pernah nggak sih kamu tiba tiba suka sama teman satu organisasi padahal sebelumnya kamu ga pernah notice dia sama sekali? Atau kamu tiba-tiba suka sama film yang sebelumnya ga menarik tapi karna sering lewat di FYP media sosial kamu seperti TikTok, Instagram atau youtube, kamu jadi suka sama filmnya dan akhirnya jadi film favorit kamu. Ternyata dalam psikologi fenomena ini disebut Mere Exposure Effect, yang mana fenomena ini terjadi Ketika meningkatnya kecenderungan seseorang terhadap suatu hal dikarnakan sering berinteraksi atau melihat hal tersebut.
Sejarah Mere Exposure Effect
Mere Exposure Effect dicetuskan oleh Robert Zajonc di tahun 1968, beliau menyatakan bahwa seseorang cenderung lebih menyukai hal hal yang sering ia temui dibandingkan dengan yang belum pernah ia temui. Hal ini dibuktikan melalui eksperimen percobaannya dimana Zajonc memperlihatkan suatu stimulus terhadap partisipan, lalu ia menanyakan pandangan mereka terhadap stimulus tersebut, dan setelah itu ia akan menunjukkan stimulus tersebut secara berulang kali dengan durasi yang berbeda, contohnya pada saat ia mengekspos sebuah tulisan bergaya tiongkok kepada partisipan yang tidak bisa berbahasa mandarin dan setelah dipaparkan berulang kali terbukti bahwa partisipan eksperimennya menunjukkan reaksi yang baik. Prinsip ini juga berlaku di antara hubungan antara manusia dengan manusia lainnya yang mana kita cenderung lebih nyaman berinteraksi dengan seseorang yang kita kenal daripada orang asing.
Bagaimana Mere Exposure Effect bisa terjadi?
Efek ini terjadi Ketika ada stimulus asing pertama kali masuk ke dalam otak, khususnya di amygdala bagian yang berperan penting dalam menyimpan memori, mendeteksi bahaya, dan juga rasa takut. Ketika ada stimulus asing yang masuk ke dalam otak maka amygdala akan langsung mengaktifkan respon bahaya berupa perasaan waspada dan skeptis karna menganggap hal baru sebagai ancaman oleh karna itu terkadang kita merasa kurang suka saat mengahadapi hal yang belum dikenal. Lalu setelah kita sering berinteraksi dan melihat, maka pusat reward otak atau nucleus accumbens mulai aktif karena stimulus tersebut dianggap sudah familiar dan “aman”, hal ini memicu pelepasan dopamine yang meningkatkan rasa nyaman. proses ini terjadi di alam bawah sadar dengan prefrontal cortex yang kurang aktif, sehingga efeknya di perkuat oleh sinapsis penguatan antar neutron tanpa kita sadari. Tetapi Zajonc juga menjelaskan bahwa overexposure atau paparan berlebihan terhadap suatu hal bisa membuat kita bosan atau benci terhadap hal tersebut.
contoh Mere Exposure Effect di kehidupan sehari-hari
fenomena Mere Exposure Effect sering terjadi di kehidupan kita loh, mulai dari lagu yang awalnya biasa aja tapi karena teman kamu sering dengerin lagu itu kamu juga jadi ikutan suka sama lagu itu, ada juga orang yang awalnya musuhan banget sering berantem terus tiba tiba saling jatuh cinta.
fenomena ini juga dimanfaatkan oleh beberapa Perusahaan sebagai Teknik marketing seperti iklan di billboard, TV, feed Ig, dan TikTok. Iklan-iklan tersebut buat orang yang melihatnya jadi tertarik buat beli karna udah keliatan familiar.
Mere Exposure Effect kadang juga terjadi dengan makanan yang kita konsumsi, seperti awalnya seseorang tidak menyukai americano karena rasanya terlalu pahit, tapi dikarenakan sedang diet, saat craving pengen minum kopi seseorang tersebut terpaksa minum americano karena americano tidak mengandung gula sama sekali. karna sudah terbiasa memesan americano kopi tersebut rasanya jadi biasa aja dan akhirnya malah jadi minuman favorit karna otak udah familiar sama rasanya.
Dampak Mere Exposure Effect
fenomena ini memiliki beberapa dampak dalam kehidupan sehari-hari, baik positif ataupun negatif. Dampak positifnya seperti meningkatkan loyalitas konsumen terhadap suatu produk melalui iklan baik di media sosial ataupun billboard, efek ini juga meningkatkan hubungan sosial di lingkungan organisasi, sekolah ataupun kantor. Serta efek ini juga bisa membantu memperkuat tren seperti gaya berpakaian karena semakin sering kita melihat tren berpakaian maka semakin kita menyukainya dan timbul rasa ingin mencoba menggunakannya.
Namun, Mere Exposure Effect juga memiliki beberapa dampak negatif seperti membuat kita menjadi takut untuk mencoba hal-hal yang belum pernah kita coba sebelumnya karena sudah terlalu nyaman dengan kebiaasaaan lama, efek ini juga terkadang disalahgunakan oleh kalangan tertentu untuk mebuat branding palsu terhadap produk atau propaganda politik.
Kesimpulan
Mere Exposure Effect adalah fenomena psikologis di mana seseorang cenderung menyukai sesuatu setelah melihat atau berinteraksi langsung secara intens. Efek ini terjadi ketika otak menghubungkan paparan berulang dengan sesuatu yang aman, sehingga kita mulai menyukai hal-hal yang sering kita lihat atau alami tanpa sadar. Fenomena ini mampu mempererat hubungan sosial, memperkuat tren fashion, dan meningkatkan loyalitas konsumen melalui iklan, namun fenomena ini berisiko menimbulkan hambatan terhadap hal baru karena terlalu nyaman terhadap sesuatu sehingga enggan untuk mencoba hal lain.
Daftar Pustaka
Psikogenesis. (2022, December 8). Mere-exposure effect: Risalah hati – Dewa 19.
Ruggieri, S., & Boca, S. (2013). At the roots of product placement: The mere exposure effect. Europe’s Journal of Psychology.
The Decision Lab. (n.d.). Mere exposure effect.
Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Institute for Social Research, University of Michigan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































