Setiap Kamis, di sela jam kuliah yang padat, Nadia selalu menyisihkan waktu untuk satu agenda tetap: rapat divisi Litbang LPM Dinamika. Bukan rapat yang sekadar mengumumkan jadwal atau membahas program kerja. Bagi Nadia, rapat itu adalah momen untuk menanyakan kabar adik-adiknya di organisasi, memastikan semua anggota merasa dirangkul, sekaligus menyampaikan arahan dari pengurus inti. Perannya sebagai Sekretaris Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) menempatkannya di posisi yang ia sebut sendiri di organisasinya menjadi Kru Biasa (Krubis), istilah yang akrab dipakai di kalangan dinamika untuk menggambarkan posisi sebagai anak tengah.
Mahasiswi semester empat Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri
Sumatera Utara, ini sudah bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika sejak
semester satu. Empat semester berjalan, dan posisi yang ia pegang sekarang menuntut lebih
dari sekadar menjalankan tugas administratif. Sebagai sekretaris Litbang, Nadia harus
memahami seluruh dinamika yang terjadi di divisinya, dari kebutuhan anggota hingga
perkembangan program kerja. Ia menyebut perannya itu seperti menjadi “ibu” bagi divisinya,
bahkan bagi LPM Dinamika secara keseluruhan, karena menurutnya Litbang adalah divisi yang
merangkul seluruh sumber daya anggota yang ada di organisasi.
Peran sebesar itu tidak datang tanpa konsekuensi. Empat semester menjalani dua dunia,
kuliah dan organisasi, membuat Nadia harus berhadapan dengan dilema yang menurutnya
paling berat selama ia berkecimpung di Litbang: membagi waktu antara tuntutan akademik dan
tanggung jawab organisasi yang sering datang bersamaan.
“Kadang deadline kuliah dan tugas organisasi itu jatuh di waktu yang sama,” ujar Nadia.
Situasi semacam ini bukan kejadian sesekali, melainkan sesuatu yang berulang ia hadapi.
Sebagai lembaga pers, LPM Dinamika punya karakter kerja yang berbeda dari organisasi
mahasiswa pada umumnya. Berita dan informasi tidak bisa menunggu. Begitu ada tugas
peliputan atau pekerjaan organisasi yang sifatnya mendesak, semuanya harus segera
diselesaikan, tidak peduli apa yang sedang berlangsung di sisi akademik.
Pada titik-titik tertentu, pilihan itu jatuh pada organisasi. Nadia mengaku, ada kalanya
tugas kuliah harus ia tunda, bahkan terabaikan, karena kebutuhan organisasi menuntut respons
yang lebih cepat. Bukan karena ia menyepelekan kuliah, tetapi karena karakter pekerjaan di
lembaga pers memang menuntut kecepatan yang tidak bisa ditawar.
Lantas, mengapa Nadia tidak memilih jalan yang lebih ringan, dengan melepaskan
posisinya di organisasi demi ketenangan kuliah? Jawabannya sederhana, sekaligus berat. “Aku
sudah pegang tanggung jawab ini, jadi nggak mungkin aku lepas begitu saja. Itu nggak
proporsional,” katanya. Bagi Nadia, sebuah tanggung jawab yang telah diterima bukan sesuatu
yang bisa ditinggalkan ketika keadaan mulai sulit. Selain rasa tanggung jawab itu, ada satu alasan lain yang membuatnya tetap bertahan: teman-teman yang ia temui di sepanjang
perjalanannya di Litbang.
Perjalanan empat semester ini juga mengubah cara Nadia memandang dirinya sendiri.
Ia mengakui, di semester pertama, dirinya benar-benar kewalahan. Waktu itu hampir
seluruhnya tersedot oleh kesibukan organisasi, sampai ia kesulitan menemukan ruang untuk
hal lain. Berbeda dengan sekarang. Setelah naik jenjang menjadi pengurus, beban tugas teknis
yang harus ia kerjakan justru berkurang dibandingkan saat masih menjadi anggota baru. Bukan
berarti tanggung jawabnya hilang, melainkan bentuknya berubah. Kini ia memiliki sedikit lebih
banyak ruang untuk beristirahat. Soal bagaimana ia mengatur waktu di tengah dua kesibukan
itu, jawaban Nadia justru terdengar sangat manusiawi: “Ya sadar diri saja,” ucapnya singkat.
Di balik semua kelelahan membagi waktu, Nadia tetap menemukan alasan untuk
bertahan dan merasa betah. Litbang, menurutnya, adalah tempat yang mengajarkannya banyak
hal, terutama soal menjaga komunikasi yang baik dengan orang lain. Ia merasa, lewat divisi
ini, dirinya didorong untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik, dikelilingi oleh orang-orang
yang menurutnya sangat baik kepadanya. Sementara itu, di tubuh LPM Dinamika secara
keseluruhan, ilmu jurnalistik yang ia dapatkan menjadi alasan tersendiri mengapa ia memilih
untuk tetap setia pada organisasi ini, meski harus berkali-kali mengorbankan waktu kuliahnya.
Kisah Nadia adalah potret kecil dari realitas yang dialami banyak mahasiswa aktivis
pers kampus: berdiri di antara dua tuntutan yang sama besar, akademik dan organisasi, lalu
memilih bertahan bukan karena mudah, tetapi karena ada tanggung jawab dan kebermaknaan
yang sudah terlanjur tertanam di dalamnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































