Belakangan ini, FYP TikTok kita lagi ramai membahas kontroversi konten “plenger” yang dibikin sama influencer dengan akun bernama violettaaxandrea. Bukannya bikin kagum, konten ini malah bikin banyak orang geram. Kenapa? Karena dia sengaja meniru dan memparodikan kondisi fisik teman-teman penyandang disabilitas cuma buat lucu-lucuan dan ngejar views.
Kejadian ini bukan sekadar “bercanda doang”, tapi udah jadi lampu merah buat kita semua. Parahnya, hal-hal kayak gini malah dinormalisasi. Merendahkan orang lain demi konten adalah bukti nyata kalau empati makin hilang gara-gara obsesi pengen viral.
Beda Kepala, Beda Tangkapan
Kalau kita lihat dari sudut pandang ilmu komunikasi, ada yang namanya Teori Encoding/Decoding dari Stuart Hall. Intinya tuh begini: apa yang dimaksud sama pembuat konten belum tentu ditangkap sama penontonnya.
Waktu si kreator bikin video ini, niatnya di kepala dia (Tahap Encoding) mungkin cuma satu: “Ah, ini lucu nih, pasti fyp dan banyak yang like.” Dia mikir semua penonton bakal setuju kalau itu cuma hiburan.
Tapi realitasnya beda. Penonton zaman sekarang udah pada kritis. Waktu videonya ditonton publik (Tahap Decoding), mayoritas orang, termasuk dokter dan edukator, langsung sadar kalau itu bukan lagi komedi, melainkan ableisme, yaitu diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Alasan “cuma bercanda” udah gak bisa dipakai ketika candaan itu ternyata menyakiti dan merendahkan kelompok tertentu.
Blunder Fatal Brand yang Ikutan Sponsor
Yang bikin makin geram, ternyata ada brand yang mau-maunya ngasih endorsement pakai konsep “plenger” ini.
Ini adalah kesalahan yang super fatal. Brand tersebut kelihatan banget cuma ngejar angka viralitas tanpa peduli sama etika. Harusnya, sebelum kerja sama, ada proses screening atau saring-saring dulu. Kalau nekat nempel ke konten yang isinya menyinggung SARA atau disabilitas, yang hancur bukan cuma nama si influencer, tapi reputasi brand itu sendiri juga bakal jelek di mata konsumen.
Minta Maaf Setengah Hati, Cuma Takut Kehilangan ‘Likes’
Masalah ini makin runyam waktu si influencer ketahuan cara dia merespons kritikan. Bukannya langsung menghapus video itu dan minta maaf dengan tulus, dia malah cuma mengubah status videonya jadi private.
Jelas aja netizen makin marah. Tindakan di-private ini ngasih kesan kalau dia sebenernya sayang banget sama jumlah likes dan views di video itu. Ini contoh manajemen krisis yang buruk banget. Minta maaf, tapi masih mikirin engagement pribadi itu bikin publik ngerasa kalau penyesalannya palsu.
Viral Boleh, Hilang Empati Jangan
Kasus ini ngasih pelajaran penting buat siapa aja yang main sosmed, terutama buat konten kreator dan brand. Angka views dan likes yang tinggi itu bukan segalanya, apalagi kalau didapat dari hasil merendahkan orang lain.
Kita harus berhenti ngasih panggung buat konten-konten yang miskin empati. Etika harus selalu ada di atas algoritma. Jangan sampai demi dibilang “si paling asik” atau “si paling viral”, kita malah kehilangan sisi kemanusiaan kita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































