JAKARTA SELATAN – Generasi Z (Gen Z) tengah mengalami revolusi dalam cara mereka mengelola masalah emosional. Bukan lagi teman sebaya atau keluarga yang jadi tempat curhat pertama, melainkan asisten AI seperti ChatGPT. Fenomena ini bukan sekadar iseng, tapi tren nyata yang sedang viral di sosial media.
Pleasent Experience yang Bikin Lega
Dilansir dari Vogue, tren curhat ke AI seperti ChatGPT atau chatbot sejenis kini semakin populer, terutama di kalangan Gen Z yang sudah terbiasa mengandalkan teknologi untuk berbagai kebutuhan, termasuk soal kesehatan mental. Banyak pengguna Gen Z mengaku merasa lega setelah bercerita ke AI. “Rasanya seperti punya teman yang selalu siap mendengarkan, nggak pernah marah, nggak pernah bosan,” tulis salah satu pengguna di Instagram.
Walaupun terdengar aneh, tetapi memang ada tren di sosial media yang memberikan testimoni curhat dengan ChatGPT merupakan “pleasent experience” yang bikin lega. Kata “pleasent” mungkin typo dari “pleasant” (menyenangkan), tapi justru itu yang membuatnya terasa natural dan autentik seperti curhat biasa dengan teman.
Mengapa Gen Z Lebih Nyaman ke AI?
Mungkin terdengar aneh, tapi faktanya banyak Gen Z yang memilih curhat ke ChatGPT. Alasannya simpel: AI tidak menyalahkan, tidak menginterupsi, dan selalu menjawab dengan tenang. Ada lima alasan kuat mengapa Gen Z memilih AI daripada manusia:
1. Bebas Stigma — Curhat ke AI tidak membuat takut dihakimi atau dianggap “lemah emosional”
2. Akses 24/7 — Chatbot bisa dijangkau kapan saja, bahkan di malam hari saat butuh bantuan
3. Praktis & Cepat — Tidak perlu menunggu janji temu, langsung bisa bercerita
4. Privasi Terjamin — Tidak ada risiko cerita bocor ke orang lain
5. Respons Konsisten — AI selalu memberikan jawaban yang tenang dan tidak emosional.
Fakta ini didukung oleh survei dari U Consulting, yang mencatat bahwa 33 persen Gen Z telah beralih ke AI untuk membantu menjaga kesehatan mental mereka. Dari berbagai alat berbasis AI yang tersedia, ChatGPT menjadi pilihan utama, diikuti oleh Gemini, DeepSeek, dan Copilot.
Manfaat: Akses Kesehatan Mental Lebih Terbuka
Pakar kesehatan mental mengakui bahwa AI bisa menjadi alat bantu yang bermanfaat. Banyak Gen Z menggunakan AI untuk melakukan konsultasi kesehatan mental karena lebih nyaman dan murah. Untuk Gen Z yang sering kesulitan mencari bantuan profesional karena biaya tinggi atau stigma, chatbot bisa menjadi alternatif pertama untuk mengatasi kecemasan dan stres.
AI menawarkan peluang penting untuk meningkatkan akses dan personalisasi layanan kesehatan mental bagi Gen Z. Penelitian di jurnal ilmiah menunjukkan bahwa kesepian, kebutuhan privasi, dan pengalaman penolakan sosial menjadi faktor utama terbentuknya ikatan emosional dengan AI.
Kekhawatiran Pakar: AI Tak Punya Perasaan — Mirip Narkoba!
Namun, para pakar tetap khawatir. Meskipun AI bisa memberikan respons yang terasa empatik, AI sebenarnya tidak punya perasaan. Kondisi ini akhirnya meningkatkan risiko kesepian jika Gen Z ketergantungan curhat sama AI.
Fenomena viral Gen Z lebih memilih curhat ke ChatGPT memicu perhatian psikolog yang mengungkapkan alasannya: mirip narkoba. Psikolog menjelaskan bahwa ketergantungan berlebihan bisa menyebabkan:
1. Menurunnya kemampuan berpikir kritis
2. Stres ketika tidak ada akses teknologi.
3. Kesulitan mengatur emosi secara mandiri.
4. Berkurangnya kemampuan empati dalam interaksi manusia.
5. Menurunkan motivasi untuk mencari dukungan sosial secara langsung.
Memperkuat kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
Dr. Kristiana Siste, Psikiater FKUI-RSCM, memperingatkan bahwa praktik self-diagnosis kesehatan jiwa pakai AI berisiko menyesatkan karena AI tidak selalu mampu membaca gejala dengan benar. Banyak remaja dan dewasa muda kini bergantung pada chatbot untuk mencari tahu kepribadian hingga dugaan depresi, seperti bertanya “Aku depresi nggak sih?”.
Bahaya: AI Jadi “Diary Digital” yang Menggangu Komunikasi
Pakar IPB mengungkapkan dampak buruk remaja yang lebih nyaman curhat ke AI. Fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan komunikasi antara remaja dengan orang tua maupun jejaring sosialnya. Selain itu, ketergantungan emosional pada AI berpotensi menghambat keterampilan sosial remaja.
AI yang selalu memberi respons instan membuat remaja kurang belajar mengelola frustasi, menunggu, atau bernegosiasi dengan orang lain. Penelitian terhadap 50 partisipan remaja berusia 17 tahun menunjukkan bahwa meskipun AI memberikan respons yang cepat dan tampak empatik, ketergantungan tinggi dapat menurunkan motivasi untuk mencari dukungan sosial langsung.
Di Antara Teknologi dan Kemanusiaan
Gen Z memang perlu seimbang dalam memanfaatkan AI untuk curhat. AI bisa menjadi alat bantu yang berguna, tapi bukan pengganti teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental. U Consulting merekomendasikan penggunaan AI sebagai pendahuluan, bukan solusi akhir untuk masalah kesehatan mental serius.
Saran dari para ahli:
1. Gunakan AI sebagai pengantar, bukan solusi tunggal.
2. Tetap mencari bantuan dari manusia untuk masalah berat.
3. Jangan mengandalkan AI 100% untuk mengelola emosi.
4. Jaga komunikasi dengan teman dan keluarga.
5. Masa Depan: AI atau Manusia?
Fenomena curhat ke AI ini menunjukkan bahwa Gen Z sedang mencari cara baru untuk memahami diri sendiri. Mereka ingin ruang aman yang bebas stigma, tapi tetap perlu menjaga hubungan emosional dengan manusia. Seperti kata salah satu pengguna Gen Z: “AI keren, tapi nggak bisa menggantikan teman yang ngerti perasaanku”.
CEO OpenAI juga mengakui bahwa banyak Gen Z menggunakan AI untuk konsultasi kesehatan mental karena lebih nyaman, namun tetap menekankan pentingnya bantuan profesional untuk masalah serius. Chatbot bisa jadi teman curhat yang praktis, tapi manusia tetaplah yang paling bisa memberikan empati nyata.
Oleh : Rifa Alya Hanifah, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































