Namanya Muhammad Rifqi Nur Majid, lahir di Banyuwangi pada tahun 2003. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah berani mewujudkan mimpi besar: menjadi seorang pengusaha kontraktor. Namun seperti kebanyakan kisah sukses, perjalanannya sama sekali tidak instan. Ia harus melewati jalan berliku, penuh kegagalan, sebelum akhirnya menemukan jalan yang benar-benar sesuai dengan panggilan hidupnya.
Awal mula perjalanan bisnisnya dimulai dari hal yang terlihat sederhana: jual beli iPhone. Sayangnya, bisnis ini tidak berjalan seperti yang diharapkan. Rifqi harus menerima kenyataan pahit berupa kerugian. Namun, alih-alih menyerah, ia mencoba keuntungan lain di bisnis jual beli mobil. Sekali lagi, ia harus belajar dari kerugian yang serupa.
Dua kali gagal di usia muda tentu bukan pengalaman yang mudah. Banyak orang akan berhenti dan mencari jalan yang lebih aman. Namun bagi Rifqi, dua kegagalan itu bukan tanda untuk berhenti, melainkan sinyal bahwa ia perlu mencari arah yang benar-benar sesuai dengan kekuatannya.
“Dua kegagalan itu bukan tanda untuk berhenti, melainkan sinyal bahwa ia perlu mencari arah yang benar-benar sesuai dengan kekuatannya.”
Dari dua kegagalan itu, Rifqi justru menemukan arah baru yang lebih menjanjikan. Ia memutuskan mengambil langkah besar dengan masuk ke dunia kontraktor. Bukan lewat jalan pintas, ia memulai dengan cara yang matang dan penuh strategi: memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi, sekaligus lebih dulu bekerja sama dengan perusahaan lain untuk membangun hubungan dan menimba pengalaman langsung di lapangan.
Kerja kerasnya perlahan menghasilkan hasil. Klien pertama datang dalam bentuk proyek pembangunan masjid senilai 800 juta rupiah. Bagi seorang pemula, ini adalah pencapaian besar yang menjadi titik awal kepercayaan orang lain terhadap kemampuan. Proyek masjid ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan bukti nyata bahwa keseriusan dan kerja keras bisa membuka pintu-pintu kepercayaan baru. Yang menarik, semua pencapaian ini ia jalani sambil tetap menempuh pendidikan di salah satu Universitas Negeri Yogyakarta. Di tengah kesibukan kuliah, ia tetap turun langsung mengontrol setiap pekerjaan proyeknya, membuktikan bahwa manajemen waktu yang baik dan tanggung jawab penuh terhadap pekerjaan adalah kunci utama kesuksesannya.
Perjalanan tentu tidak selalu mulus. Saat memegang proyek senilai 2 miliar rupiah, ia kembali menghadapi kerugian sekitar 40 juta rupiah. Namun bagi Rifqi, kerugian bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses belajar menuju sesuatu yang lebih besar.
Dari rangkaian jatuh bangun itulah lahir sebuah babak baru dalam perjalanan Rifqi: Fasco. Perusahaan ini menjadi wujud nyata dari semua pelajaran yang telah ia kumpulkan sejak masa-masa awal yang penuh kegagalan. Jika dulu ia belajar dari kerugian jual beli iPhone dan mobil, kini ilmu risiko manajemen itu ia terapkan dalam mengelola proyek-proyek konstruksi yang jauh lebih kompleks dan bernilai besar.
Bersama Fasco, Rifqi tidak lagi sekedar menjadi individu yang mencoba peruntungan, tetapi telah bertransformasi menjadi sosok yang membangun sistem, tim, dan reputasi yang berkelanjutan. Setiap proyek yang ditangani Fasco menjadi bukti bahwa kegagalan-kegagalan di masa lalu bukanlah beban, melainkan fondasi yang memperkuat cara Rifqi mengambil keputusan, menghitung risiko, dan memastikan kualitas hasil kerja.
Kisah Rifqi mengajarkan satu hal penting bagi siapa pun yang sedang merintis jalan, termasuk dalam membangun portofolio diri: jangan takut memulai dari nol, dan jangan malu jika harus jatuh berkali-kali. Setiap kerugian, setiap proyek yang belum sempurna, setiap kesalahan di awal karier, sesungguhnya adalah bahan baku untuk membangun kredibilitas yang lebih kuat di masa depan.
Portofolio yang kuat bukan lahir dari perjalanan yang mulus tanpa cela, melainkan dari keberanian menunjukkan proses: dari mana memulai, apa yang pernah gagal, dan bagaimana bangkit menjadi lebih baik. Sama seperti Rifqi yang berani menampilkan perjalanannya dari jual beli iPhone yang rugi, mobil yang juga rugi, hingga kini memimpin Fasco sebagai perusahaan kontraktor yang terus berkembang, setiap orang yang sedang membangun portofolionya pun mampu menunjukkan perjalanan otentik mereka, lengkap dengan jatuh bangunnya.
Kegagalan bukan akhir, tapi guru terbaik bagi siapa saja yang mau terus bangkit dan mencoba. Dan Fasco adalah bukti hidup bahwa proses belajar itu, jika dijalani dengan konsisten, pada akhirnya akan membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar keuntungan finansial: sebuah warisan kepercayaan.
Biografi Singkat
Muhammad Rifqi Nur Majid, penerus Fasco
LAHIR | Banyuwangi, 2003 |
KEGAGALAN AWAL | Jual-beli iPhone & mobil |
PROYEK PERTAMA | Masjid, senilai Rp 800 juta |
TANTANGAN BESAR | Proyek Rp 2 miliar, rugi Rp 40 juta |
SEKARANG | Pendiri & pemilik Fasco (kontraktor) |
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































