SEMARANG – Mahasiswa Universitas Semarang (USM) melalui program Karsa Chitra Pertiwi melaksanakan kampanye komunikasi antarbudaya dengan mengangkat tema melukis budaya sebagai media untuk memperkenalkan serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga tahap di lokasi yang berbeda, dimulai dari kawasan Car Free Day (CFD) Simpang Lima, Panti Asuhan Muawanah, hingga Dies Natalis Universitas Semarang. Program tersebut digelar sebagai bagian dari tugas mata kuliah Komunikasi Antar Budaya.
Perwakilan kelompok Karsa Chitra Pertiwi mengatakan kelompoknya memilih tema melukis budaya karena melihat seni lukis sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan antarbudaya sekaligus menjadi jembatan pemahaman antar generasi.
“Kami melihat seni lukis sebagai bahasa universal yang dapat menjembatani pemahaman antarbudaya. Melalui ‘Karsa Chitra Pertiwi’, kami ingin mengajak masyarakat tidak sekadar melihat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses berkarya. Kami juga menyiapkan gantungan kunci dan mini gift sebagai kenang-kenangan bagi para peserta yang telah berpartisipasi,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan.
Kampanye pertama dilaksanakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di kawasan CFD Simpang Lima Semarang. Dalam kegiatan tersebut, Karsa Chitra Pertiwi berkolaborasi dengan seorang seniman bernama Nesya Aulia Wibowo yang ikut mendukung jalannya kegiatan melukis budaya. Selain kegiatan melukis di atas kanvas, pengunjung yang hadir juga dapat menikmati jamu sebagai salah satu bentuk pengenalan budaya tradisional Indonesia. Setiap peserta yang menyelesaikan karyanya berhak mendapatkan gantungan kunci eksklusif serta mini gift menarik sebagai bentuk apresiasi.

Meski pelaksanaan di hari pertama masih menghadapi beberapa kendala, seperti kondisi tempat yang relatif kecil, susunan acara yang belum berjalan maksimal, serta jumlah pengunjung yang belum terlalu banyak, kegiatan tetap berlangsung dengan baik. Menariknya, meskipun terdapat beberapa keterbatasan tersebut, tidak ada kritik ataupun tanggapan negatif dari pengunjung yang hadir. Hal tersebut menjadi motivasi bagi tim Karsa Chitra Pertiwi untuk terus melanjutkan kampanye mereka.
Perjalanan kampanye kemudian berlanjut pada Jumat, 12 Juni 2026 di Panti Asuhan Muawanah. Pada kegiatan kedua ini, sebanyak 25 anak panti mengikuti kegiatan melukis budaya menggunakan kanvas yang telah disediakan oleh panitia Karsa Chitra Pertiwi. Dibandingkan pelaksanaan sebelumnya, kegiatan di hari tersebut berlangsung lebih lancar dan jumlah peserta yang ikut serta juga meningkat. Setiap anak yang telah menyelesaikan lukisannya pun tampak gembira menerima gantungan kunci dan mini gift yang dibagikan.
Suasana hangat dan penuh antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak panti tampak bahagia dan fokus menuangkan kreativitas mereka ke dalam lukisan dengan tema pakaian adat, tarian tradisional, hingga pemandangan alam Indonesia. Berbagai warna dan gambar mulai memenuhi kanvas yang mereka pegang, menciptakan karya yang tidak hanya indah tetapi juga menjadi sarana pembelajaran mengenai keberagaman budaya.

Kampanye Karsa Chitra Pertiwi kemudian mencapai tahap terakhir pada Minggu, 21 Juni 2026 dalam rangka Dies Natalis Universitas Semarang. Seluruh kampanye komunikasi antarbudaya turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan Karsa Chitra Pertiwi juga hadir untuk melanjutkan misinya mengenalkan budaya melalui seni lukis. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi serta dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan.
Antusiasme pada kegiatan terakhir ini menjadi yang paling tinggi dibandingkan dua kegiatan sebelumnya. Mahasiswa, dosen, hingga anak-anak ikut meramaikan kegiatan melukis budaya. Tingginya partisipasi peserta membuat seluruh kanvas yang telah disediakan panitia habis digunakan. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi semangat peserta. Panitia kemudian menggunakan kertas HVS yang dilipat dua sebagai alternatif media menggambar, dan meskipun menggunakan media yang lebih sederhana, peserta tetap terlihat antusias serta menikmati proses melukis budaya dengan penuh kegembiraan. Para peserta yang hadir juga tetap diberikan gantungan kunci serta mini gift sebagai bentuk apresiasi.
Perwakilan kelompok Karsa Chitra Pertiwi mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pelestarian budaya adalah menjembatani kesenjangan pemahaman antara generasi tua dan muda. Namun, menurutnya, setiap budaya memiliki karakter dan keunikan yang tidak dimiliki oleh budaya lain, sehingga layak untuk terus dilestarikan dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Bagi kami, melukis budaya bukan sekadar menggambar, tetapi juga bercerita tentang identitas dan jati diri bangsa. Kami berharap dengan adanya gantungan kunci dan mini gift ini, peserta tidak hanya membawa pulang karya lukisan, tetapi juga kenangan dan semangat cinta budaya yang bisa mereka ingat setiap hari,” katanya.
Melalui tiga rangkaian kegiatan tersebut, Karsa Chitra Pertiwi menunjukkan bahwa budaya dapat dikenalkan melalui cara yang sederhana dan menyenangkan. Seni lukis tidak hanya menjadi media berekspresi, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antarbudaya yang mampu menyatukan berbagai kalangan dalam satu ruang kreativitas dan kebersamaan.
“Harapan kami, teman-teman generasi muda bisa lebih peduli dan memberi kesempatan untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia. Budaya kita menyenangkan dan memiliki identitas yang kuat, sehingga layak terus dilestarikan. Dan melalui kegiatan melukis bersama dengan hadiah gantungan kunci serta mini gift ini, semoga semakin banyak masyarakat yang tertarik dan antusias untuk ikut melestarikan budaya bangsa,” pungkasnya.
Kegiatan di CFD Simpang Lima, Panti Asuhan Muawanah, dan Dies Natalis Universitas Semarang itu menjadi salah satu upaya mempertemukan dunia pendidikan, kebudayaan, dan kepedulian sosial dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia di tengah dominasi budaya asing. Gagasan mengemas pelestarian budaya dengan pendekatan seni lukis yang inovatif serta pemberian cendera mata menarik diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap salah satu kekayaan Nusantara yang tak ternilai
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































