Di industri konstruksi Indonesia, kabar baik terasa seperti barang langka. Yang lebih sering muncul justru laporan restrukturisasi, beban bunga, proyek yang tertunda, dan laba yang menguap sebelum sempat dinikmati. Di antara deretan emiten anak perusahaan BUMN karya yang masih tertatih menata ulang neraca, WIKA Beton berdiri di posisi yang tidak biasa: tetap membukukan laba, meski tipis, ketika tekanan industri belum juga reda.
Itulah yang membuat nama Kuntjara relevan untuk dibicarakan. Bukan karena WIKA Beton sedang dalam euforia, melainkan karena perusahaan ini berhasil melakukan sesuatu yang semakin jarang di sektor konstruksi pelat merah: bertahan sehat tanpa mengorbankan disiplin bisnis.
Kisah BUMN karya dalam beberapa tahun terakhir adalah kisah ekspansi yang dibayar mahal. Proyek infrastruktur memang mempercepat konektivitas nasional, tetapi pembiayaannya sering meninggalkan beban utang besar, biaya bunga tinggi, dan ruang gerak yang sempit ketika siklus bisnis melambat.
Pada 2026, kondisi itu belum benar-benar pulih. Sejumlah emiten konstruksi pelat merah masih mengandalkan restrukturisasi untuk menjaga likuiditas, sementara laba bersih mereka tergerus atau bahkan masih terjebak rugi. Di pasar, narasinya sederhana: industri masih punya pekerjaan besar, tetapi kesehatannya belum kembali normal.
Di titik inilah WIKA Beton menarik perhatian. Perusahaan ini tidak kebal terhadap perlambatan. Pendapatannya pada 2025 justru turun menjadi sekitar Rp3,58 triliun–Rp3,59 triliun dari Rp4,89 triliun pada 2024, dan laba bersih ikut terkoreksi menjadi sekitar Rp40 miliar. Namun, yang membuatnya menonjol bukan ukuran laba, melainkan kenyataan bahwa angka itu tetap berada di wilayah positif ketika banyak rekan sekelas masih berhadapan dengan tekanan yang jauh lebih berat.
Secara bisnis, WIKA Beton bukan perusahaan konstruksi umum. Ia bermain di beton pracetak dan turunannya, yang membuat perusahaannya sangat bergantung pada efektivitas produksi, logistik, dan kedekatan dengan pelanggan proyek. Itu berarti daya tahan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh besar-kecilnya proyek, melainkan oleh seberapa rapat manajemen biaya dijaga dari pabrik sampai ke lokasi proyek.
Pada 2025, WIKA Beton mencatat kontrak baru sekitar Rp4 triliun, dan komposisinya cukup penting untuk dibaca: sektor infrastruktur masih dominan, tetapi kontribusi industri, kelistrikan, dan sektor lainnya juga ikut menopang. Yang lebih menarik, sekitar 55 persen pelanggan perusahaan berasal dari sektor swasta, sehingga perusahaan tidak sepenuhnya terjebak pada ketergantungan terhadap proyek pemerintah.
Itulah pembeda utama WIKA Beton. Di saat beberapa BUMN karya terlampau berat bertumpu pada proyek besar yang mahal dan kompleks, WIKA Beton cenderung membangun portofolio yang lebih tersebar. Strategi itu mungkin tidak spektakuler, tetapi justru memberi bantalan ketika industri berguncang.
Kuntjara bukan tipe eksekutif yang datang dari luar lalu membawa jargon perubahan. Ia sudah lama berada di dalam ekosistem WIKA Beton, termasuk saat menjabat Direktur Pemasaran dan Pengembangan Bisnis sebelum kemudian diangkat menjadi Direktur Utama pada 14 April 2022. Latar belakangnya juga khas: teknik sipil dari ITB, lalu memperkuat sisi bisnisnya lewat magister manajemen pemasaran.
Kombinasi itu penting. Dalam industri seperti beton pracetak, pemimpin yang paham teknik sekaligus pasar biasanya lebih cepat membaca batas kapasitas produksi, kebutuhan pelanggan, dan konsekuensi finansial dari setiap keputusan proyek. Dalam konteks WIKA Beton, Kuntjara tampak memimpin dengan gaya yang tidak gaduh, tetapi cukup tegas untuk menjaga perusahaan tetap berada dalam rel yang aman.
Penghargaan seperti Best CEO 2024 dan pengakuan tata kelola di ajang GRC menunjukkan bahwa kepemimpinannya dibaca bukan hanya dari hasil akhir, tetapi juga dari cara membangun organisasi. Namun di level bisnis, yang paling terasa justru kesan bahwa ia memimpin dengan disiplin, bukan dengan narasi besar.
Strategi pertama adalah efisiensi. WIKA Beton pada 2026 menjelaskan bahwa perbaikan kinerja didorong oleh inovasi produksi dan inovasi proses, terutama untuk menekan waste di sepanjang rantai kerja. Dalam bisnis beton, pemborosan kecil bisa memakan margin secara cepat. Maka ketika perusahaan berhasil merapikan proses, dampaknya langsung terasa di laba operasional.
Strategi kedua adalah selektivitas proyek. WIKA Beton tidak terlihat memaksakan pertumbuhan hanya demi mengejar angka pendapatan. Perusahaan lebih memilih kontrak yang memberi ruang likuiditas dan kualitas margin yang lebih sehat. Pendekatan ini mungkin membuat pendapatan turun pada saat tertentu, tetapi membantu menjaga laba tetap hidup. Termasuk kemampuan memperoleh proyek luar negeri di Manila.
Strategi ketiga adalah deleveraging. Sepanjang 2025, total liabilitas WIKA Beton turun sekitar 25,76 persen menjadi Rp2,60 triliun dari Rp3,50 triliun pada 2024. Penurunan itu didorong pelunasan sebagian utang usaha dan pengurangan utang jangka panjang. Di sektor yang sering terperangkap dalam beban bunga, langkah ini sama pentingnya dengan mencari proyek baru.
Strategi keempat adalah diversifikasi pasar. Dengan pelanggan swasta yang cukup besar dan kontrak dari sektor industri serta kelistrikan, WIKA Beton menahan risiko terlalu bergantung pada satu jenis proyek. Itu sebabnya perusahaan punya napas lebih panjang saat siklus proyek pemerintah tidak semeriah sebelumnya.
Yang membuat strategi itu bekerja adalah kesesuaiannya dengan karakter industrinya. WIKA Beton tidak mencoba menjadi segalanya. Ia memilih menjadi pemain yang lebih ramping, lebih disiplin, dan lebih dekat pada operasi inti.
Saat banyak perusahaan konstruksi tergoda mengejar skala, WIKA Beton justru mengutamakan kualitas portofolio dan kesehatan kas. Ketika banyak pemain besar harus menanggung biaya masa lalu, WIKA Beton fokus mencegah biaya baru tumbuh terlalu cepat. Dalam kondisi seperti itu, kemenangan bukan berarti melonjak besar. Kemenangan justru berarti tetap hidup sehat.
Ada juga pelajaran soal momentum. WIKA Beton memanfaatkan 2026 bukan untuk euforia, tetapi untuk konsolidasi. Laba memang turun dibanding 2024, tetapi perusahaan tetap untung dan berhasil menjaga struktur modal lebih ringan. Di sektor yang sering dinilai dari seberapa cepat tumbuh, kemampuan memperlambat langkah kadang justru jadi keputusan paling cerdas.
Kisah Kuntjara dan WIKA Beton yang juga merupakan bagian dari ekosistem Danantara memberi satu pesan yang sangat relevan untuk pemimpin bisnis: pertumbuhan tanpa disiplin pada akhirnya menagih harga. Di industri padat modal, reputasi tidak dibangun hanya oleh proyek besar, tetapi juga oleh kemampuan menjaga neraca tetap waras.
Ada juga pelajaran tentang kepemimpinan yang tidak perlu berisik untuk efektif. Kuntjara tampak memimpin dengan kombinasi teknis, pasar, dan tata kelola—tiga hal yang jarang berjalan seimbang jika seorang pemimpin terlalu sibuk mengejar sorotan. Dalam situasi seperti itu, hasil yang konsisten sering lebih berharga daripada kata-kata besar.
Kisah ini mengingatkan bahwa dalam krisis, perusahaan tidak selalu menang karena yang paling agresif. Kadang justru yang paling teliti, paling sabar, dan paling tahu kapan harus menahan diri yang bertahan lebih lama. WIKA Beton adalah contoh bahwa di tengah industri yang letih, disiplin masih bisa menjadi strategi yang paling modern.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































