Pencemaran mikroplastik di perairan Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo, menjadi temuan yang mengejutkan setelah hasil uji menunjukkan tingginya kandungan partikel plastik di air laut. Wilayah pesisir yang selama ini menjadi sumber bahan baku garam kini justru menghadapi ancaman serius akibat kontaminasi mikroplastik. Temuan ini semakin mengkhawatirkan karena berkaitan langsung dengan data bahwa puluhan merek garam telah tercemar, sehingga memicu perhatian publik terhadap dampak polusi plastik baik bagi lingkungan laut maupun kesehatan manusia (Putri, 2018).
Penjelasan Mengenai Mikroplastik
Mikroplastik didefinisikan sebagai partikel sintetis padat atau matriks polimer yang memiliki bentuk beraturan maupun tidak beraturan, berukuran sekitar 1 µm hingga 5 µm, serta tidak larut dalam air (Aryanti dkk., 2025). Keberadaan mikroplastik umumnya banyak ditemukan di perairan laut, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas manusia seperti kawasan pesisir, industri, dan pelabuhan. Pencemaran mikroplastik saat ini telah menjadi isu lingkungan global yang mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan dampak negatif terhadap keseimbangan ekosistem. Menurut Ningrum dkk. (2023), konsentrasi mikroplastik cenderung meningkat pada musim hujan akibat aliran sungai yang membawa pecahan plastik menuju laut melalui muara. Limbah plastik tersebut berpotensi menimbulkan risiko bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir.

(Hasibuan, 2025)
Data Konsumsi Plastik di Indonesia
Berdasarkan jurnal Environmental Science & Technology (2024), masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi mikroplastik sekitar 15 gram per bulan, setara dengan satu kartu ATM, sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi mikroplastik tertinggi di dunia. Mikroplastik masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman, pernapasan, serta penyerapan kulit, yang berasal dari perairan tercemar, penggunaan plastik sekali pakai, udara yang terkontaminasi, dan produk perawatan diri yang mengandung microbeads. Sebagian mikroplastik di laut berasal dari aktivitas wisata pesisir, pelayaran, industri lepas pantai, dan terutama alat tangkap ikan yang hilang atau dibuang, yang jumlahnya mencapai sekitar 600.000 ton per tahun. Mikroplastik kemudian ditemukan di air laut, sedimen, serta berbagai organisme laut seperti ikan dan cumi-cumi. Konsumsi mikroplastik oleh zooplankton dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dengan memicu ledakan populasi fitoplankton, yang saat terdekomposisi menurunkan kadar oksigen terlarut dan berpotensi menyebabkan kematian massal biota laut akibat hipoksia (Basri dkk., 2024).
Dampak Mikroplastik
Pencemaran mikroplastik di laut dapat berdampak pada kesehatan manusia karena partikel ini masuk ke tubuh melalui rantai makanan, terutama dari konsumsi ikan, kerang, dan biota laut lainnya yang terkontaminasi. Mikroplastik mengandung senyawa berbahaya seperti logam berat, PCB (Polychlorinated Biphenyls), dan PBDE (Polybrominated Diphenyl Ethers) yang bersifat toksik (Jamika dkk., 2024). Penelitian oleh Ecoton dan FK Unair di Gresik (2025–2026) menemukan mikroplastik pada seluruh sampel air ketuban dari 42 ibu hamil. Jenis mikroplastik seperti polietilen (PE) dan serat sintetis diketahui dapat menembus plasenta serta berpotensi menyebabkan stres oksidatif, peradangan, dan gangguan perkembangan janin. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan laut yang terkontaminasi mikroplastik dapat menjadi salah satu sumber paparan mikroplastik pada manusia.

Upaya Mengatasi Permasalahan Mikroplastik
Menurut Amaliyyah (2026), upaya mengatasi pencemaran mikroplastik di laut dapat dilakukan melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama di wilayah pesisir. Langkah yang dapat dilakukan meliputi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, serta kegiatan bersih pantai secara rutin untuk menekan jumlah sampah plastik yang berpotensi menjadi mikroplastik. Selain itu, pencegahan pencemaran sungai melalui pengelolaan limbah yang baik, pengawasan pembuangan sampah, dan partisipasi masyarakat dalam program seperti bank sampah juga penting karena banyak sampah yang masuk ke laut melalui aliran sungai. Upaya terpadu dari hulu hingga hilir ini dinilai efektif dalam mengurangi pencemaran mikroplastik di lingkungan perairan.
Disusun oleh: Ella Alfiah Anggelia, Nadin Arisma, Nikmah Ramadani, Naila Nur Fathiyya, Santia, Suci Ramadani
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































