Banyuwangi, 14 Juli 2026 – Memasuki abad kedua berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), tantangan zaman yang dihadapi jam’iyah tidak lagi sederhana. NU membutuhkan nakhoda yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga memiliki jangkar spiritual yang menghujam dalam ke bumi Nusantara. Di titik krusial inilah, seruan untuk menghadirkan pemimpin dari kalangan Dzurriyah Walisongo menemukan relevansi tertingginya, terang KRT KH. Abdul Chalim Al – Khowwas yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren An – Nurul Qodiri Genteng Banyuwangi sekaligus Panutan dan sesepuh Pagar Nusa.
Kyai Chalim, menguraikan pendapat dan wejanganya tentang H Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan) yang saat ini mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PBNU yang dinilai sangat pantas untuk menakhodai PBNU. Kyai Chalim mendedarkan secara rinci dan detail terkait alasanya mendukung Gus Gudfan.
1. Legitimasi Spiritual dan Keberkahan Nasab (Sanad)
Dalam tradisi pesantren, sanad (mata rantai) keilmuan dan perjuangan adalah segalanya. Walisongo bukan sekadar tokoh sejarah; mereka adalah arsitek utama peradaban Islam yang ramah, moderat, dan membumi di Nusantara—fondasi yang kelak diadopsi utuh oleh _Hadratussyaikh_ KH. Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU.
“Memimpin NU bukan sekadar mengelola organisasi kemasyarakatan, melainkan mengawal mandat langit. Pemimpin dari Dzurriyah Walisongo membawa berkah genetika perjuangan yang mewarisi karamah, ketulusan, dan riyadhoh para wali.”
Legitimasi spiritual Gus Gudfan tidak tumbuh dari ruang hampa. Beliau adalah putra dari Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur ulama kharismatik sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Dari garis nasab dan khidmah pesantren ini, mengalir darah dan sanad perjuangan langsung dari Raden Qasim (Sunan Drajat), salah satu pilar utama Walisongo.
“Mengalirkan darah Sunan Drajat berarti mewarisi dua karakter utama: keteguhan spiritual dalam menjaga syariat, dan keluwesan strategi dalam memberdayakan ekonomi umat.”
Di bawah asuhan dan garis keturunan penyebar Islam Nusantara inilah, Gus Gudfan dibentuk menjadi pribadi yang tidak hanya memahami teks-teks klasik pesantren, tetapi juga menghayati bagaimana Walisongo berdakwah dengan merangkul, bukan memukul; membangun, bukan meruntuhkan.
2. Poros Tengah: Titik Temu Kultural dan Struktural
Walisongo berhasil mengislamkan Jawa dan Nusantara tanpa pertumpahan darah karena mereka menggunakan pendekatan dakwah kultural: merangkul adat, menyempurnakan tradisi, dan menolak konfrontasi radikal. Prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (tegak lurus), dan Tasamuh (toleran) yang menjadi pilar NU adalah manifestasi langsung dari manhaj dakwah Walisongo.
Di tengah dinamika bursa Ketum PBNU yang kerap memunculkan ketegangan antar-faksi politik dan tarikan kepentingan. PBNU membutuhkan figur penyembuh, sebuah jangkar yang bisa diterima oleh semua pihak, sosok Dzurriyah Walisongo (Gus Gudfan) hadir sebagai Poros Tengah yang Transenden.
Nasab Walisongo melintasi sekat-sekat geografis dan politik kontemporer. Baik kubu struktural maupun kultural, blok timur maupun barat, semuanya menaruh hormat yang tinggi kepada dzurriyah para wali. Kehadirannya sebagai Bendahara PBNU saat ini, beliau memiliki kedekatan struktural dengan jalannya roda organisasi. Namun, sebagai dzurriyah Walisongo dan representasi pesantren, beliau memegang erat restu kultural dari para kiai sepuh. Posisinya yang bersih dari polarisasi politik masa lalu menjadikannya sebagai ruang rekonsiliasi yang aman bagi seluruh elemen Nahdliyin. Gus Gudfan adalah titik temu yang menyejukkan.
3. Manifestasi Dakwah Ekonomi Walisongo Abad Kedua
Salah satu ajaran terkenal dari Sunan Drajat (leluhur Gus Gudfan) adalah filosofi:
“Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe”(Berilah tongkat pada orang buta, berilah makan pada orang yang lapar). Ini adalah cetak biru dakwah sosial-ekonomi.
Filosofi luhur Walisongo inilah yang kini diterjemahkan secara modern oleh Gus Gudfan. Latar belakangnya sebagai profesional dan pengusaha sukses di sektor riil menjadi bukti bahwa ia adalah dzurriyah yang sukses melakukan kontekstualisasi zaman.
Di bawah nakhoda Gus Gudfan, Poros Tengah ini akan membawa PBNU fokus pada:
Kemandirian Ekonomi Warga: Membangun ekosistem bisnis Nahdliyin yang mandiri dan lepas dari ketergantungan eksternal.
*Digitalisasi dan Modernisasi Organisasi*: Mengelola PBNU dengan manajemen korporasi yang transparan, bersih, dan akuntabel tanpa kehilangan ruh pesantren.
*Pemberdayaan Pesantren Akar Rumput*: Menghidupkan kembali fungsi pesantren sebagai pusat peradaban ekonomi daerah.
4. Menjawab Tantangan Global dengan Akar Lokal
Menghadirkan Dzurriyah Walisongo memimpin PBNU bukanlah langkah mundur ke masa lalu, melainkan strategi melompat ke masa depan tanpa kehilangan pijakan bumi. Indonesia hari ini digadang-gadang menjadi pusat peradaban Islam dunia melalui konsep Islam Wasathiyah.
Siapa yang lebih pantas merepresentasikan wajah Islam Nusantara yang damai itu di panggung internasional selain keturunan dari para pendirinya sendiri? Dengan kombinasi wawasan modern dan karisma spiritual Wali, sosok ini layak membawa PBNU menembus batas dunia global dengan tetap memegang teguh identitas lokal.
Waktunya Pulang ke Sanad Perjuangan
Memilih pemimpin dari Dzurriyah Walisongo untuk PBNU adalah sebuah ikhtiar untuk “*pulang*” ke akar sejarah. Ini adalah momentum bagi PBNU untuk merefresh kembali niat khidmah, membersihkan organisasi dari residu kepentingan jangka pendek, dan melangkah ke abad kedua dengan restu spiritual yang kokoh.
Sudah saatnya PBNU melangkah maju ke masa depan yang modern dan mandiri, dengan tetap membawa berkah dan berdiri tegak sebagai poros tengah yang merangkul semua faksi. Membawa kapal besar NU berlayar di samudera zaman dengan selamat, berkah, dan bermartabat, Pungkas Kyai Chalim.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































