Malang – Keterbatasan finansial merupakan salah satu tantangan yang banyak dihadapi oleh mahasiswa perantau selama menempuh pendidikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perdana dkk. (2023) dan Hidayah serta Prodyanatasari (2025), masalah finansial menjadi salah satu hambatan yang cukup sering dialami mahasiswa, khususnya mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua. Sebagai mahasiswa perantau, mereka dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, seperti biaya kos, makan, transportasi, dan berbagai kebutuhan perkuliahan lainnya. Namun, kondisi tersebut seringkali menjadi tantangan tersendiri ketika uang yang dimiliki terbatas, sedangkan kebutuhan yang harus dipenuhi terus ada dan terkadang muncul kebutuhan yang tidak terduga.
Mahasiswa perantau tidak hanya dituntut untuk mampu menghadapi tuntutan akademik selama perkuliahan, tetapi juga harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda serta mengelola keuangan secara mandiri. Keterbatasan finansial sering kali menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa perantau. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa, terutama ketika kebutuhan yang harus dipenuhi cukup banyak sementara kondisi keuangan yang dimiliki terbatas. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa cemas, stres, atau khawatir terhadap biaya hidup dan kebutuhan perkuliahan yang harus dipenuhi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi finansial memiliki hubungan dengan kesejahteraan psikologis individu (Trianto, Soetjiningsih, & Setiawan, 2020). Pada sebagian besar orang, keterbatasan finansial dapat mempengaruhi tingkat stres, kepercayaan diri, hubungan sosial, serta motivasi seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya. Pada mahasiswa perantau, dampak tersebut cenderung lebih mudah dirasakan karena mereka harus menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara mandiri tanpa adanya pendampingan langsung dari keluarga, terutama oleh mahasiswa semester awal yang masih berada pada masa penyesuaian diri terhadap lingkungan baru dan berbagai tuntutan perkuliahan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, bisa diasumsikan bahwa keterbatasan finansial menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh mahasiswa perantau selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dalam hal ini kondisi keterbatasan finansial tidak hanya dialami oleh mahasiswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah kebawah, tetapi juga dapat dialami oleh mahasiswa yang memiliki uang bulanan yang tidak mencukupi akibat banyaknya kebutuhan, pengeluaran tidak terduga, hingga kurangnya kemampuan untuk mengelola keuangan. Kondisi seperti itu tidak hanya dapat mempengaruhi kemampuan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kondisi psikologis mereka. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana keterbatasan finansial dialami oleh mahasiswa perantau, bagaimana dampaknya terhadap kondisi psikologis mahasiswa, serta bagaimana cara mahasiswa menghadapi dan mengatasi tekanan yang muncul akibat adanya keterbatasan finansial tersebut.
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk keterbatasan finansial yang dialami oleh mahasiswa perantau, menganalisis dampaknya terhadap kondisi psikologis mahasiswa, dan mengidentifikasi strategi yang digunakan mahasiswa dalam menghadapi dan mengatasi tekanan akibat keterbatasan finansial selama menjalani perkuliahan di perantauan.

Mahasiswa perantau merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan di daerah yang berbeda dengan daerah tempat tinggal aslinya. Kondisi ini membuat mahasiswa harus tinggal jauh dari keluarga selama menempuh pendidikan. Sebagai seorang mahasiswa perantau, mahasiswa tersebut dituntut untuk lebih mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengatur waktu, mengatur kebutuhan, hingga mengelola keuangan secara mandiri. Berbeda dengan mahasiswa yang tinggal bersama orang tua, mahasiswa perantau harus lebih bertanggung jawab atas kebutuhannya sendiri secara langsung.
Menjadi mahasiswa perantau tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga menghadirkan berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh mahasiswa adalah masalah keuangan. Mahasiswa perantau harus mampu menyesuaikan pengeluaran dengan uang yang dimiliki agar kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi hingga akhir periode keuangan yang telah ditentukan oleh keluarga atau sumber pendapatan yang dimiliki.
Keterbatasan finansial merupakan kondisi ketika sumber daya keuangan yang dimiliki seseorang terbatas atau tidak mampu memenuhi kebutuhan yang harus dipenuhi. Pada mahasiswa perantau, keterbatasan finansial dapat terjadi ketika uang saku yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dipenuhi, mengingat kebutuhan mahasiswa sangat beragam, mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian, hingga kebutuhan seperti kegiatan sosial, alat tulis, perlengkapan kuliah, dan kebutuhan lainnya.
Keterbatasan finansial tidak selalu berarti seseorang berada dalam kondisi ekonomi yang buruk atau menengah ke bawah. Dalam beberapa kasus, terdapat mahasiswa yang tetap memperoleh dukungan finansial yang stabil dari keluarga, namun jumlah yang diterima harus digunakan dan dikelola untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekaligus, sehingga menuntut mahasiswa untuk bijak dalam menggunakan uang tersebut. Apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai permasalahan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari sehingga dapat memicu pengaruh terhadap kondisi psikologis mahasiswa.
Keterbatasan finansial yang dialami mahasiswa perantau dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang paling umum adalah terbatasnya uang saku yang diberikan oleh orang tua atau keluarga. Kondisi ekonomi keluarga yang berbeda-beda dapat menyebabkan jumlah uang yang diterima oleh mahasiswa juga tidak selalu sama.
Selain itu, meningkatnya biaya hidup di daerah perantauan juga menjadi faktor yang mempengaruhi kondisi finansial mahasiswa. Mengingat kondisi ekonomi suatu daerah atau negara tidak selalu stabil, terlebih saat ini terjadi peningkatan harga pada berbagai kebutuhan hidup. Di beberapa daerah harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, bahan bakar kendaraan, hingga biaya tempat tinggal mengalami kenaikan. Sedangkan pemasukan atau gaji yang diterima oleh orang tua atau keluarga yang bekerja tetap sama jumlahnya, bahkan ada yang menurun. Hal seperti ini menyebabkan pengeluaran mahasiswa menjadi lebih besar dari yang diperkirakan.
Faktor lain yang turut berpengaruh adalah adanya kebutuhan akademik yang harus dipenuhi selama masa perkuliahan. Selain BSS UMM (Biaya Studi Semester Universitas Muhammadiyah Malang), mahasiswa sering kali harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli buku, mencetak tugas, mengikuti kegiatan akademik, membeli aplikasi premium untuk menunjang pengerjaan tugas, hingga kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti bahan praktek atau projek. Di samping itu, munculnya kebutuhan yang mendadak atau diluar prediksi seperti kondisi sakit, kerusakan alat elektronik, atau kebutuhan lainnya yang juga dapat memperberat kondisi keuangan mahasiswa.

Selain faktor eksternal, keterbatasan finansial juga dapat dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan. Kurangnya perencanaan keuangan yang baik, kebiasaan membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan, serta kurangnya kemampuan menyusun prioritas pengeluaran dapat menyebabkan uang yang dimiliki akan habis sebelum waktunya.
Hubungan antara kondisi finansial dan kesejahteraan psikologis dapat dijelaskan melalui teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow (1954), manusia memiliki kebutuhan yang tersusun secara bertingkat, dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan (esteem), hingga kebutuhan aktualisasi diri. Individu cenderung berusaha memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu sebelum dapat mencapai kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi.
Dalam konteks kehidupan mahasiswa perantau, kondisi finansial memiliki peran yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Ketika kebutuhan dasar tersebut sulit untuk dipenuhi akibat keterbatasan finansial, mahasiswa bisa saja merasa tidak aman, khawatir, dan mengalami tekanan psikologis. Hal ini sejalan dengan pandangan Maslow bahwa kebutuhan fisiologis (tubuh) dan rasa aman merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi agar individu dapat menjalankan fungsi dan aktivitasnya secara optimal.
Selain itu, keterbatasan finansial juga dapat memengaruhi kebutuhan sosial dan penghargaan diri seseorang. Mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan mungkin saja merasa terbatas dalam mengikuti aktivitas sosial bersama teman-temannya, sehingga dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan hubungan sosial yang dimiliki. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi motivasi individu untuk mengembangkan diri dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan teori tersebut, dapat dipahami bahwa kondisi finansial tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan material, tetapi juga berhubungan dengan kesejahteraan psikologis seseorang. Oleh karena itu, keterbatasan finansial yang dialami oleh mahasiswa perantau sangat berpotensi mempengaruhi berbagai aspek psikologis seperti kecemasan, stres, kepercayaan diri, hubungan sosial, hingga motivasi dalam menjalani kehidupan perkuliahan.
Keterbatasan finansial merupakan salah satu kondisi yang cukup sering dialami oleh mahasiswa perantau. Kondisi ini dapat memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan mahasiswa, termasuk kondisi psikologisnya. Salah satu dampak yang cukup sering muncul adalah munculnya rasa cemas dan stres ketika kondisi keuangan tidak sesuai dengan kebutuhan yang harus dipenuhi. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), stres dapat muncul ketika individu merasa tuntutan yang dihadapi lebih besar dibandingkan kemampuan yang dimiliki untuk mengatasinya. Dalam kehidupan mahasiswa perantau, kondisi tersebut dapat terjadi ketika kebutuhan yang harus dipenuhi cukup banyak sedangkan uang yang dimiliki terbatas.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, seluruh responden mengaku pernah mengalami perasaan khawatir yang berkaitan dengan kondisi keuangan mereka. FB mengaku merasa cemas ketika menghadapi pengeluaran yang tidak terduga, terutama ketika uang yang dimiliki mulai menipis menjelang akhir bulan. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak sampai mengganggu aktivitas perkuliahannya secara berlebihan. AZ juga mengaku pernah merasa tertekan ketika uang yang dimilikinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, kondisi tersebut terkadang membuat dirinya kesal karena harus memikirkan kembali kebutuhan mana yang harus diprioritaskan. Sementara itu, ER mengaku menjadi bad mood ketika kondisi keuangannya mulai menipis, meskipun biasanya kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena masih dapat meminta bantuan kepada orang tuanya.
Selain memunculkan kecemasan dan stres, keterbatasan finansial juga dapat mempengaruhi kepercayaan diri mahasiswa. Menurut Lauster (2012), kepercayaan diri berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuan dan nilai yang dimiliki. Dalam beberapa kondisi, keterbatasan finansial dapat membuat seseorang merasa berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut juga ditemukan pada salah satu responden. AZ mengaku pernah merasa minder ketika tidak dapat mengikuti kegiatan bersama teman-temannya karena keterbatasan biaya. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak terlalu dirasakan oleh FB dan ER. Keduanya mengaku tetap berusaha menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa meskipun terkadang merasa khawatir mengenai kondisi keuangan yang dimiliki.
Kondisi finansial juga dapat mempengaruhi hubungan sosial mahasiswa. Menurut Santrock (2018), hubungan sosial yang baik dapat menjadi sumber dukungan bagi individu dalam menghadapi berbagai permasalahan. Berdasarkan hasil wawancara, AZ mengaku pernah tidak mengikuti beberapa kegiatan bersama teman karena alasan keuangan. Namun, responden merasa bahwa teman-temannya cukup memahami kondisi tersebut sehingga tidak menimbulkan perlakuan yang berbeda. FB juga menyampaikan bahwa dukungan dari teman menjadi salah satu hal yang membantu dirinya menghadapi berbagai kesulitan selama menjadi mahasiswa perantau. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa lingkungan sosial yang baik dapat membantu mahasiswa menghadapi tekanan yang muncul akibat keterbatasan finansial.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa setiap responden memiliki cara masing-masing dalam menghadapi keterbatasan finansial yang dialami selama menjadi mahasiswa perantau. Meskipun demikian, terdapat beberapa strategi yang hampir sama dilakukan oleh seluruh responden. Ketika kondisi keuangan mulai menipis, responden cenderung memperhatikan dan melakukan evaluasi kembali terhadap pengeluaran yang dilakukan dan menyusun prioritas kebutuhan yang dianggap paling penting. Pengeluaran yang bersifat sekunder atau tidak terlalu mendesak, seperti membeli camilan, membeli pakaian baru, nongkrong, atau membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, biasanya akan dikesampingkan atau ditunda terlebih dahulu.
Sebaliknya, responden lebih memfokuskan penggunaan uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan pokok yang dianggap lebih penting, seperti kebutuhan makan sehari-hari, biaya transportasi menuju kampus, serta berbagai kebutuhan perkuliahan. Hal tersebut dilakukan karena responden menyadari bahwa tujuan utama mereka berada di perantauan adalah untuk menempuh pendidikan, sehingga kebutuhan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup dan kegiatan akademik harus lebih diprioritaskan dibandingkan kebutuhan lainnya.
Selain melakukan pengelolaan keuangan yang lebih ketat dan teratur, para responden juga berusaha mengatasi tekanan yang muncul akibat keterbatasan finansial dengan mencari dukungan dari orang-orang terdekat. Beberapa responden mengaku sering berbagi cerita kepada teman ketika sedang merasa tertekan karena masalah keuangan. Menurut mereka, bercerita kepada teman dapat membantu mengurangi beban pikiran yang dirasakan serta memberikan sudut pandang dan masukan untuk menghadapi permasalahan yang sedang dialami. Dukungan sosial dari teman maupun keluarga menjadi salah satu hal yang cukup membantu para responden untuk tetap tenang dan tidak merasa menghadapi masalah tersebut seorang diri.
Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa strategi yang dilakukan para responden dalam menghadapi keterbatasan finansial tidak hanya berfokus pada pengelolaan keuangan, tetapi juga pada upaya menjaga kondisi psikologis agar tetap stabil. Dengan mengatur prioritas kebutuhan dan memanfaatkan dukungan sosial yang dimiliki, responden berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang dihadapi sehingga keterbatasan finansial yang dialami tidak memberikan dampak yang terlalu besar terhadap kehidupan sehari-hari maupun proses perkuliahan yang sedang dijalani. Selain membantu menghadapi tekanan yang muncul, berbagai strategi tersebut juga membuat para responden tetap mampu mempertahankan harapan dan tujuan yang dimiliki untuk masa depan.
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa keterbatasan finansial tidak selalu memberikan pengaruh yang negatif. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden tetap memiliki harapan dan motivasi yang baik untuk masa depan mereka. FB mengaku tetap bersemangat menyelesaikan pendidikan meskipun terkadang mengalami kesulitan dalam mengatur keuangan. AZ bahkan mengungkapkan bahwa pengalaman menghadapi keterbatasan finansial membuat dirinya lebih termotivasi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sementara itu, ER menganggap kondisi yang sedang dihadapi saat ini sebagai bagian dari proses yang harus dijalani sebelum mencapai tujuan yang diinginkan.
Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa keterbatasan finansial memang dapat mempengaruhi kondisi psikologis mahasiswa perantau. Dampak yang muncul dapat berupa kecemasan, stres, perubahan kepercayaan diri, maupun pengaruh terhadap hubungan sosial. Akan tetapi, tingkat dampak yang dirasakan setiap individu tidak selalu sama. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi masing-masing individu, dukungan dari lingkungan sekitar, serta cara individu dalam menghadapi dan menyikapi permasalahan yang sedang dialami.
Keterbatasan finansial merupakan salah satu tantangan yang cukup sering dihadapi oleh mahasiswa perantau selama menjalani perkuliahan. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, keterbatasan finansial berpotensi menimbulkan berbagai dampak psikologis, seperti kecemasan, stres, perubahan kepercayaan diri, serta mempengaruhi hubungan sosial dan motivasi mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, dampak yang dirasakan oleh setiap mahasiswa berbeda-beda, tidak selalu sama. Sebagian mahasiswa bisa merasakan tekanan yang cukup besar akibat keterbatasan finansial, sementara sebagian lainnya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang dihadapi, sehingga dampak yang dirasakan tidak terlalu besar. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa cara individu dalam memandang dan menghadapi suatu permasalahan memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi kesejahteraan psikologisnya.
Selain memberikan berbagai tantangan, keterbatasan finansial juga dapat menjadi pengalaman yang mampu mendorong mahasiswa untuk lebih mandiri, bertanggung jawab, dan bijak dalam mengelola keuangan. Bahkan, di beberapa kondisi terdapat individu yang menjadi lebih termotivasi untuk terus semangat belajar demi mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Keinginan untuk memperbaiki kondisi ekonomi serta menghindari kesulitan yang pernah dialami menjadi salah satu faktor yang mendorong mahasiswa untuk tetap semangat dalam menempuh pendidikan dan meraih cita-cita yang selama ini diharapkan.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan serta kesimpulan yang telah ditarik, penulis memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu mahasiswa maupun peneliti selanjutnya. Mahasiswa perantau diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan agar kebutuhan yang dimiliki dapat terpenuhi secara lebih terencana dan stabil. Selain itu, penting bagi mahasiswa untuk memiliki dukungan sosial yang baik, baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan kampus, sehingga tekanan yang muncul akibat keterbatasan finansial dapat dihadapi dan dikelola dengan lebih baik.
Sementara itu, bagi peneliti selanjutnya, penelitian mengenai keterbatasan finansial dan kondisi psikologis mahasiswa dapat dilakukan dengan jumlah responden yang lebih banyak serta cakupan skala yang lebih luas agar dapat memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai fenomena tersebut.
Oleh:
Alya Qanita Az Zahra
Fathan Zaidan Rohmana Muhammad Kevin Alifiano
Sheviska A Ramadani Rusli
Kanaya Sabira Samri
Universitas Muhammadiyah Malang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































