cerita pendeknya, The Turning (2004).
Colleen McGloin (2006) menyebut selancar arus utama di Australia sebagai praktik budaya yang diterima sebagai bagian identitas nasional, menandai perpindahan simbol bangsa dari bush (pedalaman) ke pantai. Titik baliknya terjadi pada 1960-an.
Materi edukasi Australian Broadcasting Corporation mencatat bahwa setelah musik rock dan konsep remaja masuk pada 1950-an, papan selancar melahirkan subkultur anak muda yang memberi rasa identitas, kebebasan, dan pemberontakan.
Arsip National Film and Sound Archive mencatat bahwa anggota klub penyelamat pantai yang lebih tua menyita papan yang melintas ke area berenang dan berusaha mewajibkan izin untuk papan selancar.

Untuk melihat budaya ini dari sudut pandang generasi muda, penulis mewawancarai tiga narasumber. Shafira Alfadri menyebut bahwa karena pantai sudah menjadi bagian penting dari “kehidupan masyarakat Australia, surfing akhirnya bukan hanya dianggap sebagai olahraga, tetapi juga bagian dari kehidupan dan budaya mereka.”
Aqilah Humaidi menyoroti peran komunitas: “orang-orang bisa bertemu, berlatih, dan menghabiskan waktu bersama melalui surfing, sehingga budaya ini terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.”
Anisah Desmalia Putri menilai surfing berkembang karena didukung “kondisi alam dan gaya hidup masyarakatnya”, yakni garis pantai yang panjang, ombak yang bagus, dan iklim hangat hampir sepanjang tahun. Menurutnya, budaya ini bertahan lewat keluarga, komunitas, sekolah surfing, industri peralatan dan pariwisata, kompetisi internasional, serta media sosial yang membuat surfing dikenal anak muda.

Perubahan makna itulah yang kemudian direkam sastra. The Turning adalah kumpulan tujuh belas cerita pendek yang saling terkait, berlatar kota nelayan Angelus di Australia Barat, wilayah tempat Winton tumbuh besar.
Cerita pembuka, “Big World”, mengisahkan dua remaja, sang narator dan sahabatnya Biggie, yang gagal dalam ujian akhir sekolah dan terjebak bekerja di tempat pemotongan daging. Demi lepas dari kejenuhan Angelus, keduanya menyusuri pantai dengan Volkswagen Kombi tua.
Selancar tidak hadir sebagai adegan di atas ombak, melainkan sebagai atmosfer. Kombi, kendaraan yang lekat dengan citra “surf van” (mobil selancar), jalan raya, pantai, bahkan esai tentang bubarnya Led Zeppelin yang ditulis sang narator untuk Biggie, membentuk dunia remaja yang mendambakan kebebasan.
Namun kebebasan itu tidak gratis. Kehadiran Meg, perempuan yang mereka temui di tengah perjalanan, menguji persahabatan keduanya, dan nada getir cerita diperkuat petunjuk bahwa Biggie kelak meninggal muda.
Budaya selancar tampil lebih gamblang dalam novel Breath (2008), peraih Miles Franklin Award, penghargaan sastra paling bergengsi di Australia. Bruce Pikelet, kini paramedis dewasa, mengenang masa remajanya di kota kecil Australia awal 1970-an. Bersama sahabatnya, Loonie, ia berguru pada peselancar senior yang misterius, Sando.

Ada mentor yang mewariskan keterampilan dan filosofi, ada pula dorongan mengejar ombak yang kian besar. Sando membawa anak-anak itu ke terumbu terpencil dan perairan yang kerap dihuni hiu untuk menguji batas keberanian dan daya tahan mereka.
Namun Winton tidak sekedar memuja selancar. Bruce mulai ragu ke mana semua ini berujung, sementara Loonie menginginkan sensasi yang kian besar. Novel ini memperlihatkan sisi gelap budaya yang mengagungkan resiko, kebebasan dapat berubah menjadi kecerobohan, dan keberanian dapat menjadi jebakan.
Judul Breath (napas) pun bermakna ganda, yakni kemampuan menahan napas di bawah ombak sekaligus batas antara hidup dan mati yang terus diuji para tokohnya. Citra selancar sebagai simbol bangsa juga tidak lepas dari kritik. McGloin (2006) mencatat bahwa peselancar Aborigin menawarkan pandangan berbeda tentang pantai dan tanah leluhur, pengingat bahwa jiwa Australia di pantai tidak pernah tunggal.
Bagi pembaca Indonesia, yang juga tinggal di negeri kepulauan dengan budaya pantai yang kaya, karya Winton terasa dekat. Kita punya komunitas peselancar di Mentawai, Bali, atau Krui, dan cerita tentang anak-anak pesisir yang akrab dengan ombak. Kerinduan akan kebebasan, beserta resiko yang menyertainya, bukan hanya milik Australia.
Lewat Breath dan “Big World”, Winton menampilkan selancar sebagai ruang tumbuh, ujian keberanian, sekaligus peringatan akan bahaya obsesi. Sastra membantu kita memahami budaya sebuah bangsa dari sisi yang paling manusiawi.
Referensi
Australian Broadcasting Corporation. (n.d.). Four Corners: Surf culture hits Australia in the 1960s. ABC Education. https://www.abc.net.au/education/four-corners-surf-culture-hits-australia-in-the-1960s/13664110
Booth, D. (2001). Australian beach cultures: The history of sun, sand and surf. Frank Cass.
McGloin, C. (2006). Aboriginal surfing: Reinstating culture and country. https://www.researchgate.net/publication/268516256_Aboriginal_Surfing_Reinstating_Culture_and_Country
National Film and Sound Archive of Australia. (n.d.). A history of surfing and surf movies in Australia. https://www.nfsa.gov.au/latest/history-surfing-and-surf-movies-australia
Winton, T. (2004). The Turning. Picador.
Winton, T. (2008). Breath. Penguin Books Australia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































