“Cara kita melihat dunia menentukan cara kita mengambil keputusan.” Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersembunyi tiga pilar besar yang selama ini diam-diam mengarahkan cara manusia memahami realitas: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Di tengah derasnya arus informasi, perdebatan sosial, dan perubahan teknologi yang cepat, tiga konsep filsafat ini justru semakin relevan untuk dijadikan landasan berpikir. Opini ini mengajak pembaca menelusuri bagaimana kita mengenali apa yang “ada”, bagaimana kita membenarkan apa yang “kita tahu”, dan bagaimana kita menimbang apa yang “bernilai” sebuah perjalanan intelektual yang dapat membuka cara pandang baru terhadap dunia yang kita hidupi hari ini.
Ketika saya mempelajari Islam dan Ilmu Pengetahuan, saya menyadari satu hal penting, cara kita memahami realitas, mencari kebenaran, dan menentukan nilai selalu berpijak pada tiga pilar besar yaitu, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dan semakin saya mendalami ketiganya, semakin terlihat bahwa Islam dan Ilmu Pengetahuan punya tawaran yang jauh lebih utuh dibanding pendekatan modern yang sering memisahkan akal dari moral.
Pertama, dalam ontologi, saya menemukan bahwa Islam menegaskan keberadaan Tuhan sebagai Wājib al-Wujūd yakni wujud yang niscaya ada. Sedangkan alam dan manusia hanyalah Mumkin al-Wujūd, yang bergantung sepenuhnya pada-Nya. Pandangan ini bukan sekadar teori, ia membuatku paham bahwa realitas tidak mungkin berdiri sendiri. Para filsuf seperti Ibnu Sina menegaskan bahwa rantai sebab-akibat pasti berujung pada satu sebab pertama, yaitu Allah. Sementara tokoh seperti Suhrawardi dan Ibn ‘Arabi memperkaya pemahaman ini lewat perspektif intuitif bahwa seluruh wujud adalah pancaran cahaya Ilahi. Bagi saya, pendekatan rasional dan spiritual ini justru saling melengkapi. Misalnya, keteraturan matahari terbit dan terbenam setiap hari atau keajekan hukum gravitasi. Secara ilmiah kita bisa menjelaskan mekanismenya, tetapi dalam ontologi Islam semua keteraturan itu tetap berakar pada sumber wujud yang absolut, yaitu Allah.
Kedua, ketika masuk ke epistemologi, saya melihat bahwa Islam tidak membatasi pengetahuan hanya pada akal dan indera. Hal ini menjelaskan empat sumber pengetahuan yaitu panca indera, misalnya, menjadi sumber ilmu saat saya belajar sains, saya mengamati reaksi kimia, melihat pergerakan benda, atau mendengar suara dalam eksperimen. Data empiris itu menjadi ilmu al-yaqin ketika kuperoleh secara jelas melalui indera. akal sehat, dalam kehidupan sehari-hari, saya menggunakan akal ketika menilai logika sebuah argumen, menghitung keputusan finansial, atau mempertimbangkan sesuatu secara rasional. Dalam fikih, penggunaan akal terlihat jelas dalam ijtihad seperti qiyas yang digunakan ulama untuk menjawab persoalan modern, misalnya hukum transaksi digital. Berita yang benar (wahyu), Misalnya, konsep bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak tahu apa-apa tetapi diberi pendengaran, penglihatan, dan hati, memberi dasar teologis bahwa pencarian ilmu adalah bagian dari misi manusia. Dan intuisi atau Ilham, Contohnya, banyak ulama seperti Al-Ghazali menggambarkan bagaimana penyucian hati membuka pintu pemahaman yang tidak didapat dari buku atau logika. Dalam pengalaman pribadi, saya kadang merasakan kemudahan memahami sesuatu setelah berdoa atau dalam keadaan hati yang tenang sebuah bentuk intuisi yang diakui dalam epistemologi Islam.
Bagi saya ini sangat masuk akal manusia tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan dan menerima kebenaran dari luar dirinya. Bahkan Al-Qur’an menjadi sumber paling tinggi karena membawa kebenaran yang tidak terbantahkan. Sementara akal tetap berfungsi penting, terutama dalam ijtihad ketika kita menghadapi persoalan baru. Yang menarik, intuisi atau ilham juga diakui sebagai jalur pengetahuan, selama hati seseorang benar-benar bersih.
Ketiga, pada aksiologi, saya semakin yakin bahwa ilmu dalam Islam tidak pernah netral. Ilmu punya nilai, dan nilai itu berasal dari Allah. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai etika profetik, yaitu ilmu yang bekerja dalam bingkai moral Nabi. Bagi saya ini sangat relevan, terutama ketika melihat perkembangan ilmu modern yang sering kehilangan arah moral, teknologi bisa mengancam privasi, sains bisa disalahgunakan, dan ekonomi bisa memperparah ketidakadilan. Dalam Islam, ilmu baru layak digunakan kalau membawa kemaslahatan bagi manusia.
Contoh lain terdapat dalam ekonomi. Ilmu ekonomi modern sering menekankan efisiensi dan keuntungan. Namun dalam aksiologi Islam, nilai-nilai seperti keadilan, keseimbangan, dan larangan eksploitasi menjadi batas moral. Jadi, praktik seperti riba atau monopoli tidak hanya dilarang secara hukum, tetapi juga dinilai tidak manusiawi dari sisi moral. Bahkan dalam dunia pendidikan, aksiologi terlihat jelas. Ilmu bukan hanya untuk “tahu”, tetapi untuk membuat manusia lebih berakhlak. Ini sesuai dengan gagasan Kuntowijoyo tentang etika profetik bahwa ilmu harus meniru moral Nabi. Bagi saya, ini mengingatkan bahwa apa pun yang kupelajari harus bermuara pada perbaikan diri dan masyarakat.
Melalui ketiga cabang filsafat ini, saya melihat bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang apa yang ada, bagaimana kita tahu, atau apa yang baik, tetapi membangun satu pandangan dunia yang utuh dan berorientasi pada Tuhan. Dan di tengah dunia yang semakin kompleks, menurut saya ini justru menjadi fondasi yang paling kita butuhkan.
Setelah menelusuri ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam Islam dan Ilmu Pengetahuan, saya semakin yakin bahwa ketiga pilar ini bukan sekadar konsep teoritis, tetapi panduan nyata untuk memahami hidup dengan lebih jernih. Ontologi mengajariku untuk selalu melihat Tuhan sebagai pusat realitas, epistemologi mengingatkan saya bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari akal tetapi juga dari wahyu dan kejernihan hati, dan aksiologi menuntunku untuk memastikan setiap ilmu dan tindakan membawa kemaslahatan.
Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, menurut saya sudah saatnya kita kembali menata cara berpikir dengan fondasi yang kokoh. Bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teguh secara moral dan spiritual. saya percaya, jika kita mampu memadukan ketiga pilar ini dalam kehidupan sehari-hari dalam belajar, bekerja, maupun mengambil keputusan kita tidak hanya menjadi manusia yang tahu, tetapi juga manusia yang bijaksana.
Dan mungkin di situlah nilai sejati dari Islam dan Ilmu Pengetahuan, bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk dihidupi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































