“Srrt… srtt…” adalah suara wajib yang terdengar ketika ingin keluar rumah. Ya, beberapa semprot dari parfum yang disemprot ke pakaian atau tubuh! Menurut Pohan dan Sinaga (2020), parfum adalah wewangian berbentuk cairan yang diperoleh dari ekstrak tumbuh-tumbuhan atau hewan yang memberikan aroma wangi. Parfum adalah kebutuhan esensial bagi banyak orang. Pasalnya, wangi yang dihasilkan oleh parfum dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang dan dapat menjadi ciri khas seseorang untuk dikenali (Pohan & Sinaga, 2020). Di era modern, parfum hadir dalam beragam jenis dan aroma yang dapat disesuaikan dengan selera, gaya hidup, maupun kebutuhan setiap individu. Variasi yang ditawarkan di pasaran pun semakin luas, bahkan dirancang untuk menjangkau berbagai rentang usia konsumen.
Walaupun hampir semua orang menggunakan parfum dalam kesehariannya, namun hanya sedikit yang tahu akan bahan-bahan yang terkandung dalam parfum. Di balik wanginya yang memikat setiap orang, parfum memiliki bahaya yang sering kita tidak sadari. Bahaya-bahaya tersebut muncul dari bahan-bahan yang digunakan pada parfum. Berikut adalah daftar 6 bahan pada parfum yang berisiko menimbulkan bahaya kesehatan manusia:
1. Phthalates
Phthalates contohnya seperti diethyl phthalate (DEP) adalah salah satu bahan parfum yang digunakan untuk membuat aroma tahan lama. Namun, dibalik manfaatnya tersebut, DEP adalah zat iritan bagi mata, kulit, dan saluran pernapasan. DEP juga dapat menyebakan terganggunya endokrin dan telah dikaitkan dengan toksisitas sistem reproduksi dan saraf (Primadina, 2021).
2. Fragrance
Fragrance adalah istilah yang digunakan untuk mewakili kombinasi beberapa zat untuk menciptakan aroma khas pada parfum. Masalahnya, penggunaan istilah fragrance pada label komposisi parfum tidak dapat merinci semua campuran zat yang digunakan. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran seperti adanya kombinasi dari bahan-bahan yang memicu lergi, iritasi kulit, dan sakit kepala. Beberapa komponennya juga dapat bersifat toksik atau karsinogenik.
3. Paraben
Paraben pada parfum digunakan sebagai zat pengawet untuk mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri (Simanjuntak, 2025). Paraben dalam penggunaanya dibatasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2015 tentang persyaratan teknis bahan pengawet, batas maksimal 0,14% untuk paraben tunggal dan 0,8% untuk paraben campuran. Penggunaan paraben yang berlebih dapat menyebabkan iritasi pada kulit atau alergi dan dapat memicu kanker payudara (Effendy, 2022).
4. Benzena dan turunannya
Benzena dikenal sebagai salah satu zat karsinogen atau pemicu kanker (Adji, 2017). Dalam industri parfum, senyawa aromatik seperti benzena dan toluena bisa muncul sebagai jejak dari pelarut berbasis petroleum. Karena keduanya berasal dari minyak bumi dan mudah menguap, sisa-sisanya kadang masih terbawa jika proses pemurnian pelarut tidak sempurna (Qothrunnada & Rahayu, 2021). Paparan benzena dalam jangka panjang dapat memengaruhi kerja sumsum tulang, sistem pernapasan, hingga meningkatkan risiko leukemia (Pudyoko, 2010). Meski biasanya jumlahnya sangat kecil, keberadaan benzena tetap perlu diwaspadai karena sifat toksiknya yang kuat.
5. Musk sintetis
Musk sintetis adalah bahan pewangi yang meniru aroma musk alami, ini dilakukan karena musk alami harganya mahal dan langka. Sebagai informasi, musk alami terbuat dari rusa sintetis, namun karena fakta bahwa rusa-rusa tersebut terancam punah, industri pun mulai beralih ke versi sintetis. Bahan utama dari musk sintetis adalah musk ketone, minyak biji ambrette, galaxolide, velvione, dan cashmeran (Ethan, 2025). Human Toxome Project melaporkan bahwa musk ketone dapat mengiritasi kulit, berpotensi mengganggu sistem hormon, serta terkait dengan gangguan reproduksi pada paparan tinggi. Studi laboratorium juga menunjukkan bahwa senyawa ini dapat memicu pertumbuhan sel kanker payudara, meski buktinya pada manusia masih terbatas.
Minyak biji ambrette yang sudah dimurnikan umumnya aman dipakai, karena versi lamanya dulu bisa mengandung senyawa yang bikin kulit sensitif terhadap cahaya (Honestdocs Editorial Team, 2019). Human Toxome Project melaporkan galaxolide masih banyak dipakai sebagai bahan pewangi, tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini bisa menumpuk di lingkungan dan mungkin punya efek kecil terhadap hormon, jadi penggunaannya terus diawasi. Velvione termasuk jenis musk yang paling aman, dengan risiko iritasi yang sangat rendah (Vigon, 2019). Sementara itu, cashmeran juga dianggap cukup aman, meski pada sebagian kecil orang bisa menyebabkan alergi ringan (Enviromental Working Group)
6. Ethanol berkadar tinggi
Menurut Ginting et al. (2021) ethanol pada parfum dapat digunakan sebagai pelarut. Ethanol dengan kadar tinggi (umumnya di atas 90%) sangat efektif melarutkan bahan aroma. Menurut National Center for Biotechnology Information (2023), ethanol adalah senyawa alkohol yang sangat mudah menguap dan dapat bertindak sebagai iritan pada jaringan tubuh bila kontak berlebihan. Dalam konteks parfum, sifat penguapan cepat ini membuat ethanol umumnya aman, tetapi dapat menyebabkan kulit terasa lebih kering atau perih pada sebagian orang yang memiliki kulit sensitif. Selain itu, berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi saya, bau alkohol yang terlalu kuat juga bisa memicu rasa pusing pada sebagian orang sebelum aroma parfum “settle” di kulit.
Lalu, apakah parfum aman? Jawabannya, aman. Selama kandungannya masih dalam batas yang diizinkan regulasi, tidak mengandung bahan berbahaya yang dilarang, serta digunakan sesuai dosis normal pada kulit. Namun, perlu diingat bahwa setiap orang memiliki tingkat sensitivitas kulit dan penciuman yang berbeda-beda. Bahan yang terasa nyaman bagi satu orang bisa saja menimbulkan reaksi ringan pada orang lain, dan itu wajar. Karena itu, memahami kandungan parfum bukan untuk membuat kita panik, tetapi agar kita lebih paham apa yang cocok bagi tubuh kita. Jangan lupa untuk selalu mengecek label dan daftar komposisi sebelum membeli, serta memastikan produk tersebut tersertifikasi BPOM dan tidak mengandung bahan yang memicu alergi pada diri Anda.
Untuk penggunaan pertama kali, sebaiknya lakukan patch test sebelum menggunakannya ke seluruh tubuh dengan cara mengoleskan sedikit produk pada area kulit yang sensitif namun tersembunyi, seperti bagian dalam pergelangan tangan atau siku, kemudian biarkan selama 24 jam. Jika tidak muncul reaksi seperti kemerahan, gatal, atau rasa terbakar, produk dapat dianggap aman untuk digunakan pada area tubuh yang lebih luas. Selain itu, pastikan menyemprot parfum pada jarak aman sekitar 15–20 cm dari kulit untuk meminimalkan risiko iritasi dan menjaga agar uapnya tidak terlalu pekat saat terhirup, sehingga lebih aman bagi pernapasan.
Jadi, cintailah diri Anda dengan memulai dari hal-hal kecil termasuk lebih teliti saat memilih parfum. Bagikan juga informasi ini kepada orang-orang terdekat agar mereka ikut lebih sadar dan bijak. Semoga hidup Anda selalu harum dan menyenangkan, layaknya parfum favorit Anda. Aamiin!
DAFTAR PUSTAKA
Adji, A. (2017). Analisis Risiko Pajanan Benzena Terhadap Kesehatan Pekerja Bahan Kimia Di Perusahaan Minyak Dan Gas Bumi PT. A. IDENTIFIKASI, 3(2), 1-20.
Effendy, N. A. F. (2022). Dampak Pengawet Paraben Terhadap Kesehatan Manusia: Literature Review. Jurnal Penelitian Dan Kajian Ilmiah Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada Mataram, 8(2), 76-82.
Environmental Working Group. (n.d.). Cashmeran. EWG Skin Deep Database.
Ethan. (2025, Juni 22). Temukan rahasia membuat aroma musk sintetis terbaik Anda sendiri. HONG JI TANG.
Ginting, Z., Ishak, I., & Ilyas, M. (2021). Analisa kandungan Patchouli alcohol dalam formulasi sediaan minyak nilam Aceh Utara (Pogostemon Cablin Benth) sebagai zat pengikat pada parfum (Eau De Toilette). Jurnal Teknologi Kimia Unimal, 10(1), 12-23.
Honestdocs Editorial Team. (2019, Mei 14). Ambrette: Informasi manfaat dan cara kerja. Honestdocs.
Human Toxome Project (n.d.). Galaxolide. Human Toxome Project.
Human Toxome Project. (n.d.). Musk ketone. Human Toxome Project.
National Center for Biotechnology Information. (2023). Ethanol toxicity. In StatPearls. StatPearls Publishing.
Pohan, H., & Sinaga, D. E. (2020). Penerapan Metode Moora Dalam Menentukan Parfume Terbaik Berdasarkan Kepribadian. KESATRIA J. Penerapan Sist. Inf.(Komputer Manajemen), 1(2), 59-63.
Primadina, N. (2021). Parfum Atsiri: Manfaat dan Kelebihan vs Parfum Sintetik: Potensi Bahaya untuk Kesehatan. Minyak Atsiri: Produksi dan Aplikasinya untuk Kesehatan, 122-141.
PUDYOKO, S. (2010). Hubungan Pajanan Benzene dengan Kadar Fenol dalam Urine dan Gangguan Sistem Hematopoietic pada Pekerja Instalasi BBM (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS DIPONEGORO).
QOTHRUNNADA, S. A. A., & RAHAYU, H. M. (2021). Pra Rancangan Pabrik Benzena Dari Toluena Dan Hidrogen Dengan Proses Hidrodealkilasi Kapasitas 165.000 Ton/Tahun.
SIMANJUNTAK, E. Y. (2025). FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN DEODORAN SPRAY EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L. Less) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Medan).
Vigon International, Inc. (2019). Velvione® Safety Data Sheet (Version 02).
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































