Belakangan ini, kita sering mendengar seruan untuk berhenti menggunakan sedotan plastik, membawa tas belanja sendiri, hingga memilah sampah dari rumah. Langkah-langkah ini memang mulia dan penting bagi kelestarian bumi. Namun, di balik semangat aksi lingkungan tersebut, ada fenomena psikologis yang diam-diam tumbuh subur di kalangan generasi muda: eco-anxiety atau kecemasan iklim.
Eco-anxiety bukanlah gangguan jiwa, melainkan respons emosional yang sangat masuk akal terhadap krisis lingkungan yang kian nyata. Banyak anak muda merasa kewalahan saat melihat berita tentang pemanasan global, kebakaran hutan, hingga kepunahan spesies. Perasaan “dunia sedang tidak baik-baik saja” ini memicu rasa takut akan masa depan yang tidak pasti, yang seringkali tidak disadari oleh generasi di atasnya.
Bagi banyak anak muda, kecemasan ini bukan sekadar ketakutan tentang lingkungan yang rusak, melainkan tentang nasib hidup mereka sendiri. Mereka membayangkan masa depan di mana sumber daya alam menipis dan bencana alam menjadi tamu rutin. Rasa cemas ini kemudian bercampur dengan perasaan tidak berdaya, karena mereka merasa kontribusi individu mereka—seperti membawa botol minum sendiri—terasa sangat kecil dibandingkan skala kerusakan global.
Seringkali, orang dewasa menganggap kegelisahan ini sebagai bentuk “drama” atau sekadar ikut-ikutan tren. Padahal, mengabaikan perasaan ini justru membuat beban mental generasi muda semakin berat. Ketika mereka mencoba bicara soal keresahan iklim, mereka sering dipatahkan dengan kalimat “kamu masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu,” yang justru memicu rasa terasing dan frustrasi.
Untuk mengatasi ini, kita perlu menyadari bahwa menjaga bumi tidak harus dilakukan dengan memikul beban dunia sendirian. Eco-anxiety sering muncul karena kita merasa harus menjadi pahlawan super yang harus memperbaiki segalanya. Padahal, kunci utama untuk bertahan adalah dengan menyadari batasan diri dan fokus pada apa yang bisa kita kontrol di lingkungan terdekat.
Salah satu cara efektif adalah dengan mengubah fokus dari “kecemasan” menjadi “aksi kolektif”. Bergabung dengan komunitas atau kelompok yang memiliki visi serupa dapat membantu mengurangi rasa terasing.
Berinteraksi dengan orang-orang yang juga peduli akan membuat kita merasa tidak sendirian dalam perjuangan ini, sehingga energi negatif bisa disalurkan menjadi kegiatan yang lebih konstruktif.
Selain itu, penting bagi kita untuk sesekali “berpuasa” dari informasi. Memantau berita buruk tentang lingkungan sepanjang waktu hanya akan menguras kesehatan mental. Mengambil jeda untuk kembali ke alam, menikmati udara segar tanpa memikirkan data statistik kerusakan iklim, adalah cara sederhana untuk menenangkan sistem saraf dan mengembalikan keseimbangan emosional.
Kita juga perlu berhenti menuntut kesempurnaan pada diri sendiri dalam hal gaya hidup berkelanjutan. Menjadi ramah lingkungan adalah sebuah proses, bukan perlombaan untuk siapa yang paling minim menghasilkan sampah. Jika hari ini kita masih sesekali menggunakan plastik, itu tidak membuat kita gagal atau munafik. Belas kasih pada diri sendiri (self-compassion) adalah kunci agar kita bisa bertahan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, bumi membutuhkan orang-orang yang sehat secara mental untuk bisa merawatnya. Mengatasi eco-anxiety bukan berarti kita berhenti peduli, justru sebaliknya; ini tentang memastikan bahwa api kepedulian kita tidak padam karena kelelahan. Mari kita mulai melihat bahwa menjaga bumi adalah tentang menjaga warisan kehidupan, dimulai dari ketenangan jiwa kita sendiri.
Nama: Gendis kesya tri diva
tgl lahir : 05-05-2007
Mahasiswa Uin Raden Intan Lampung,semester 2
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































