Mojokerto ─ Di banyak sekolah, perundungan masih sering disamarkan sebagai “sekadar bercanda”. Padahal, bagi anak yang menjadi sasaran, ejekan berulang, julukan merendahkan, atau pengucilan tidak pernah terasa lucu. Ia meninggalkan rasa malu, takut, dan cemas yang bisa terbawa hingga dewasa. Karena itu, upaya membangun sekolah ramah anak tidak cukup berhenti pada poster atau slogan; ia harus menjelma menjadi budaya yang hidup di ruang kelas, halaman sekolah, hingga grup percakapan digital.
Sosialisasi MI Miftahul Huda Bulak Kunci Mojokerto
Pengalaman sosialisasi “Program Sekolah Peduli: Peningkatan Pengetahuan Jenis Bullying dan Dampak Psikologis bagi Siswa” di SD Negeri Nogosari (Desa Nogosari) dan MI Miftahul Huda, Dusun Bulak Kunci, memperlihatkan persoalan yang sering kita abaikan: pengetahuan dasar tentang perundungan belum merata. Banyak siswa menganggap ejekan adalah hal wajar, sementara pengucilan dianggap “urusan pertemanan”. Ketika materi disampaikan dengan bahasa sederhana melalui pemaparan singkat, tanya jawab, dan contoh kejadian yang dekat dengan keseharian anak mereka baru melihat bahwa perilaku tertentu memiliki konsekuensi serius. Dari sini, saya semakin yakin bahwa edukasi anti-perundungan bukan kegiatan seremonial, melainkan kebutuhan rutin.
Pertama, sekolah perlu menyamakan definisi. Bullying bukan konflik sesaat antar-teman. Ia biasanya terjadi berulang, melibatkan ketimpangan kuasa (misalnya pelaku lebih kuat, lebih senior, atau didukung kelompok), dan menimbulkan kerugian pada target. Bentuknya pun tidak melulu fisik. Ia bisa berupa verbal (ejekan, hinaan, julukan), fisik (mendorong, memukul, merampas barang), sosial (mengucilkan, mempermalukan, menyebar gosip), hingga perundungan digital (cyberbullying) lewat pesan singkat maupun grup pertemanan. Ketika definisi ini jelas, sekolah dapat membedakan mana candaan yang disepakati kedua pihak dan mana tindakan yang melukai serta harus dihentikan.

Kedua, dampak psikologis perundungan sering tidak kasat mata, tetapi nyata. Anak yang dirundung bisa takut datang ke sekolah, kehilangan kepercayaan diri, mengalami kecemasan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, hingga menarik diri dari pergaulan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu prestasi akademik, relasi sosial, bahkan kesehatan mental. Karena itu, penanganan perundungan tidak bisa hanya berupa hukuman sesaat; ia harus disertai pemulihan korban, pembinaan pelaku, dan perbaikan lingkungan sosial di kelas agar kejadian tidak berulang.
Ketiga, peran teman sebaya menentukan arah situasi. Banyak kasus berlangsung lama karena saksi memilih diam, ikut menertawakan, atau takut dianggap “baper” jika membela korban. Padahal, dukungan sederhana mengajak korban menjauh, menolak ajakan pelaku, dan melapor kepada guru sering menjadi titik balik. Anak juga perlu tahu langkah praktis saat menghadapi atau menyaksikan perundungan: tidak menyebarkan cerita yang mempermalukan, tidak ikut-ikutan, memberi dukungan pada korban, dan mencari bantuan orang dewasa tepercaya. Pesan yang patut terus diulang adalah: melapor bukan “mengadu”, melainkan tindakan berani untuk menjaga keselamatan diri dan teman.

Sosialisasi SD Negeri Nogosari Pacet Mojokerto
Namun, membangun “sekolah peduli” tidak cukup mengandalkan keberanian anak. Ia membutuhkan sistem yang memudahkan orang berbuat benar. Sekolah perlu memiliki prosedur pelaporan yang aman, mudah, dan tidak mempermalukan korban misalnya melalui wali kelas, guru BK/konselor, atau kanal pengaduan yang jelas. Guru dan tenaga kependidikan perlu pelatihan untuk mengenali tanda-tanda perundungan, merespons cepat, dan melakukan mediasi yang adil tanpa menyalahkan korban. Orang tua pun harus dilibatkan agar pesan di rumah selaras dengan budaya di sekolah: tidak menormalisasi ejekan, tidak memaklumi kekerasan, dan tidak menganggap perundungan sebagai “bagian dari proses tumbuh”.
Di era gawai, literasi digital menjadi bagian penting dari pencegahan. Cyberbullying bisa terjadi di luar jam sekolah, tetapi dampaknya kembali ke ruang kelas. Anak perlu dibekali kebiasaan aman: tidak menyebarkan konten yang mempermalukan, menyimpan bukti jika terjadi perundungan digital, memblokir akun pelaku, dan segera mencari bantuan orang dewasa tepercaya. Sekolah dapat mengintegrasikan etika bermedia dan keamanan digital dalam pembelajaran, bukan hanya melalui larangan, tetapi lewat dialog yang membangun empati serta kesadaran bahwa jejak digital punya konsekuensi.
Pada akhirnya, sekolah ramah anak adalah sekolah yang konsisten: menegakkan aturan tanpa pilih kasih, memberi ruang aman bagi korban, dan mengajarkan empati sebagai keterampilan sosial. Program edukasi seperti yang dilakukan di Nogosari dan Bulak Kunci penting sebagai pintu masuk. Tetapi yang lebih menentukan adalah kesinambungan keteladanan guru, komunikasi yang menghargai, serta sinergi sekolah, orang tua, dan lingkungan. Jika budaya “candaan” yang melukai dibiarkan, kita sedang mewariskan normalisasi kekerasan pada generasi berikutnya. Sebaliknya, bila “sekolah peduli” dijalankan sebagai kebiasaan sehari-hari, kita sedang membangun ruang belajar yang sehat, nyaman, dan benar-benar bebas perundungan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































