Menurunnya Minat Belajar Pada Masa Covid-19
Minat belajar adalah ketertarikan atau keinginan seseorang untuk mempelajari dan menekuni suatu pelajaran disertai dengan perasaan senang dan konsisten. Di tahun 2021 ini, penurunan minat belajar siswa merupakan akibat dari pemberlakuan pembelajaran jarak jauh. Tak dapat dipungkiri bahwa pademi covid-19 menjadi penyebab utama menurunnya ketertarikan siswa dalam belajar.
Penurunan minat belajar selama pandemi covid-19 sebagian besar di sebabkan oleh transisi mendadak ke pembelajaran jarak jauh (PPJ) atau Scool/College from Home, yang mengubah secara drastis lingkungan, metode dan motivasi belajar.
Salah satu penyebab utama adalah ketiadaan interaksi sosial dan suasana kelas yang kondusif. Lingkungan sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga dukungan teman sebaya dan bimbingan langsung dari guru. Pembelajaran jarak jauh menghilangkan aspek krusial ini siswa merasa terisolasi yang berdampak langsung pada kesehatan mental dan motivasi meraka untuk berprestasi, dan kurangnya koneksi social yang menyebabkan banyak siswa merasa jenuh dan kehilangan semangat belajar.
Selain itu, metode pembelajaran daring yang monoton dan beban kerja berlebihan turut memperparah keadaan. Banyak guru, yang juga dipaksa beradaptasi dengan cepat hanya mengandalkan penugasan tanpa variasi metode pengajaran yang menarik. Akibatnya siswa merasa kewalahan dengan kurangnya pengetahuan sebagai guru dan orang tua dalam pemanfaatan teknologi secara efektif untuk pembelajaran yang menarik.
Menurut saya akibat dari pembelajaran jarak jauh (PPJ) di masa pandemi covid-19 masih terbawa hingga sekarang seperti mengunakan pembelajaran learning loss (kehilangan pembelajaran) banyak penelitian yang menunjukkan adanya penurunan motivasi, kemampuan belajar, dan capaian akademis siswa, terutama dalam mata pelajaran inti seperti matematika. di masa pandemi.
Perbedaan sebelum pandemi covid-19 siswa terlibat dalam interaksi sosial dan pembelajaran luring (offline) secara langsung di kelas, dan guru dapat menerapkan metode pengajaran yang lebih bervariasi dan menanamkan nilai-nilai karakter secara efektif. Dan minat belajar cenderung lebih stabil karena adanya rutinitas, interaksi langsung dengan guru dan teman, serta lingkungan belajar yang kondusif di sekolah.
Setelah terjadinya pandemi covid-19 banyak siswa yang merasa bosan, jenuh, dan kurang terlibat aktif dalam pembelajaran daring, yang menyebabkan penurunan minat belajar, dan akses teknologi yang tidak merata, dukungan orang tua, metode pembelajaran guru yang monoton saat PPJ, dan lingkungan belajar di runag tidak kondusif menjadi faktor utama rendahnya minat belajar.
Sebagai mahasiswa pancasila dan kewarganeraan (PPKn) saya melihat bahwa menurunnya minat belajar selama masa pandemi covid-19 bukan hanya isu pedagogis, tetapi juga sebagai masalah yang berlatar pada aspek sosial, psikologis, dan impelementasi hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak ( sebagai diamanakan dalan UUD 1945).
Mengembalikan minat belajar memerlukan peran pemerintah, harus berfokus pada penyederhanaan kurikulum yang memprioritaskan kopetensi esensial, serta investasi pada infrastruktur digital dan pelatihan mengajar yang fokus pada pedagogi digital interaktif, dukungan psikososial harus memperkuat layanan kesehatan mental, memastikan ketersediaan konselor, dan mengintegrasikan program well-being ke dalam sistem pendidikan mengatasi kelelahan dan kecemasan pelajar, dan peran keluarga seperti orang perlu beralih dari sekedar mengawasi menjadi fasilitator dan motivator yang menciptakan lingkungan rumah kondusif, mengatur waktu layar, dan menberikan dukungan emosional.
Menurut saya solusi dari menurunnya minat belajar pada masa pandemi covid-19 bisa memulai dari hal kecil seperti menerapkan metode fokus lima menit. Paksa diri untuk belajar hanya lima menit, dan sering kali menemukan momentum untuk melanjutkan lebih lama jika tidak paling tidak sudah memulai belajar, dan belajar bersama teman yang rumahnya dekat agar bisa berdiskusi atau belajar bersama dapat membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan interaktif. Ini juga membantu mengatasi rasa isolasi yang mungkin masih tersusa dari masa pandemi.
Penurunan minat belajar seelama masa pandemi covid -19 merupakan fenomena kompleks yang melampaui sekedar perubahan metode dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak juah(PPJ). Ini adalah isu multidinsional yang beeakar pada tantangan psikososial, kesenjangan. Infrastruktur digital, dan adaptasi pedagogis yang belum matang. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pencapaian akademik jangka pendek, tetapi juga berpotensi menciptakan krisis kualitas sumber manusia di masa depan (Learning Loss).
Covid-19 telah mengajarkan kita bahwa pendekan tungal dalam pendidikan tidak efektif. Krisis ini menjadi cerminan yang merefleksikan kerapuhan sistem pendidikan kita terhadap disrupsi dan menyoroi perlunya adaptabilitas serta solusi yang lebih inklusif dan suportif.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”


































































