Suatu sore, seorang ibu di komplek perumahan saya mengeluhkan perubahan perilaku anaknya yang kini duduk di bangku SMA. “Dulu dia nurut, sekarang sering membantah. Main HP terus, kalau dinasihati malah bilang ‘itu kan perspektif mama’,” ujarnya. Apa yang dialami ibu tersebut bukanlah kasus tunggal, melainkan potret umum dinamika keluarga di era Generasi Z.
Generasi Z tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dibanding orang tua mereka. Internet, media sosial, dan arus globalisasi membentuk cara berpikir yang lebih terbuka, kritis, dan ekspresif. Bahkan, survei dari Pew Research Center menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga remaja telah menggunakan teknologi seperti AI atau chatbot, dan sebagian di antaranya memanfaatkannya untuk mendapatkan dukungan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa ruang interaksi dan pencarian solusi bagi Gen Z kini semakin luas, tidak lagi terbatas pada keluarga.
Sosiologi keluarga membantu kita memahami bahwa keluarga bukan hanya hubungan biologis, melainkan sistem sosial yang dinamis. Dalam sistem ini, setiap anggota memiliki peran, nilai, dan pola interaksi yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Ketika orang tua tidak memahami perubahan ini, konflik menjadi hal yang sulit dihindari.
Sebagai contoh, banyak orang tua menganggap penggunaan media sosial sebagai bentuk “kecanduan” semata. Padahal, bagi anak Gen Z, media sosial juga menjadi ruang bersosialisasi, mengekspresikan diri, bahkan mencari dukungan emosional. Tanpa pemahaman ini, orang tua cenderung merespons dengan larangan keras, yang justru memperlebar jarak dengan anak.
Contoh lain dapat dilihat pada pola komunikasi. Di banyak keluarga, orang tua masih menerapkan pola komunikasi satu arah dimana anak harus patuh tanpa banyak bertanya. Namun, Gen Z terbiasa dengan budaya diskusi dan keterbukaan. Ketika suara mereka tidak didengar, mereka bisa merasa tidak dihargai, yang berdampak pada kesehatan mental dan hubungan keluarga.
Dampak dari kurangnya pemahaman ini tidak hanya berhenti pada konflik rumah tangga. Dalam jangka panjang, hubungan keluarga yang tidak harmonis dapat memengaruhi kesejahteraan sosial. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan berisiko mengalami stres, kecemasan, hingga kesulitan dalam membangun relasi sosial di masyarakat.
Sebaliknya, orang tua yang memahami sosiologi keluarga cenderung lebih adaptif. Mereka tidak hanya melihat perilaku anak dari sudut pandang “benar atau salah”, tetapi juga memahami latar belakang sosial yang memengaruhinya. Misalnya, alih-alih langsung melarang penggunaan gawai, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang batasan waktu dan konten yang sehat.
Di beberapa komunitas perkotaan, mulai muncul kelas parenting berbasis pendekatan sosiologi. Dalam kelas ini, orang tua diajak memahami perubahan struktur keluarga, peran gender, hingga dampak teknologi terhadap interaksi sosial. Hasilnya, banyak orang tua mengaku lebih mampu membangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak.
Kesejahteraan sosial sendiri tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga mencakup kualitas hubungan, rasa aman, dan kesehatan mental dalam keluarga. Ketika keluarga mampu menjadi ruang yang suportif, maka individu di dalamnya akan tumbuh lebih stabil dan produktif, yang pada akhirnya berdampak pada masyarakat secara luas.
Namun, masih ada anggapan bahwa ilmu seperti sosiologi keluarga terlalu “teoretis” dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Padahal, justru sebaliknya, pemahaman ini sangat praktis dan dapat menjadi panduan dalam menghadapi tantangan nyata dalam keluarga modern.
Dengan demikian, mengenal sosiologi keluarga bukan sekadar kebutuhan akademis, tetapi kebutuhan praktis bagi orang tua Gen Z. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, kemampuan untuk memahami dan beradaptasi menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan keluarga sekaligus mewujudkan kesejahteraan sosial. Bukan lagi “perlu atau tidak”, melainkan “siap atau tidak” orang tua belajar memahami dunia anak-anaknya.
Oleh:Tessalonika Christmas
NIM:250902039
Program Studi:Ilmu Kesejahteraan Sosial
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































