pendekatan integratif ilmu pengetahuan islam dan umum.
“manusia berasal dari kera”
empat kata itu sudah sering kali masuk ke telinga kita dan sudah cukup untuk memicu perang ideologi yang gak ada ujungnya. perdebatan tentang asal-usul manusia bukan hanya sekedar diskusi akademis, tapi juga pertarungan ideologi yang bisa mengoyak pemahaman kita tentang eksistensi. Di satu sisi, sains memberikan narasi evolusi yang didukung oleh temuan kasus-kasus fosil, genetika, dan seleksi alam, dan melukiskan kita sebagai puncak dari proses miliaran tahun yang acak dan bertahap. yang mana hasil tersebut berdiri dan didukung dengan adanya bukti empiris dan teori evolusinya yang terus berkembang.
Namun di sisi lain, agama juga berdiri dengan penuh keyakinan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki makna dan tujuan ilahi yang tidak bisa digoyahkan oleh data-data ilmiah. Apalagi sebagaimana yang sudah kita ketahui dan kita Yakini, bahwa dalil-dalil wahyu itu sudah pasti benar dan gak perlu lagi kita ragukan.
Sampai akhirnya banyak kasus-kasus seperti ini yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, yang lagi-lagi membuat kita kadang yakin tapi kadang malah jadi ragu lagi. Jadi sebenarnya asal-usul terciptanya manusia itu gimana sih? Seriusan berawal dari kera kah? Atau memang dari tanah?
Balik lagi, Pertentangan ini bukan hanya soal fakta, tapi merupakan benturan keyakinan yang menguji batas toleransi antara rasionalitas dan keimanan. Maka apakah kita harus memilih salah satu diantara kedua hal ini? Atau, apakah ilmu pengetahuan dengan tuntutan bukti empirisnya secara otomatis mengalahkan kebenaran spiritual yang hanya bisa dijangkau oleh iman? Atau bahkan dalil wahyu tersebut juga bisa menghasilkan data yang juga masuk akal?
Dengan adannya klaim bahwa sains dan agama tidak dapat berdamai, telah menjadi dogma modern yang amat sangat berbahaya. Maka dengan ini, kita tidak hanya sekedar mengulang argument usang tentang fosil atau kitab suci. Tapi sebaliknya, kita akan menyikapi dan menyelami implikasi dari kedua pandangan ini terhadap Masyarakat modern agar Masyarakat dapat lebih paham mengenai asal-usul tercipta nya manusia di bumi ini.
Pertama kita akan mengulik dari perspektif Charles Darwin yang memaparkan konsep ini dalam bukunya “On the Origin of Species” (1859), kemudian secara khusus membahas evolusi manusia dalam “The Descent of Man” (1871). Dalam pandangan Darwin, manusia berevolusi dari nenek moyang yang sama dengan kera, melalui proses yang sangat panjang dan kompleks. Darwin menjelaskan bahwa makhluk hidup berkembang melalui mekanisme seleksi alam, di mana individu dengan sifat yang lebih sesuai dengan lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Melalui pewarisan sifat ini, populasi makhluk hidup mengalami perubahan secara bertahap dari generasi ke generasi, hingga akhirnya menjadi bentuk yang kita kenal sekarang, termasuk manusia.
Singkatnya, manusia tidak berasal langsung dari kera modern, melainkan keduanya memiliki nenek moyang yang sama yang hidup di masa lalu, dan dari garis keturunan nenek moyang inilah manusia berevolusi secara bertahap hingga terbentuk sempurna seperti manusia-manusia sekarang.
Teori evolusi ini selalu berusaha untuk menemukan sandaran bukti pendapat mereka itu, sehingga mereka mencoba menemukannya melalui berbagai percobaan ilmiah dan beberapa penelitian tentang gen keturunan. Hingga pada tahun 1952 muncul percobaan Stanley Miller di Universitas Chicago. Ia memulainya dengan mencampurkakn unsur gas sederhana – yang ia percayai sebagai unsur yang menguasai bumi sebelum adanya kehidupan di atasnya – kemudian ia meletakkan campuran ini ke dalam wadah air, lalu ia panaskan dengan aliran Listrik. Kemudian setelah seminggu, ternyata campuran yang berisikan asam belerang tersebut sama dengan yang ada pada sel tubuh manusia. Yang kemudian para pendukung teori Darwin ini semakin bersemangat untuk menyatakan bahwa percobaan Miller ini telah menunjukkan munculnya kehidupan. Akan tetapi, akhirnya penelitian tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil seperti yang mereka bayangkan.
Kedua, penciptaan asal-usul manusia menurut perspektif islam (wahyu).
Dalam perspektif Islam, asal usul manusia diawali dengan penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam AS, yang diciptakan langsung oleh Allah SWT dari saripati tanah atau unsur bumi. Kemudian al-qur’an juga menjelaskan penciptaan melalui tahapan biologis yang dimulai dari nutfah (setetes air mani), yang kemudian berkembang menjadi ‘alaqah (segumpal darah), mudghah (segumpal daging), dan akhirnya menjadi manusia sempurna. Tahapan ini dijelaskan dalam Surat Al-Mukminun ayat 12-14. Ayat tersebut menjelaskan bahwa proses (tahapan) penciptaan manusia melibatkan tanah (kerak bumi) sebagai bahan dasar, penyempurnaan dan proses pembentukan, yang kemudian ditiupkannya ruh oleh Allah SWT. Berdasarkan unsur-unsur dan partikel-partikel yang ditemukan didalam tanah, diduga bahwa tanah yang dipakai sebagai bahan dasar penciptaan manusia adalah tanah liat. Unsur-unsur yang dimiliki tanah liat yang juga dimiliki oleh manusia diantaranya adalah silikat, oksigen, alumunium, asam karbon, asam amino, air dan sebagainya.
Misal, unsur-unsur yang dimiliki oleh asam karbon mempunyai sifat dan kegunaan yang spesifik dalam mendukung metabolisme tubuh manusia. Asam amino memiliki fungsi yang ga kalah penting bagi tubuh manusia yaitu sebagai penyusun protein dalam tubuh. Makhluk hidup 70% nya adalah Air. Air berperan dalam membantu melarutkan berbagai nutrient dan mengalirkannya ke seluruh tubuh, dan membantu mengeluarkan pembuangan proses metabolisme didalam tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian pada abad ke-20 yang menunjukkan bahwa tubuh manusia juga tersusun dari suatu zat yang ditemukan didalam tanah yang disebut sebagai karbon. Air yang dipakai sebagai bahan pemberi bentuk tubuh manusia dengan tanah liat diduga berasal dari air tawar manupun air laut. Air tawar merupakan suatu pelarut yang baik, sedangkan air laut merupakan air yang mengandung kadar garam yang berperan sebagai elektrolit dalam membantu transport natrium dan kalium di dalam tubuh manusia.
Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil penelitian pada abad ke-20 yang menggambarkan perbandingan komposisi kimia yang terkandung di dalam tubuh manusia dengan air laut dan kerak bumi, seperti yang tercantum ditabel berikut,
Tubuh Manusia Air Laut Kerak Bumi
H 63 H 66 O 47
O 25,5 O 33 Si 28
C 9,5 CI 0,33 AI 7,9
N 1,4 Na 0,28 Fe 4,5
Ca 0,31 Mg 0,33 Ca 3,5
P 0,22 S 0,017 Na 2,5
Cl 0,03 Ca 0,006 K 2,5
K 0,06 K 0,006 Mg 2,2
S 0,05 C 0,0014 Ti 0,46
Na 0,03 Br 0,0005 H 0,22
Mg 0,01 Lainnya < 0,1 C 0,19
Lainnya <0,01 Lainnya < 0,1
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa air laut merupakan bagian dari kerak bumi. Keduanya secara Bersama-sama membentuk komposisi kimia penyusun tubuh manusia.
Surat Al-Mu’minun ayat 12 dalam penafsiran klasik menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari suatu sari pati yang berasal dari tanah. Ayat ini merujuk kepada asal-usul manusia, yaitu Nabi Adam, yang diciptakan dari tanah. Keturunan Adam, yakni seluruh manusia, juga berasal dari saripati tersebut yang kemudian mengalami proses transformasi menjadi air mani yang tidak dapat dipisahkan dari rahim ibu sebagai tempat yang kokoh untuk berkembang.
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَةٍ مِّنۡ طِيۡنٍ ۚ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
ثُمَّ جَعَلۡنٰهُ نُطۡفَةً فِىۡ قَرَارٍ مَّكِيۡن
“Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَۗ
“Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Surat Al-Mu’minun ayat 12-14 menjelaskan tahapan penciptaan manusia secara bertahap dari asal mula hingga menjadi manusia sempurna. Para mufassir klasik dan kontemporer menafsirkan ayat-ayat ini sebagai rangkaian proses penciptaan yang komprehensif dan terperinci:
Pertama, Ayat 12 menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari “sari pati tanah” (sulalah min thiin), yaitu bahan asal manusia dari tanah, yang merujuk kepada Nabi Adam dan keturunannya. Ini adalah titik awal penciptaan manusia yang berasal dari bahan sederhana.
Kedua, ayat 13 menaikkan proses selanjutnya, yaitu saripati tersebut dijadikan “nutfah” atau air mani yang disimpan dalam “qarari makin” yaitu tempat yang kokoh dalam rahim ibu. Tempat ini menjadi wadah yang aman untuk perkembangan janin.
Ketiga, Ayat 14 menggambarkan perkembangan air mani itu menjadi “alaqah” (segumpal darah), lalu menjadi “mudghah” (segumpal daging), kemudian dibentuk menjadi tulang-belulang yang diselubungi daging. Setelah tahap ini, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk lain yang sempurna dengan tiupan ruh ke dalamnya.
Penafsiran dari ayat-ayat ini menampilkan gambaran tahapan penciptaan manusia yang detail dan berurutan, mulai dari asal sari pati tanah, menjadi air mani dalam rahim, kemudian perubahan embrio sampai menjadi manusia sempurna dengan ruh. Para mufassir seperti Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, dan Al-Muyassar menekankan bahwa rangkaian ini menunjukkan kebesaran dan kesempurnaan ciptaan Allah dan mengajak manusia untuk mensyukuri proses ini yang terjadi dengan kehendak-Nya. Selain itu, tafsir ini juga mengandung pelajaran tentang kuasa Allah dalam penciptaan dan pemeliharaan manusia sejak awal hingga akhir kehidupannya.
Kesimpulannya, teori Darwin menegaskan bahwa manusia merupakan hasil evolusi biologis yang panjang, berasal dari nenek moyang yang sama dengan kera, melalui mekanisme seleksi alam yang bersifat alamiah dan acak. Menurut teori ini, manusia bukan makhluk yang diciptakan secara langsung, melainkan hasil transformasi bertahap yang terjadi selama jutaan tahun tanpa campur tangan langsung dari kekuatan Ilahi.
Sebaliknya, Alquran menggambarkan proses penciptaan manusia dalam urutan biologis yang detail mulai dari sari pati tanah, menjadi air mani, segumpal darah, segumpal daging, hingga pembentukan tulang-belulang yang dilapisi daging, dan akhirnya manusia yang sempurna dengan tiupan ruh. Hal ini menunjukkan bahwa sementara manusia pertama diciptakan secara khusus dan unik yang berasal dari tanah, proses keturunan manusia berlangsung melalui mekanisme biologis yang jelas dan berurutan sesuai dengan proses embriologi yang sudah kita pahami bersama.
Hal ini menunjukkan bahwa sementara manusia pertama diciptakan secara khusus yang berasal dari tanah yang kemudian setalah penciptaan pertama meregenerasi keturunan setelahnya dengan proses emriologi, yang berproses dari air (mani)- segumpal darah-segumpal daging- tulang belulang (yang dilapisi oleh daging), proses keturunan manusia berlangsung melalui mekanisme biologis yang jelas dan berurutan yang sangat sesuai dengan urutan yang telah allah jelaskan di dalam al-qur’an.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”



































































