Di zaman digital sekarang, feed media sosial sekaranng seperti TikTok dan Instagram dipenuhi dengan konten-konten tentang gaya hidup hemat. Narasi yang sering dilihatkan menunjukkan bagaiamana anak muda dari Generasi Z (Gen Z) memotong pengeluaran biaya harian secara ekstrem, memasak sendiri dirumah, menghindari kopi mahal, hingga menolak lifestyls inflation demi mencapai kebebasan financial freedom diusia muda.
Tapi, di balik daya tarik visual konten video penghematan itu, muncul sebuah pertanyaan penting dari sudut pandang manajemen keuangan: Apakah frugal visual ini merupakan strategi dan solusi keuangan yang efektif untuk Gen Z atau hanya sekedar tren media sosial saja?
Pilihan untuk menerapkan gaya hidup hemat di kalangan Gen Z tidak muncul hanya karena fad gaya, tetapi sebagai respons terhadap tekanan ekonomi yang semakin berat. Penelitian dari GoodStats menunjukkan bahwa 59% Generasi Z di Indonesia memilih hidup hemat sebagai cara untuk bertahan. Gaya hidup frugal pada Gen Z tidak hanya gimik media sosial, melainkan pendekatan finansial yang logis dan nyata, selama tidak disalah pahami sebagai tindakan pelit yang merugikan kualitas hidup.
Secara mendasar, frugal living memberikan kendali atas aliran arus kas melalui kesadaran dalam berbelanja. Generasi Z saat ini menghadapi kenyataan ketimpangan yang mencolok, kenaikan gaji untuk posisi awal tidak pernah sebanding dengan lonjakan harga properti dan inflasi bahan pokok. Selain itu, kemudahan dalam menggunakan fitur Buy Now Pay Later (BNPL) dan pinjaman online terus mengintai.
Di tengah kondisi ini, hidup hemat berfungsi sebagai rem darurat. Penelitian dari UIN Syarif Hidayatullah menunjukkan bahwa gaya hidup ini efektif dalam mengembangkan kebiasann anti konsumtif, sehingga mengurangi kecemasan terkait keuangan. Dengan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, sisa dana yang ada bisa langsung dialokasikan untuk membangun dana darurat dan investasi yang produktif di pasar keuangan.
Namun, terdapat risiko tersembunyi ketika media sosial membaurkan antara hidup hemat dan hidup serba murah. Banyak konten yang memuja penghematan anggaran secara ekstrem, seperti mengurangi porsi makan bergizi atau menunda pengobatan demi tabungan.
Edukasi dari Telkom University yang mengingatkan bahwa hidup serba murah justru dapat menimbulkan ancaman kesehatan dan menurunnya kualitas hidup di masa depan, yang pada akhirnya menjadi beban finansial baru. Selain itu, seperti yang ditekankan oleh analisis strategi pemasaran Hasanuddin Ali, berhemat tanpa adanya peningkatan pendapatan (income growth) hanyalah perangkap kompresi ekonomi. Hemat memang berarti mengurangi pengeluaran, tetapi pengembangan kapasitas diri yang meningkatkan kesejahteraan.
Sejumlah pengamat kritis berpendapat bahwa meningkatnya frugal living dapat menekan tingkat konsumsi domestik yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi negara. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga keliru dalam memahami intinya. Frugal living tidak bertujuan untuk mengehentikan peredaran uang, melainkan untuk mengubah arah pemberian uang tersebut. Dari yang tadinya konsumtif untuk membeli barang sekali pakai, dialihkan menjadi investasi aset, tabungan bank, dan sektor produktif lainnya. Sebagaimana yang dicatat oleh Kompas Money, inti dari gaya hidup ini adalah tentang kesadaran akan batas cukup dan ketahanan finansial dalam jangka panjang.
Frugal living pada akhirnya merefleksikan bagaimana Generasi Z beradaptasi dengan tantangan ekonomi yang ada. Ini telah menjadi cara yang nyata untuk menciptakan stabilitas keuangan, asalkan dilakukan dengan kebijaksanaan dan tidak tenggelam dalam romantika hidup dengan segala kesulitan hanya untuk mendapatkan konten.
Masa depan keuangan bagi Gen Z tidak ditentukan oleh seberapa keras mereka menahan diri dari makanan atau menghindari kopi di akhir pekan, tetapi lebih pada kemampuan mereka dalam menyeimbangkan pengeluaran efisien saat ini dengan peningkatan potensi pendapatan dimasa depan.
Edis Disma Febriyanti dismaedis@gmail.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































