Pernah menemukan lowongan kerja yang terdengar menarik, tetapi setelah diterima justru menemukan pekerjaan yang jauh berbeda? Jabatan yang awalnya disebut sebagai pekerjaan strategis ternyata lebih banyak diisi tugas administratif. Pekerjaan yang disebut memiliki jam kerja fleksibel ternyata menuntut lembur cukup sering. Bahkan, peluang pengembangan karir yang tertunda saat wawancara terkadang tidak terlihat setelah seseorang mulai bekerja.
Kondisi seperti ini menunjukkan adanya kesenjangan antara informasi dalam proses rekrutmen dan kenyataan di tempat kerja. Dalam dunia ketenagakerjaan, fenomena tersebut sering disebut sebagai career catfishing atau job bait-and-switch , yaitu ketika gambaran mengenai pekerjaan yang disampaikan kepada calon karyawan ternyata berbeda secara signifikan dari pekerjaan yang mereka jalani setelah bergabung.
Ketika Ekspektasi Bertemu Realita
Istilah career catfishing merupakan pengembangan dari istilah catfishing yang lebih dulu dikenal di dunia digital. Jika catfishing menggambarkan penggunaan identitas atau yang tidak sesuai kenyataan, dalam konteks karier istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan ketidaksesuaian antara informasi pekerjaan yang ditawarkan dan kondisi sebenarnya.
Misalnya, sebuah lowongan menawarkan posisi sebagai Marketing Executive dengan fokus pada strategi pemasaran digital, pembuatan kampanye, dan pengembangan konten. Namun setelah diterima, karyawan justru lebih banyak mengerjakan pekerjaan administrasi, menangani pelanggan, membuat laporan, atau menjalankan tugas lain yang sebelumnya tidak dijelaskan secara jelas.
Tidak semua perubahan tugas otomatis berarti perusahaan melakukan penipuan. Dalam praktiknya, kebutuhan bisnis dapat berubah dan tanggung jawab suatu posisi dapat berkembang.
Masalah muncul ketika perbedaan tersebut terlalu besar dan informasi penting mengenai pekerjaan sengaja tidak disampaikan sejak awal.
Fenomena Ini Bukan Sekadar Cerita di Media Sosial
Sejumlah survei internasional menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara lowongan dan pekerjaan sebenarnya bukanlah masalah yang jarang terjadi.
Laporan Resume Genius 2026 yang diberitakan Forbes menyebutkan bahwa 64% dari 1.500 manajer perekrutan di Amerika Serikat yang disurvei mengakui perusahaan mereka pernah memberikan informasi yang tidak sesuai mengenai suatu posisi atau proses rekrutmen. Bentuk yang paling banyak disebut adalah mengecilkan tingkat kesulitan pekerjaan atau kondisi lingkungan tim, yaitu sebesar 32%. Sebanyak 29% lainnya mengatakan kandidat pernah mendapatkan informasi mengenai jadwal proses rekrutmen yang tidak akurat.
Dalam survei lain terhadap lebih dari 1.000 pekerja AS yang dilakukan untuk ResumeBuilder.com, 18% responden mengatakan pekerjaan mereka telah berubah secara signifikan atau bahkan sepenuhnya berbeda dari pekerjaan yang kira-kira akan mereka lakukan ketika direkrut. Sekitar 20% juga mengatakan ekspektasi pekerjaan sehari-hari sering kali tidak jelas atau sulit diprediksi.
Sementara itu, penelitian ThriveMap yang melibatkan 1.000 pencari kerja di Inggris menemukan bahwa 75% responden pernah mengalami apa yang disebut sebagai “job catfishing”. Dari kelompok tersebut, 60% mengatakan mereka meninggalkan pekerjaan lebih cepat dari yang direncanakan. Ketidaksesuaian yang paling sering terjadi adalah tanggung jawab pekerjaan, yaitu 67%, kemudian lingkungan kerja sebesar 49%, dan gaji atau tunjangan sebesar 31%.
Temuan lain dari survei MyPerfectResume terhadap 1.000 pekerja juga menunjukkan masalah serupa. Workplace Journal melaporkan bahwa 65% responden pernah menerima pekerjaan yang menyampaikan pesan berbeda dari deskripsi awalnya. Sebanyak 78% mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk meninggalkan perusahaan pada tahun pertama jika pekerjaan tersebut ternyata jauh berbeda dari yang dijelaskan.
Angka-angka tersebut memang berasal dari survei di Amerika Serikat dan Inggris sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kondisi seluruh pekerja Indonesia. Namun data tersebut menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara ekspektasi kandidat dan kenyataan pekerjaan merupakan persoalan yang mendapat perhatian dalam praktik rekrutmen modern.
Mengapa Lowongan Bisa Berbeda dari Kenyataan?
Ada beberapa alasan mengapa informasi dalam lowongan kerja tidak selalu menggambarkan pekerjaan sebenarnya.
Pertama, deskripsi pekerjaan dibuat terlalu umum. Kalimat seperti “mengerjakan tugas lain sesuai kebutuhan perusahaan”, “mampu bekerja di bawah tekanan”, atau “bersedia melakukan pekerjaan multitasking” memang terdengar biasa. Namun, tanpa penjelasan lebih lanjut, kandidat sulit mengetahui seberapa besar tanggung jawab tambahan yang sebenarnya akan diberikan.
Kedua, perusahaan dapat terlalu menonjolkan sisi pekerjaan yang positif. Budaya kerja yang mendukung, peluang berkembang, lingkungan dinamis, dan peningkatan karir sering menjadi bagian dari Employer Branding . Hal tersebut tidak masalah menjadi selama informasi yang diberikan tetap sesuai dengan kondisi nyata.
Ketiga, kebutuhan perusahaan dapat berubah setelah proses rekrutmen berlangsung. Posisi yang awalnya dirancang untuk satu kebutuhan bisa berkembang menjadi posisi dengan tanggung jawab yang berbeda. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi menjadi penting agar karyawan mengetahui perubahan tersebut.
Keempat, terdapat praktik yang dikenal sebagai bait-and-switch , ketika informasi mengenai suatu pekerjaan dibuat sangat menarik untuk mendapatkan kandidat, tetapi setelah kandidat bergabung, kondisi atau tanggung jawab yang diterima ternyata berbeda.
Ada pula permasalahan ghost jobs , yaitu lowongan yang dipasang meskipun posisi tersebut belum tentu benar-benar tersedia atau proses persyaratannya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, fenomena ghost jobs berbeda dengan career catfishing karena persoalannya bukan semata-mata mengubah pekerjaan setelah seseorang diterima.
Dampaknya Tidak Berhenti pada Rasa Kecewa
Ketidaksesuaian antara pekerjaan yang dijanjikan dan pekerjaan yang diterima dapat mempengaruhi hubungan antara karyawan dan perusahaan.
Ketika seseorang menerima pekerjaan berdasarkan informasi tertentu, ia secara tidak langsung membangun ekspektasi mengenai tanggung jawab, lingkungan kerja, beban kerja, maupun perkembangan karier. Ketika kenyataannya ternyata sangat berbeda, rasa percaya terhadap perusahaan dapat menurun.
Forbes misalnya kondisi tersebut dengan konsep pelanggaran kontrak psikologis , yaitu ketika karyawan merasa perusahaan tidak memenuhi ekspektasi atau janji yang terbentuk selama proses jangka panjang. Dampaknya dapat berupa menurunnya kepercayaan, kepuasan kerja, komitmen, hingga meningkatnya keinginan untuk mencari pekerjaan lain.
Bagi perusahaan, konsekuensinya juga tidak sederhana. Karyawan yang merasa salah memilih pekerjaan dapat lebih cepat mengundurkan diri. Perusahaan kemudian harus kembali mencari kandidat, melakukan proses seleksi, memberikan pelatihan, dan menyesuaikan kembali pekerjaan yang kosong.
Dengan kata lain, informasi yang tidak akurat mungkin membantu perusahaan mendapatkan lebih banyak pelamar dalam jangka pendek, tetapi dapat menciptakan masalah retensi dalam jangka panjang.
Pencari Kerja Juga Perlu Menjadi Lebih Kritis
Di tengah persaingan mendapatkan pekerjaan, pencari kerja sering berada dalam posisi yang membutuhkan pekerjaan secepat mungkin. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang menerima informasi lowongan penggalian tanpa lebih jauh.
Padahal, proses wawancara seharusnya tidak hanya menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk menilai kandidat. Kandidat juga memiliki kesempatan untuk menilai perusahaan.
Pertanyaan sederhana dapat membantu memperjelas kondisi pekerjaan, misalnya:
1. Seperti apa kegiatan sehari-hari untuk posisi ini?
2. Apa tanggung jawab utama dan tanggung jawab tambahannya?
3. Seberapa sering pekerjaan di luar deskripsi pekerjaan diberikan?
4. Apa alasan posisi ini dibuka?
5. Bagaimana ukuran keberhasilan posisi ini selama tiga sampai enam bulan pertama?
6. Bagaimana kondisi lembur dan jam kerja ketika pekerjaan sedang padat?
7. Bagaimana bentuk evaluasi dan peluang pengembangan karir?
Semakin spesifik pertanyaannya, semakin besar kemungkinan kandidat mendapatkan gambaran mengenai pekerjaan yang sebenarnya.
Pencari kerja juga sebaiknya membandingkan informasi dari beberapa sumber. Deskripsi di situs lowongan dapat dibandingkan dengan informasi di situs resmi perusahaan, media sosial perusahaan, maupun informasi yang disampaikan langsung oleh perekrut.
Kementerian Ketenagakerjaan sendiri mengimbau pencari kerja untuk memeriksa legalitas perusahaan dan melakukan verifikasi melalui kanal resmi perusahaan. Kemnaker juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengeluarkan biaya dalam proses mendapatkan pekerjaan dan menyediakan saluran pelaporan untuk dugaan pekerjaan palsu.
Saat ini, Pusat Pasar Kerja Indonesia (Pasker ID) milik Kemnaker juga menyediakan layanan informasi pasar kerja serta kanal “Lapor Loker” untuk pelaporan dugaan lowongan kerja palsu.
Perusahaan Perlu Menjual Pekerjaan Apa Adanya
Pada akhirnya, transparansi bukan hanya tanggung jawab pencari kerja. Perusahaan juga memiliki peran besar dalam menciptakan proses rekrutmen yang sehat.
Deskripsi pekerjaan sebaiknya tidak hanya dibuat untuk menarik sebanyak mungkin pelamar, tetapi juga menggambarkan pekerjaan yang benar-benar akan dilakukan. Jika posisi memerlukan multitasking, pekerjaan administratif, target tertentu, shift kerja, atau kemungkinan lembur pada kondisi tertentu, informasi tersebut sebaiknya disampaikan sejak awal.
Perusahaan juga perlu memastikan bahwa perekrut, manajer perekrutan, dan calon atasan memiliki pemahaman yang sama mengenai posisi yang ditawarkan. Perbedaan informasi antara perekrut dan calon atasan dapat membuat kandidat mendapatkan gambaran pekerjaan yang berbeda-beda selama proses seleksi.
Pada akhirnya, tujuan rekrutmen bukan sekedar mendapatkan kandidat yang bersedia menerima pekerjaan. Tujuannya adalah menemukan orang yang memang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan memahami pekerjaan yang akan dijalankan.
Kejujuran dalam Rekrutmen adalah Investasi Jangka Panjang
Lowongan kerja pada dasarnya merupakan pintu pertama bagi seseorang untuk memperkenalkan sebuah perusahaan. Jika informasi yang diberikan sejak awal sudah tidak sesuai dengan kenyataan, kepercayaan dapat hilang bahkan sebelum hubungan kerja berkembang.
Fenomena career catfishing menunjukkan bahwa persoalan rekrutmen bukan hanya tentang bagaimana perusahaan mendapatkan kandidat, tetapi juga bagaimana perusahaan membangun ekspektasi yang realistis.
Pencari kerja memang perlu lebih kritis dalam membaca lowongan dan menggali informasi selama wawancara. Namun, perusahaan juga perlu memahami bahwa transparansi tidak berarti membuat lowongan menjadi kurang menarik. Justru dengan menjelaskan pekerjaan secara apa adanya, perusahaan dapat menarik kandidat yang benar-benar memahami tantangan posisi tersebut.
Pada akhirnya, kandidat tidak selalu membutuhkan pekerjaan yang terlihat sempurna. Mereka membutuhkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang ditawarkan.
Sebab, ketika lowongan menjanjikan satu pekerjaan namun kenyataannya memberikan pekerjaan yang berbeda, yang dipertaruhkan bukan hanya kepuasan karyawan, melainkan juga kepercayaan terhadap perusahaan.
Sumber
Castrillon, C. (2026). 64% Manajer Perekrutan Mengakui Perusahaan Mereka Menyesatkan Kandidat Pekerjaan. Forbes.
Fowler, R. (2026). ‘Penipuan lowongan kerja’ mendorong pengunduran diri dini karena tiga perempat pekerja disesatkan tentang peran mereka. Jurnal Tempat Kerja.
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2024). Cegah Loker Palsu, Kemnaker Minta Masyarakat Pastikan Legalitas Perusahaan.
O’Bannon, IM (2026). 1 dari 5 Pekerja Mengatakan Pekerjaan Mereka Saat Ini Bukanlah Pekerjaan yang Diharapkan Saat Dipekerjakan. CPA Practice Advisor.
O’Connor, J. (2026). 65% Pekerja Menerima Pekerjaan yang Tidak Sesuai dengan Deskripsinya, Temuan Studi. Jurnal Tempat Kerja.
Penulis : Andien Nuraini Sagita
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































