Dengan potensi pertanian yang luar biasa, Indonesia sering disebut sebagai negara agraris. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah terus mengembangkan berbagai inovasi, termasuk benih unggul, pupuk hayati, dan teknologi pertanian digital canggih. Di balik kemajuan tersebut, bagaimanapun, muncul pertanyaan penting: mengapa banyak petani di lapangan masih belum merasakan dampak dari kemajuan tersebut?
Realitas lapangan menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara dunia penelitian dan praktik pertanian. Banyak temuan penelitian sebenarnya inovatif dan potensial, tetapi petani tidak benar-benar dapat menggunakannya. Akibatnya, inovasi hanya menjadi laporan penelitian daripada solusi praktis.
Inovasi tidak sesuai dengan kebutuhan petani, yang merupakan faktor utama. Banyak penelitian dilakukan karena kepentingan akademik daripada masalah lapangan yang sebenarnya. Misalnya, teknologi tidak sesuai dengan kebutuhan petani kecil, terlalu rumit, atau terlalu mahal. Padahal, sebagian besar petani di Indonesia adalah petani kecil dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektar, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Karena hal ini, mereka cenderung memilih metode yang mudah, murah, dan aman.
Faktor lainnya adalah sistem penyuluhan pertanian yang lemah. Penyuluh seharusnya berfungsi sebagai jembatan antara inovasi dan petani, tetapi jumlah penyuluh yang terbatas dan intensitas pendampingan yang rendah membuat proses transfer teknologi tidak berjalan dengan baik. Banyak petani akhirnya tidak tahu ada inovasi baru atau bagaimana menggunakannya.
Akses teknologi dan modal juga merupakan hambatan. Tidak semua petani memiliki sumber daya keuangan yang diperlukan untuk mencoba inovasi baru, terutama yang membutuhkan investasi awal yang signifikan. Kegagalan juga menjadi pertimbangan utama karena bagi petani, kegagalan berarti kehilangan pendapatan, sehingga mereka cenderung berhati-hati saat mencoba hal baru.
Hubungan antara kampus dan masyarakat, di sisi lain, belum terbentuk dengan baik. Petani tidak terlibat dalam banyak penelitian. Namun, agar inovasi yang dibuat memenuhi kebutuhan, pendekatan partisipatif sangat penting. Kampus tidak hanya harus menjadi pusat penelitian, tetapi juga harus membantu petani memecahkan masalah nyata di lapangan.
Untuk menyelesaikan masalah ini, metodologi penelitian pertanian harus diubah. Peneliti harus pergi ke lapangan dan memahami situasi petani secara langsung. Inovasi harus sederhana, murah, dan praktis. Penguatan sistem penyuluhan juga sangat penting untuk kualitas dan jumlah penyuluh.
Selain itu, kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan petani harus diperkuat. Laboratorium lapang dan desa binaan, misalnya, dapat menjadi solusi praktis untuk menguji dan menerapkan inovasi secara langsung. Oleh karena itu, hasil penelitian tidak hanya disimpan di jurnal tetapi juga bermanfaat.
Pada akhirnya, bukan kecanggihan teknologi yang menentukan keberhasilan inovasi pertanian, tetapi manfaat yang dihasilkannya bagi petani. Inovasi tidak akan berhasil jika petani tidak menggunakannya. Agar pertanian Indonesia benar-benar maju dan berkelanjutan, praktik dan dunia akademik harus bekerja sama.
Penulis: muhammad fikri imam murtadzo/ universitas boyolali, program studi agroteknologi
nim A2306103501004
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































