Malam sering menjadi waktu yang paling sunyi bagi Rico Zakwan Zaki.
Ketika aktivitas asrama mulai mereda dan teman-temannya terlelap, siswa XII PK 2 MAN 1 Yogyakarta itu masih terjaga dengan pikirannya sendiri. Di tengah gelap yang tenang, berbagai pertanyaan datang silih berganti.
Bagaimana jika gagal?
Bagaimana jika usaha yang selama ini dilakukan ternyata belum cukup?
Bagaimana jika ia tidak diterima di perguruan tinggi negeri mana pun?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya datang sekali. Ia hadir berulang kali selama masa persiapan SNBT, terutama ketika hari ujian semakin dekat dan hasil yang diharapkan belum kunjung terlihat.
Di siang hari, Rico mungkin tampak seperti murid biasa. Ia aktif berorganisasi saat kelas XI melalui Tonti dan Kepramukaan, berdiskusi dengan teman-teman, serta menjalani rutinitas sebagai murid asrama. Namun di balik itu, ada pergulatan yang tidak banyak diketahui orang.
Kecemasan.
Hari ini, semua kegelisahan itu telah menjadi bagian dari cerita yang ia kenang. Namanya kini tercatat sebagai mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP), salah satu fakultas hukum terbaik di Indonesia.
Tetapi perjalanan menuju titik itu tidak pernah benar-benar mudah.
Menariknya, pilihan Rico untuk mengambil jurusan Hukum justru lahir dari latar belakang yang mungkin tidak banyak diduga orang. Sebagai siswa Program Keagamaan (PK), ia terbiasa mempelajari ilmu-ilmu syariat dan pemikiran Islam. Dari sanalah ia mulai menyadari bahwa hukum, seperti halnya agama, memiliki peran besar dalam mengatur kehidupan masyarakat.
“Justru karena saya dari kelas Pendidikan Keagamaan, saya semakin memahami bahwa hukum sangat memengaruhi arah kehidupan bermasyarakat seperti halnya syariat yang saya pelajari di PK,” ujarnya.
Ketertarikan itu semakin tumbuh karena kegemarannya mengamati dinamika sosial dan politik. Di waktu senggang, Rico gemar menonton film-film sejarah. Salah satu favoritnya adalah Dunkirk (2017), film yang menggambarkan bagaimana keputusan besar dapat menentukan nasib banyak orang.
Perlahan, cita-cita itu menemukan bentuknya: Fakultas Hukum UNDIP.
Namun memiliki tujuan tidak selalu berarti perjalanan menjadi lebih mudah. Sebagai siswa asrama, Rico harus belajar membagi waktu di tengah aktivitas yang padat. Waktu belajar sering kali harus dicuri dari sela-sela kegiatan yang sudah terjadwal. Bersama teman-teman asrama, ia mengikuti berbagai program tryout dan les UTBK gratis dari sejumlah lembaga. Mereka saling berbagi informasi, bertukar materi, dan berdiskusi soal-soal yang sulit.
Meski demikian, tantangan terbesar bukan datang dari soal-soal UTBK. Tantangan terbesar justru berasal dari dirinya sendiri.
Semakin dekat dengan hari ujian, semakin sering muncul pikiran-pikiran yang mengganggu. Ia takut gagal. Takut usaha yang selama ini dilakukan masih belum cukup. Takut mengecewakan orang-orang yang menaruh harapan kepadanya. Perasaan itu bahkan sering membuatnya sulit tidur.

Tetapi Rico memilih untuk tidak lari dari ketakutan tersebut. Ia menjadikannya sebagai energi untuk terus bergerak. Ada satu kalimat yang selalu ia pegang selama masa perjuangan itu: Pressure is privilege. Tekanan adalah sebuah privilese.
Baginya, tekanan hadir karena ada sesuatu yang berharga yang sedang diperjuangkan. Jika tidak ada mimpi yang penting, tidak akan ada rasa takut kehilangan. Kalimat itu semakin bermakna ketika hasil SNBP dan SPAN tidak berpihak kepadanya.
Dua kegagalan datang lebih dulu sebelum kesempatan melalui SNBT tiba. Namun kegagalan itu justru menjadi titik balik. Ia belajar lebih serius, lebih disiplin, dan lebih fokus mempersiapkan diri menghadapi UTBK.
Di tengah seluruh proses tersebut, ada dua sosok yang selalu menjadi tempatnya kembali ketika semangat mulai melemah. Muh Munindar dan Iis Indriyani. Ayah dan ibunya tidak pernah memaksakan pilihan masa depan tertentu. Mereka memberikan kebebasan kepada Rico untuk menentukan jalan hidup yang ingin ditempuh.
Bagi sebagian orang, kebebasan mungkin terasa ringan. Namun bagi Rico, kepercayaan itu menghadirkan tanggung jawab yang besar. Ia ingin membuktikan bahwa kepercayaan tersebut tidak salah diberikan.
Yang paling sering diingatnya adalah nasihat sederhana dari kedua orang tuanya: kerja keras harus selalu diimbangi dengan doa. Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi pegangan yang menenangkan ketika kecemasan datang menghampiri. Saat usaha terasa belum cukup, Rico belajar menyerahkan sisanya kepada Allah.
Ketika pengumuman SNBT akhirnya tiba dan namanya dinyatakan diterima di Fakultas Hukum UNDIP, yang terlintas di pikirannya bukan hanya perjuangan dirinya sendiri. Ia teringat kedua orang tuanya. Mereka yang tidak pernah ikut mengerjakan tryout, tidak duduk di ruang ujian, dan tidak membaca tumpukan materi belajar. Namun mereka selalu hadir dalam bentuk yang lain: doa yang tidak pernah putus, dukungan yang tidak pernah berkurang, dan kepercayaan yang tidak pernah goyah.
Di UNDIP nanti, Rico ingin mendalami hukum tata negara dan memahami lebih jauh bagaimana hukum bekerja dalam kehidupan masyarakat. Ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mampu menghadirkan manfaat melalui ilmu yang dipelajarinya.
Namun sebelum semua itu dimulai, perjalanan menuju bangku kuliah telah lebih dulu mengajarkan satu pelajaran penting. Bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski rasa takut itu masih ada. Dan selama ini, yang membuat Rico terus bergerak bukan karena ia selalu yakin akan berhasil. Justru sebaliknya. Ia tetap berjalan meski sering dihantui kemungkinan gagal. Sampai akhirnya ia tiba di tempat yang selama ini diperjuangkan.
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































