Di pedalaman Kalimantan, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern, masyarakat Dayak telah lama merawat sebuah sistem kesehatan kuno yang sangat canggih. Kita tidak sedang membicarakan sekadar praktik perdukunan, melainkan sebuah metode yang melibatkan pemahaman mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan entitas tak kasat mata. Ritual Sangiang dari Dayak Ngaju dan Belian dari Dayak Benuaq adalah dua bukti nyata bahwa bagi leluhur kita, kesehatan adalah sebuah keseimbangan kosmis yang harus terus diperjuangkan.
Menakar Pengertian Sakit di Mata Adat
Bagi banyak orang modern, sakit adalah urusan medis yang bisa diselesaikan dengan obat kimia. Namun, dalam kacamata Dayak Ngaju maupun Benuaq, sakit adalah tanda adanya “keretakan” dalam tatanan kehidupan.
Dalam ritual Sangiang, penyakit sering kali dianggap sebagai akibat dari ketidakseimbangan kosmis mungkin karena manusia telah melanggar aturan adat atau menyinggung entitas yang menjaga wilayah tersebut. Sementara itu, tradisi Belian memandang penyakit sebagai hilangnya sumangat (jiwa) pasien. Ibarat seseorang yang bagian dari dirinya “tertinggal” di tempat lain, pasien akan tampak layu secara fisik karena jiwa aslinya sedang tersesat di alam gaib. Perbedaan sudut pandang inilah yang menentukan bagaimana ritual penyembuhan akan dilakukan.
Sangiang sebagai Seni Negosiasi dengan Dunia Roh
Narasi berikut disusun berdasarkan hasil penelitian Zainap Hartati, Emawati, dan Siti Patimah dalam jurnal “Sangiang Pengobatan Alternatif Suku Dayak Muslim di Gohong, Kalimantan Tengah”
Dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju, khususnya di Desa Gohong, Kalimantan Tengah, Sangiang dikenal sebagai praktik pengobatan alternatif yang sarat akan makna budaya dan nilai spiritual. Ritual ini merupakan tradisi pemanggilan roh leluhur yang diwariskan secara turun-temurun untuk menangani berbagai kondisi, mulai dari penyakit medis dan psikologis hingga gangguan magis, serta upaya untuk tolak bala (membersihkan kampung dari marabahaya).
Sangiang bukan sekadar metode pengobatan, melainkan sebuah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan melalui keyakinan pada hal-hal ghaib yang merupakan bagian dari rukun iman. Menariknya, bagi masyarakat Dayak Muslim di Desa Gohong, prosesi Sangiang yang dipimpin oleh seorang penyembuh tradisional yang disebut Subat ini juga diiringi dengan nilai-nilai keislaman.
Beberapa aspek penting dalam ritual ini meliputi:
- Awal dan Akhir Ritual: Subat mengawali prosesi dengan membaca Basmalah sebagai bentuk perlindungan diri, dan mengakhirinya dengan Hamdalah serta Doa Selamat sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas keselamatan dan harapan kesembuhan pasien.
- Peran Subat: Subat adalah individu yang dipercaya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam gaib secara geneologis (garis keturunan). Saat prosesi berlangsung, Subat akan mengalami kondisi kerasukan (trans) di mana tubuhnya diambil alih oleh roh yang dipanggil, sehingga ia tidak lagi menyadari dirinya sendiri, dan pada saat itulah pasien dapat bertanya mengenai penyakit serta obatnya.
- Persyaratan Ritual: Sangiang memerlukan perlengkapan khusus sebagai syarat pengobatan, seperti Piduduk (beras, kelapa yang dililit benang dan ditusuk jarum, gula), Tambak hambaruan, Tepung Tawar (pandan, air, minyak wangi), kemenyan, serta berbagai jenis minuman dan sesaji yang tidak boleh dicicipi saat dimasak.
Fungsi Sosial dan Spiritual
Lebih dari sekadar penyembuhan individu, Sangiang juga difungsikan untuk menjaga keselamatan komunitas. Ritual ini sering dilaksanakan untuk menolak bala (mamapas lewu) atau memberikan perlindungan pada lokasi-lokasi kerja seperti pertambangan dan sarang walet agar terhindar dari gangguan roh jahat dan melancarkan pendapatan.
Dengan demikian, Sangiang menjadi manifestasi dari bagaimana masyarakat Dayak Ngaju memadukan kepercayaan leluhur (animisme dan dinamisme) dengan nilai-nilai keislaman, menciptakan sebuah harmoni keyakinan yang bertujuan untuk mencapai kesehatan jiwa, raga, dan keseimbangan hidup dengan alam semesta.
Belian sebagai Misi Penyelamatan Jiwa yang Tersesat
Berbeda dengan Sangiang yang bersifat dialogis, ritual Belian dari Dayak Benuaq lebih menyerupai sebuah aksi heroik yang penuh dengan ketegangan. Pemimpin ritual yang disebut sebagai Mulung atau pemBelian bertindak layaknya seorang penjelajah agung. Ia tidak sekadar duduk untuk berbicara, melainkan harus melakukan perjalanan spiritual untuk mencari ke mana sumangat (jiwa) pasien “pergi” karena diyakini tersesat atau terganggu oleh roh jahat.
Prosesi ini sangat melelahkan dan melibatkan elemen teaterikal yang kuat. Sepanjang malam—waktu yang dipercaya paling tepat untuk berkomunikasi dengan dunia roh—sang Mulung akan menari, bernyanyi, dan merapalkan mantra sakral yang disebut Nyoyong menggunakan bahasa Paser Banau Tatau. Di sekelilingnya, sesaji dipersiapkan dengan teliti untuk memohon perlindungan kepada Sanghiyang.
Kekuatan ritual ini sangat bergantung pada kedisiplinan keluarga dan masyarakat sekitar terhadap tuhing (pantangan adat). Sebagai contoh, terdapat larangan keras untuk bertamu ke rumah penyelenggara selama empat hari masa ritual yang ditandai dengan ikatan daun-daunan di depan rumah. Pelanggaran terhadap tuhing ini tidak hanya dianggap mengganggu jalannya ritual, tetapi juga dapat dikenakan denda adat.
Tahapan ritual pun sangat terstruktur, mulai dari tahap pembukaan, prosesi pemandian sebagai simbol penyucian, hingga Mediwa Lansang (menghilangkan pelanggaran adat/ lonsa) dan Ngayun Lansang (mengayunkan wadah ritual). Jika Sangiang adalah negosiasi untuk mencapai perdamaian, maka Belian adalah perjuangan keras untuk menjemput kembali jiwa yang hilang dan mengembalikannya ke raga pasien, memastikan bahwa kesadaran yang terputus tersebut bisa kembali tersambung secara utuh.
Harmoni Musik dan Trans: Pintu Masuk ke Alam Lain
Satu hal yang menyatukan kedua ritual ini adalah kekuatan suara. Baik dalam Sangiang maupun Belian, musik bukanlah sekadar pengiring, melainkan instrumen untuk “memutar” kesadaran manusia.
Dalam Sangiang, alunan kecapi dan rebab yang melankolis bekerja untuk menenangkan pikiran, membuat pasien dan keluarga berada dalam frekuensi yang sama. Sedangkan dalam Belian, ritme gong dan kendang yang lebih repetitif dan bertenaga berfungsi sebagai “pendorong” bagi sang Mulung atau pemBelian untuk memasuki kondisi trans yang lebih dalam. Musik ini menciptakan ruang di mana logika manusia bisa beristirahat sejenak, memberikan jalan bagi dimensi spiritual untuk bekerja. Ini adalah terapi gelombang suara dalam bentuk yang paling purba.
Mengapa Tradisi Ini Tetap Relevan?
Banyak yang bertanya, kenapa di era medis yang maju ini ritual-ritual tersebut masih dijalankan? Jawabannya sederhana: karena ritual-ritual ini menyentuh apa yang sering dilewatkan oleh medis modern yaitu sisi psikologis dan sosial.
Sangiang dan Belian melibatkan seluruh keluarga. Saat seluruh keluarga berkumpul, berdoa, dan bergotong-royong demi kesembuhan salah satu anggota, beban penderitaan si sakit menjadi ringan karena dia merasa “didukung” oleh komunitasnya. Inilah kekuatan yang sebenarnya: kesehatan bukan hanya soal tubuh yang tidak sakit, tapi soal jiwa yang merasa aman dan diterima di tengah-tengah keluarga dan masyarakatnya.
Warisan yang Perlu Dipahami, Bukan Sekadar Dilihat
Sangiang dan Belian bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis. Mereka adalah cara leluhur kita berkomunikasi dengan semesta. Dengan memahami perbedaan antara metode “negosiasi” dalam Sangiang dan metode “penjemputan jiwa” dalam Belian, kita belajar bahwa ada banyak sekali cara untuk memandang kehidupan. Kita tidak harus memilih antara medis modern atau tradisional; keduanya bisa berjalan beriringan. Namun, satu hal yang pasti: ritual-ritual ini adalah identitas yang membuat suku Dayak tetap memiliki akar yang kuat di tengah dunia yang makin asing dengan spiritualitas alam.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































