Di zaman modernasi, banyak tradisi lokal ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan kehidupan di dunia ini. Namun, tidak semua tradisi terpengaruh oleh hal ini. Di beberapa daerah, tradisi masih dipertahankan karena masih memiliki makna penting bagi masyarakat.
Salah satunya adalah tradisi Peusijuek yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Lhokseumawe, Aceh.
Tradisi ini bukan hanya kebiasaan, tetapi juga simbol doa, harapan, dan kebersamaan dalam kehidupan sosial. Tradisi Peusijuek adalah kebiasaan yang terkenal di Aceh. Kebiasaan ini dilakukan pada semua momen penting dalam kehidupan seseorang. Terlepas dari perubahan zaman yang terus-menerus, masyarakat masih mempertahankan tradisi ini karena mereka percaya bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai spiritual dan komunal yang kuat. Hal ini mencerminkan fakta bahwa nilai-nilai budaya dilestarikan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Berdasarkan wawancara dengan Cut Assyifa (17), yang tinggal di Jalan Darussalam, Hagu Selatan, Lhokseumawe, tradisi ini masih cukup umum di lingkungannya. Ketika ditanya apakah ada tradisi di daerah tersebut, dia menyatakan,
“Masih ada, disini masih ada satu tradisi yang masih sering dilakukan.”
Selanjutnya, ketika ditanya tentang tradisi yang dimaksud, ia menjelaskan bahwa tradisi tersebut adalah Peusijuek. Tradisi ini biasanya dilakukan pada beberapa acara tertentu seperti ketika kehamilan mencapai usia tujuh bulan. Hal ini terlihat dari pernyataan,
“Tradisi itu biasa terdapat di beberapa acara tertentu, contohnya seperti acara Peusijuek7 bulanan.”
Upacara Peusijuek dilakukan ketika seorang wanita hamil dan kehamilannya telah mencapai tujuh bulan. Pada saat itu, keluarga akan mengadakan acara sebagai ucapan syukur dan doa untuk keselamatan ibu dan bayi.
Dalam suasana hangat, keluarga dan teman-teman berkumpul untuk memberikan penghiburan moral dan spiritual. Di samping itu, tradisi Peusijuek juga memiliki manfaat yang cukup besar.Dalam wawancara tersebut narasumber (Cut Asyifa) mengatakan,
“Itu adalah suatu tradisi seperti syukuran untuk mendoakan bayi dan Ibunya agar di beri keselamatan, kesehatan dan juga mempererat silahturrahmi antar keluarga.”
Dari pernyataan ini, dapat disimpulkan bahwa Peusijuek tidak semata-mata bersifat religius, namun juga sebagai media perekat hubungan kekeluargaan. Meskipun Peusijuek terlihat sederhana, namun terdapat suatu makna yang mendalam. Di dalamnya terdapat doa, rasa syukur, dan harapan untuk kebaikan bersama.
Tradisi ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa, di semua tahapan kehidupan, manusia bergantung pada dukungan orang-orang di sekitarnya.
Peusijuek bukan hanya sebuah adat, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tradisi Peusijuek masih memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas berkah yang diterima, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antar keluarga. Karena itu, tradisi ini harus dilestarikan agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak punah seiring berjalannya waktu, serta tetap dapat dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tradisi ini tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Oleh: Gizka Tria Adiba
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































