Surabaya — Konsep bela negara kini tak lagi identik dengan mengangkat senjata. Di era modern, membela bangsa bisa dimulai dari hal sederhana: memilih produk lokal saat berbelanja.
Gagasan ini mengemuka dalam kajian yang dilakukan Muhammad Arman Yulianto, mahasiswa Informatika Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur, yang menyoroti peran masyarakat dalam menjaga kedaulatan ekonomi nasional melalui apa yang ia sebut sebagai “Patriotisme Ekonomi.”
“Spektrum ancaman telah bergeser dari ancaman militer konvensional menjadi ancaman multidimensi, termasuk di bidang ekonomi,” tulis Arman dalam kajiannya.
UMKM: Tulang Punggung yang Perlu Dilindungi
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, gempuran produk impor dan arus globalisasi terus mengancam keberlangsungan pelaku usaha lokal.
Arman menekankan bahwa ketika seseorang memilih membeli sepatu buatan Cibaduyut ketimbang merek impor, atau membeli kopi dari petani lokal, ia sejatinya sedang menyelamatkan devisa negara.
“Setiap rupiah yang dibelanjakan untuk produk lokal akan berputar di dalam negeri, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan sesama warga negara,” jelasnya.
Pandangan ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2022 yang menetapkan percepatan penggunaan produk dalam negeri sebagai prioritas nasional.
Generasi Muda Jadi “Tentara Digital”
Di era digital, generasi muda memiliki peran krusial sebagai apa yang disebut Arman sebagai “tentara digital” dalam membela produk bangsa. Mahasiswa atau konten kreator yang mengulas produk UMKM secara jujur dan menarik di media sosial, menurutnya, sedang melakukan diplomasi ekonomi.
Penggunaan tagar seperti #BanggaBuatanIndonesia dalam setiap unggahan disebut sebagai senjata ampuh untuk meningkatkan kesediaan masyarakat membeli produk lokal sekaligus menaikkan citra produk Indonesia di mata dunia.
“Literasi digital yang diarahkan untuk promosi produk lokal merupakan bentuk perlawanan terhadap arus informasi yang seringkali lebih mengagung-agungkan produk luar negeri,” tegas Arman.
Gotong Royong Ekonomi
Nilai rela berkorban dalam konteks ekonomi juga bisa diwujudkan secara sederhana—membantu mempromosikan dagangan teman atau tetangga tanpa meminta imbalan. Sikap gotong royong ini dipercaya mampu memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat agar tidak mudah goyah oleh krisis global.
“Dalam konteks ekonomi kerakyatan, setiap warga negara adalah aktor pertahanan yang bertugas menjaga kedaulatan pasar domestik,” pungkas Arman.
Dengan membeli produk lokal, mempromosikan UMKM, dan menanamkan kebanggaan pada karya anak bangsa, masyarakat telah menjalankan amanat konstitusi untuk membela negara—dimulai dari keranjang belanja masing-masing.
Penulis: Muhammad Arman Yulianto
Mahasiswa Informatika UPN “Veteran” Jawa Timur
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































