Sejak beberapa tahun terakhir, harga pupuk kimia terus mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat petani kesulitan dalam menjalankan kegiatan bertani karena biaya produksi menjadi lebih tinggi. Harga pupuk yang semakin mahal juga dapat memaksa petani mengurangi dosis pemakaian, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan hasil panen dan berdampak pada kesejahteraan mereka (Hidayatullah, 2024).
Pada pertanian modern, penggunaan pupuk kimia sebenarnya sudah sering digunakan untuk meningkatkan hasil panen. Namun, jika digunakan dalam jangka panjang, pupuk kimia dapat memberikan dampak buruk terhadap tanah maupun hasil pertanian. Jakiah et al. (2022) mengemukakan bahwa penggunaan pupuk kimia yang terlalu sering dapat menyebabkan turunnya keseburan tanah dan mengurangi keanekaragaman mikroba di dalamnya. Ketika mikroba tanah menurun, struktur dan kualitas tanah juga ikut menurun, yang pada akhirnya mengakibatkan degradasi tanah.
Salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia adalah dengan menggunakan pupuk kompos berbasis bioteknologi. Pupuk kompos diperoleh melalui proses pelapukan bahan organik seperti dedaunan, jerami, rumput, kotoran hewan, sisa sayur ataupun buah- buahan (Herawaty et al., 2023). Bioteknologi ialah bidang ilmu yang memanfaatkan organisme hidup seperti bakteri, jamur, virus, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan berbagai produk yang bermanfaat bagi manusia (Adrianto et al., 2021). Dalam proses pembuatan kompos, bioteknologi diterapkan melalui penggunaan mikroorganisme seperti bakteri pengurai dan jamur yang membantu mempercepat penguraian bahan organik serta meningkatkan kandungan nutrisi dalam kompos.
Selain itu, di tengah harga pupuk kimia yang semakin mahal dan sulit dijangkau, pupuk kompos berbasis bioteknologi ini menjadi pilihan alternatif yang lebih ekonomis. Bahan dasarnya berasal dari limbah organik yang mudah ditemukan dalam aktivitas sehari-hari, sehingga proses pebuatannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Bahkan, petani dapat membuatnya sendiri tanpa harus bergantung pada pemakaian pupuk kimia.
Beberapa keunggulan dari penggunaan pupuk kompos berbasis bioteknologi diantaranya:
1. Ramah lingkungan
Pupuk kompos berbasis bioteknologi bekerja melalui proses penguraian alami tanpa penambahan zat kimia yang dapat menurunkan kualitas tanah. Kehadiran mikroorganisme di dalamnya membantu menyuburkan tanah sehingga penggunaannya lebih bersifat mendukung kelestarian lingkungan.
2. Memperbaiki struktur dan kesuburan tanah
Pupuk ini memberikan perbaikan yang menyeluruh mulai dari permukaan tanah hingga ke bagian dalam. Tanah menjadi lebih gembur, kemampuan menahan air meningkat, dan aktivitas mikroba berlangsung lebih aktif sehingga unsur hara dapat diserap tanaman dengan lebih optimal. Efek seperti ini biasanya tidak diperoleh dari pupuk kimia yang hanya menambahkan nutrisi tertentu.
3. Lebih ekonomis
Bahan penyusun pupuk kompos mudah diperoleh di sekitar petani, misalnya kotoran hewan, jerami, atau limbah organik rumah tangga. Pemanfaatan bahan tersebut dapat menekan biaya produksi tanpa ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya sering berubah.
Sementara itu, pupuk kompos berbasis bioteknologi juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
1. Hasilnya tidak secepat pupuk kima
Pupuk ini bekerja secara bertahap karena harus memperbaiki kondisi tanah terlebih dahulu sebelum tanaman memperoleh manfaatnya. Oleh karena itu, hasil yang tampak tidak secepat ketika menggunakan pupuk kimia.
2. Berpotensi menimbulkan bau jika proses pembuatan tidak tepat
Jika kompos diproduksi dalam kondisi terlalu lembap atau minim udara, mikroba anaerob dapat berkembang dan menimbulkan aroma tidak sedap, yang menandakan proses pengomposan tidak berlangsung dengan baik.
3. Membutuhkan pemantauan dan perawatan rutin
Dalam pembuatannya, kompos harus diperiksa secara berkala, mulai dari menjaga tingkat kelembapan, memastikan aerasi cukup, hingga mempertahankan suhu yang stabil. Kompos juga perlu diaduk sesekali agar penguraian berlangsung merata. Tanpa perawatan tersebut, kualitas kompos dapat menurun.
Di tengah harga pupuk kimia yang terus melonjak, sudah saaatnya kita mempertimbangkan alternatif yang lebih berkelanjutan. Pupuk kompos berbasis bioteknologi ini dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pemakaian pupuk kimia. Selain itu pupuk ini juga membantu menyuburkan tanah secara alami, sehingga petani tetap dapat menjaga produktivitas lahannya tanpa harus terbebani oleh biaya yang semakin tinggi.
Referensi:
Hidayatullah, R. A. 2024. Keresahan Akibat Kelangkaan dan Kenaikan Harga Pupuk bagi Para Petani di Indonesia. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ). Vol. 2: 84–91.
Jakiah, N., Harahap, M. S., Fauzi, R., Elindra, R., Lubis, R., Nasution, F. H., Nasution, H. N., Nasution, S. W. R., Nasution, N. F., dan Tanjung, S. R. 2022. Pengolahan kulit buah kopi menjadi pupuk organik alternatif ketergantungan pupuk anorganik di Desa Aek Sabaon. Jurnal Abdimas PHB. Vol. 5(1): 112–117.
Herawaty, H., Mukhlishah, N., Harlina, H., Mahi, F., dan Muchtar, A. A. 2023. Pengenalan pupuk kompos untuk pertumbuhan tanaman di Bumi Perkemahan H. M. Yasin Limpo Candika, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Journal of Training and Community Service Adpertisi (JTCSA). Vol. 3(2): 8–12.
Andrianto, H., Ulinniam, U., Purwanti, EW, Yusal, MS, Widyastuti, DA, Sutrisno, E., Tamaela, KA, Dailami, M., Purbowati, R., Angga, LO, Hasibuan, AKH, Hariri, MR, Nendissa, DM, Nendissa, Nendissa, Snavisan, A., Notarian, L. Chrisnawati, dan L. Chrisnawati. 2021. Bioteknologi. Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































