Tidak semua perjalanan menuju keberhasilan dimulai dengan keyakinan penuh. Ada yang berangkat dari ragu, setengah hati, bahkan merasa sedang berada di jalan yang bukan pilihannya sendiri. Namun, justru dari proses yang tidak selalu mulus itu, Latifah Bunga Anindya Amri menemukan arah hidupnya.
Murid kelas XII G MAN 1 Yogyakarta yang akrab disapa Bunga atau Ibung itu berhasil diterima di Program Studi S1 Teknik Kimia UPN “Veteran” Yogyakarta melalui jalur SNBT 2026. Capaian ini menjadi penanda bahwa perjalanan yang semula terasa biasa-biasa saja dapat berakhir menjadi kisah yang membanggakan.
Sejak MI hingga MTs, Bunga sudah cukup lama berada di lingkungan madrasah. Karena itu, ketika memasuki jenjang berikutnya, ia sempat ingin merasakan suasana sekolah umum. Keinginannya sederhana: mencari pengalaman baru. Namun, orang tuanya memiliki pandangan berbeda dan mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di MAN 1 Yogyakarta.
Bunga pun mengikuti tes CBT MANSA dengan perasaan yang tidak sepenuhnya serius. Ia mengaku saat itu tidak benar-benar menaruh harapan besar. Namun, takdir sering kali hadir melalui jalan yang tidak diduga. Namanya tercantum sebagai salah satu peserta yang lolos. “Saat pengumuman SMA, saya juga diterima di sekolah lain. Tapi akhirnya saya memilih MANSA karena saran orang tua,” kenangnya.
Keputusan yang awalnya terasa seperti mengikuti keinginan orang tua itu perlahan berubah menjadi salah satu pilihan terbaik dalam hidupnya. Masa Matsama menjadi pintu pertama yang membuka kesan baik. Di kelas X, ia bertemu teman-teman yang aktif, hangat, dan saling mendukung. Dari sana, MAN 1 Yogyakarta mulai terasa bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang untuk tumbuh.
Perjalanan Bunga tidak berhenti pada proses beradaptasi dengan sekolah baru. Saat penjurusan tiba, ia kembali dihadapkan pada kebingungan. Seperti banyak remaja seusianya, ia sempat hampir mengikuti pilihan teman-temannya. Padahal, di sisi lain, ia belum sepenuhnya yakin dengan mata pelajaran seperti Fisika, Kimia, dan Matematika. Namun, entah bagaimana, langkahnya justru mengarah ke jurusan yang dekat dengan dunia teknik.
Kelas XI menjadi babak baru yang menuntutnya beradaptasi lagi. Dari 36 murid di kelasnya, hanya ada 12 murid putri. Jumlah itu memang tidak banyak, tetapi justru menciptakan kedekatan yang kuat. “Jumlahnya sedikit, tapi kami akrab banget. Saling mendukung sampai kelas XII,” ujarnya.
Kebingungan paling besar datang saat kelas XII. Pertanyaan tentang masa depan mulai terasa nyata: akan kuliah di mana, mengambil jurusan apa, dan bidang apa yang benar-benar sesuai dengan dirinya. Bunga tidak membiarkan pertanyaan itu mengambang begitu saja. Ia mulai mencari informasi melalui internet, membaca berbagai referensi, dan membandingkan sejumlah pilihan jurusan.
Dari proses pencarian itu, Teknik Kimia mulai mencuri perhatiannya. Keyakinannya semakin kuat ketika ada sosialisasi dari mahasiswa Teknik Kimia yang hadir langsung di MANSA. Penjelasan itu membuatnya merasa bahwa jurusan tersebut bukan hanya menantang, tetapi juga memiliki ruang luas untuk berkembang. “Dari situ saya makin termotivasi,” katanya.
Dalam menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, Bunga dan keluarganya memilih bersikap realistis. Ia menyadari peluang SNBP tidak terlalu besar, sehingga fokus utamanya diarahkan pada SNBT. Ia mengikuti bimbingan belajar UTBK dan mulai membangun ritme belajar yang lebih teratur. Di luar dugaan, ia juga dinyatakan sebagai murid eligible. Status itu membuatnya semakin berhati-hati dalam menentukan pilihan.
Bunga banyak berdiskusi dengan kakak kelas untuk memahami peluang, tantangan, dan strategi memilih jurusan. Hasil SNBP memang belum berpihak kepadanya. Namun, ia tidak terlalu terkejut. “Sudah saya prediksi, karena pilihan saya cukup idealis,” ucapnya sambil tersenyum.
Setelah itu, hari-hari Bunga berubah menjadi potret perjuangan khas murid kelas XII. Pagi ia belajar di sekolah, sore mengikuti les, malam masih berhadapan dengan kelas tambahan. Pada akhir pekan, ia sesekali belajar bersama teman-temannya di kafe, bukan hanya untuk mengejar materi, tetapi juga untuk menjaga semangat agar tidak padam.
Strateginya tidak rumit. Ia memilih konsisten belajar, menjaga ibadah, memperbanyak doa, dan tetap menyiapkan rencana cadangan. Bagi Bunga, tidak semua hal harus dijalani dengan pola yang sempurna. Yang terpenting adalah tetap bergerak, meskipun pelan. “Saya nggak punya strategi belajar yang rumit. Yang penting jalanin aja tiap hari,” tuturnya.
Menjelang pengumuman SNBT, Bunga justru merasa lebih tenang dibandingkan saat menunggu hasil SNBP. Ia sudah berusaha, berdoa, dan menyiapkan hati untuk menerima apa pun hasilnya. “Dalam hati saya cuma berpikir, kalau belum lolos UGM, apakah saya bisa ikhlas?” katanya. Jawaban itu akhirnya datang dengan cara yang menenangkan. Bunga dinyatakan lolos di Program Studi Teknik Kimia UPN “Veteran” Yogyakarta. Kabar tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, tetapi dijalani dengan ketekunan.
Tiga tahun di MAN 1 Yogyakarta meninggalkan kesan mendalam bagi Bunga. Madrasah itu tidak hanya memberinya pelajaran akademik, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kerja sama, keberanian mengambil keputusan, dan pentingnya menghargai proses. “Tiga tahun di MAN 1 Yogyakarta ngajarin saya banyak hal. Bukan cuma pelajaran, tapi juga tanggung jawab, kerja sama, dan menghargai proses. Gurunya humble, temannya suportif. Rasanya nyaman banget buat tumbuh,” ujarnya.
Bunga berharap MAN 1 Yogyakarta terus menjadi tempat yang nyaman bagi murid untuk belajar, berkembang, dan menemukan arah masa depan. Ia juga berharap adik-adik kelasnya dapat merasakan pengalaman sekolah yang menyenangkan seperti yang ia alami. “Semoga MAN 1 Yogyakarta terus maju, tetap nyaman buat belajar, dan melahirkan lulusan yang membanggakan. Semoga adik-adik juga bisa merasakan sekolah yang menyenangkan seperti yang aku rasakan,” pesannya.
Kisah Bunga mengingatkan bahwa tidak semua orang langsung tahu ke mana harus melangkah. Ada yang harus melewati rasa ragu, mencoba memahami diri sendiri, bahkan sempat merasa salah arah. Namun, selama terus berusaha dan tidak berhenti mencari, jalan itu pada akhirnya akan terbuka.
Bunga memulainya dengan setengah hati. Namun, ia menutup perjalanannya di MAN 1 Yogyakarta dengan penuh arti.
Penulis: Listya Sulastri Wulan Kurniati (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































