Per April 2026, seluruh Sekolah Menengah Pertama di Indonesia secara serentak melakukan Tes Kemampuan Akademik (TKA) terhadap siswa/i kelas 9 sebagai ketentuan untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang selanjutnya, yaitu Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan. TKA tidak hanya diselenggarakan pada jenjang pendidikan SMP dan setara, tetapi juga di semua jenjang pendidikan hingga SMA dan setara demi bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Pelaksanaan ujian TKA ini tidaklah wajib untuk semua siswa/siswi karena ujian ini diperuntukkan untuk pendaftaran masuk sekolah negeri. Sehingga untuk siswa/siswi yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah swasta tidak perlu mengikuti ujian TKA.
Setiap SMP maupun jenjang pendidikan lainnya di penjuru Indonesia mempersiapkan sekolah mereka untuk pelaksanaan ujian TKA yang akan diselenggarakan secara online dengan pengawas yang terdiri dari guru pilihan dari sekolah lain. Mengutip dari kemendikdasmen.go.id, terdapat total 4.207.516 peserta yang mengikuti TKA dari jenjang pendidikan SMP dan setara. Dengan jumlah peserta yang terbilang melimpah, pihak kedinasan telah menyiapkan jadwal bagi para siswa/siswi kelas 9 untuk menjalankan ujian TKA dengan teratur dan sistematis.

Tipe soal yang termuat dalam ujian TKA hanya terdiri dari dua jenis, yaitu numerasi dan literasi. Kedua jenis soal inilah yang dijadikan acuan sebagai tes kompetensi siswa/siswi dalam hal penalaran, pemahaman, logika, dan penerapan materi pada kehidupan sehari-hari. Melihat kompetensi yang bisa ditimbulkan melalui ujian TKA, tidak heran bahwa ujian ini tidak hanya menguji kemampuan para siswa/siswi saja, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi mereka dalam kehidupan yang akan datang.
Namun, Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen GTKPG Kemendikdasmen), pada wawancaranya dalam artikel yang diunggah di DetikEdu.com mengutarakan bahwa manfaat dari program TKA ini tidak terbatas pada para siswa/siswi, tetapi juga pada para pengajar. Sekilas, pernyataan ini terkesan membingungkan karena ujian TKA terlihat seperti berfokus pada kompetensi siswa/siswi saja. Tetapi, Nunuk Suryani dalam artikel tersebut menyatakan bahwa hasil ujian TKA para siswa/siswi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam metode mengajar guru. Untuk memastikan keterangan ini, diperlukan wawancara terhadap guru yang berkecimpung langsung dalam mempersiapkan dan menghadapi siswa/siswi yang menjalankan ujian TKA yang mana mungkin akan merasakan efek dari ujian TKA itu sendiri.
Budi, seorang guru Bahasa Indonesia di suatu SMP di Jawa Barat, menyampaikan bahwa beberapa waktu sebelum TKA dilaksanakan, para guru yang mengajar siswa/siswi kelas 9 diperintahkan untuk memusatkan fokus pengajaran mereka pada materi-materi yang sekiranya akan keluar pada soal ujian TKA.
“Sekitar habis Lebaran itu anak-anak kelas 9 udah belajarnya soal-soal TKA aja.”
Mengenai perihal TKA yang menjadi umpan balik metode mengajar, Budi sepenuhnya setuju dengan hal ini. Ia menyatakan soal ujian TKA pada bagian literasi memuat banyak bacaan yang memerlukan penalaran dan pemahaman, bukan sekadar mengingat materi. Untuk mengajari pemahaman dan penalaran, kemampuan serta metode guru dalam mengajar sangatlah krusial untuk menuntun siswa/siswi dalam suksesnya mengerjakan soal ujian TKA bagian literasi.
Oleh karena itu, Budi mempertimbangkan untuk menjadikan hasil ujian TKA siswa/siswi-nya pada tahun ini sebagai acuan perancangan metode mengajarnya di tahun berikutnya. Budi berencana untuk melihat hasil ujian TKA atau berbincang dengan siswa/siswi untuk menelaah materi mana yang dirasa kurang mereka kuasai agar ia bisa menekankan materi tersebut untuk angkatan selanjutnya.
“Kalo tahun depan ngajar kelas 9 lagi ya bakal lebih ditekenin materi yang kurang di tahun ini.”
Pelaksanaan ujian TKA yang baru diselenggarakan tahun ini mungkin bisa saja terasa asing bagi para siswa/siswi maupun para guru. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa ujian ini membawa banyak manfaat baik kepada para siswa/siswi yang mendapat kemampuan yang berguna dalam jangka panjang, maupun para guru yang dapat memperbaiki kompetensi mereka dalam mengajar.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


























































