Promosi yang begitu masif tentang Kurikulum Merdeka sebagai pembaharu pendidikan Indonesia ternyata menyisakan sejumlah tanda tanya besar. Di balik jargon-jargon seperti “fleksibilitas” dan “kemandirian belajar”, tersimpan problem mendasar yang justru membebani para pelaku pendidikan.
Yang mengkhawatirkan, kurikulum yang awalnya dirancang sebagai respons darurat pandemi ini tiba-tiba dipaksakan menjadi kurikulum nasional. Padahal, dasar akademik dan kelayakan implementasinya masih perlu diuji lebih mendalam.Di sekolah-sekolah, banyak guru mengeluhkan ketidaksiapan mereka. Alih-alih mendapatkan panduan yang jelas, mereka justru dibiarkan berjuang sendiri memahami konsep-konsep baru dalam kurikulum. Yang terjadi kemudian adalah kebingungan massal – dari level pengawas hingga guru kelas.
Dari sisi konsep, kurikulum ini terjebak dalam romantisme “pembelajaran menyenangkan” yang justru berpotensi merugikan siswa. Dengan mengedepankan kebebasan tanpa diimbangi sistem evaluasi yang ketat, kita berisiko menghasilkan generasi yang lemah dalam penguasaan dasar-dasar akademik.Fakta ini terbukti dari menurunnya skor PISA Indonesia pada 2022, terutama dalam kemampuan literasi. Yang lebih memprihatinkan, banyak anak hingga kelas III SD bahkan SMP masih belum lancar membaca. Ini menunjukkan adanya masalah serius dalam sistem pembelajaran dasar.
Implementasi kurikulum di lapangan juga bermasalah. Konsep pembelajaran berdiferensiasi yang seharusnya memerdekakan justru membingungkan guru. Tanpa pemahaman yang memadai, siswa yang butuh pendampingan khusus malah terabaikan. Kebijakan naik kelas otomatis tanpa sistem retention dinilai banyak kalangan kontraproduktif.Menurut saya,yang paling memprihatinkan adalah kesan pemaksaan dalam implementasinya. Banyak sekolah “didorong” menerapkan kurikulum ini meski tanpa kesiapan memadai. Ironisnya, ada sekolah yang belum mendapat pelatihan memadai justru ditunjuk sebagai percontohan.
Sudah saatnya kita melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka secara nasional. Biarkan sekolah dan guru benar-benar siap sebelum memutuskan untuk mengadopsi kurikulum baru. Karena pendidikan yang berkualitas hanya bisa terwujud ketika semua pihak benar-benar siap untuk berubah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”






































































