Bayangkan seorang ibu yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk merawat kita. Sejak kita lahir, ia menyediakan makanan, membasuh dahaga, dan memberikan tempat berteduh yang nyaman tanpa pernah meminta bayaran sedikitpun. Namun, alih-alih berterima kasih, kita justru membalas kebaikannya dengan memberikan luka setiap hari. Tragisnya, itulah gambaran nyata dari hubungan antara manusia modern dengan bumi saat ini. Kita memperlakukan tempat bernaung ini seolah ia adalah pelayan yang abadi, bukan ibu kandung dari seluruh kehidupan kita.
Setiap pagi, tanpa sadar, kita memulai hari dengan menyakiti “ibu” kita sendiri. Tengoklah kebiasaan kita saat bersiap beraktivitas: secangkir kopi dalam gelas plastik sekali pakai yang kita beli karena terburu-buru, kantong kresek belanjaan yang hanya kita gunakan selama lima belas menit dari toko ke rumah, hingga sisa makanan yang dibuang begitu saja ke tempat sampah karena kita terlalu malas untuk menghabiskannya. Kita selalu mengelak bahwa semua kenyamanan instan ini adalah tuntutan zaman yang serba cepat. Namun, di balik kemudahan itu, kita sedang menimbun warisan buruk yang menyumbat aliran sungai dan membuat bumi kian sesak bernapas.
Menyakiti bumi bukan lagi sekadar isu global yang jauh di awang-awang atau tanggung jawab yang dapat kita bebankan kepada organisasi besar ataupun gerakan lingkungan dunia. Ini adalah kelalaian harian yang kita rakit sendiri di dalam rumah kita. Suhu udara yang kian menyengat akhir-akhir ini, banjir yang makin rajin bertamu ke pemukiman, hingga udara pagi yang tak lagi segar adalah cara alam berbicara kepada kita. Itu adalah jeritan sakit dari bumi yang sedang demam tinggi akibat akumulasi ego kita semua. Kita sangat menikmati semua fasilitas dari alam, tetapi kita sendiri kerap menolak bertanggung jawab atas sisa kotoran yang kita hasilkan.
Lalu, sampai kapan kita akan terus menjadi anak yang durhaka? Apakah kita harus menunggu alam benar-benar murka dan mogok memberikan sumber dayanya baru kita akan tersadar?
Mengubah perilaku agar lebih ramah lingkungan tidak harus dimulai dengan aksi megah yang menguras kantong. Perubahan itu justru bisa lahir dari hal-hal kecil di meja makan dan dapur kita sendiri. Mulai dari belajar menahan diri untuk tidak memakai plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri ke mana pun kita pergi, hingga memastikan tidak ada sebutir nasi pun yang terbuang di piring adalah bentuk rasa hormat paling sederhana yang bisa kita berikan. Perilaku-perilaku kecil inilah yang apabila dilakukan bersama-sama, maka akan menjadi sebuah budaya baru yang dapat menyelamatkan bumi.
Jika kita belum mampu membersihkan lautan dari sampah, setidaknya jangan lagi kita kotori rumah tempat kita berpijak ini dengan sampah baru dari tangan kita sendiri. Menjaga lingkungan hidup bukan lagi tentang mengikuti tren estetika atau gaya hidup masa kini, melainkan tentang pembuktian apakah kita masih memiliki nurani sebagai manusia. Sebelum semuanya terlambat dan bumi tak lagi ramah untuk dihuni, mari kita jaga dan pulihkan kembali rumah kita bersama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































