Kamu pasti pernah melihat video laut yang dipenuhi sampah plastik atau menonton film dokumenter tentang es kutub yang semakin mencair, kemudian beralih ke konten lainnya. Bukan berarti kita jahat, tetapi ini justru menjadi pertanyaan menarik dari sudut pandang psikologi lingkungan, yaitu mengapa manusia bisa mengetahui sesuatu itu darurat, namun tetap diam?
Ada sebuah fenomena psikologis bernama difusi tanggung jawab, di mana semakin banyak orang yang terlibat dalam suatu masalah, semakin kecil pula rasa tanggung jawab yang dirasakan. Dalam permasalahan global seperti perubahan iklim, gas rumah kaca dan mencairnya es di kutub, fenomena ini sangat berbahaya karena bisa menimbulkan sikap saling menunggu. Karena kita cenderung berpikir bahwa perubahan iklim adalah urusan bersama sehingga merasa kontribusi pribadi kita tidak begitu berarti.
Data survei Pancet Planetary Health tahun 2021 membuktikan bahwa sebagian besar anak muda saat ini sudah sadar akan bahayanya perubahan iklim. Namun, sekadar tahu saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan mereka. Dalam psikologi lingkungan, kesenjangan antara apa yang kita ketahui dan apa yang benar-benar kita lakukan ini disebut sebagai penyimpangan sikap-perilaku atau penyimpangan nilai-tindakan. Dimana otak manusia secara alami lebih cepat menanggapi ancaman yang ada di depan mata dibandingkan isu yang bergerak lambat seperti krisis iklim. Para psikolog menyebut kondisi ini sebagai “jarak psikologis”, di mana kita sering menganggap masalah lingkungan sebagai sesuatu yang belum jelas, terjadi di tempat yang jauh, atau baru akan terjadi di masa depan, sehingga hilangnya rasa mendesak itu membuat respon kita jadi melemah.
Padahal, dampak kerusakan lingkungan sudah sangat nyata di Indonesia, mulai dari polusi udara Jakarta yang sempat menjadi salah satu yang terburuk di dunia menurut dara IQAir tahun 2021 sampai bencana banjir dan longsor di Sumatera akibat penggundulan hutan. Tetapi meskipun ancaman kesehatan dan keselamatan ini sudah di depan mata, sebagian besar masyarakat kita masih merasa tenang-tenang saja atau malah merasa masalah ini terlalu besar untuk diselesaikan sendirian.
Di sisi lain, kelompok yang telanjur peduli khususnya Gen Z, justru rentan mengalami eco-anxiety atau kecemasan akibat krisis bumi. Survei American Psychological Association tahun 2021 menunjukkan lebih dari 68% orang dewasa muda merasakan kecemasan ini, yang sering kali diperparah oleh kebiasaan mengonsumsi berita buruk secara terus-menerus atau doom scrolling. Kombinasi antara rasa baik yang besar dan narasi buruknya iklim ini pada akhirnya menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental mereka.
Psikologi lingkungan kontemporer membuktikan bahwa menyelamatkan bumi tidak harus lewat cara yang membebani atau membuat kita merasa bersalah. Alih-alih sekadar menuntut perubahan individu seperti memilah sampah, pendekatan ini jauh lebih efektif jika memberdayakan alami manusia melalui bukti sosial positif, narasi perubahan yang kuat, dan penguatan identitas sebagai generasi yang peduli. Dengan adanya sistem yang menyenangkan ini maka menjaga lingkungan justru akan terasa menyenangkan, terarah, dan mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ini juga menjadi pengingat bahwa ketika pemerintah, komunitas, dan individu bersatu menciptakan aksi nyata jauh lebih berdampak daripada sekadar slogan keren yang diulang-ulang. Disaat generasi muda yang bergerak dan ada sistem yang mendukung, maka peduli lingkungan bukan lagi hal yang berhenti di kepala, tapi bisa menjadi gaya hidup sehari-hari yang berkelanjutan. Pada akhirnya, perubahan besar itu dimulai ketika menjaga bumi tidak lagi terasa seperti beban, melainkan pilihan logistik yang paling mudah untuk dilakukan bersama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































