Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 59 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Seminar edukasi digital marketing bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Kaligerman, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan. (2/7/2026)
Kegiatan yang mengusung tema “Peran Digital Marketing dalam Pengembangan UMKM” ini diikuti oleh puluhan pelaku usaha lokal, mulai dari pemilik warung kelontong, usaha makanan rumahan, hingga pengrajin yang selama ini masih mengandalkan pemasaran secara konvensional. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan dan memasarkan produk lokal. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memberikan pendampingan dan pemahaman agar pelaku UMKM dapat memahami serta mempraktikkan penggunaan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya.
Seminar edukasi ini menghadirkan dua Narasumber, yaitu Luluk Indah Kholifatin dan Nazwa Khaila. Acara dipandu oleh moderator, Zahwa Khairunnisa, sehingga kegiatan berlangsung dengan tertib dan interaktif.
Dalam pemaparannya, Luluk Indah Kholifatin menjelaskan bahwa digital marketing adalah strategi mempromosikan dan menjual produk melalui media digital dan internet, seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, dan Google Maps. Menurutnya, penggunaan platform digital dapat membantu pelaku UMKM memperkenalkan produk mereka kepada lebih banyak orang tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.
Perubahan perilaku konsumen saat ini menuntut pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan teknologi. Digital marketing bukan hanya memasarkan produk secara online, tetapi juga membangun identitas usaha, meningkatkan kepercayaan pelanggan, dan memperluas jaringan pemasaran,” ujar Luluk indah
Dalam sesi pemaparan materi, peserta diperkenalkan dengan konsep content marketing atau pemasaran berbasis konten. Pelaku usaha diajak memahami pentingnya membuat foto dan video produk yang menarik sebagai media promosi. Konten yang baik, menurut pemateri, dapat menarik dan meningkatkan minat konsumen sekaligus membangun citra positif terhadap produk yang ditawarkan.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pemanfaatan fitur katalog pada WhatsApp Business. Fitur tersebut memungkinkan pelaku usaha menampilkan daftar produk lengkap dengan foto, nama, dan harga sehingga mempermudah proses promosi dan pemesanan secara digital.
Tidak hanya berfokus pada pemasaran daring, pemateri juga mengenalkan pentingnya rebranding produk. Rebranding dilakukan melalui pembaruan identitas usaha, mulai dari desain banner, logo, hingga katalog produk yang lebih menarik dan informatif. Langkah tersebut dinilai penting agar produk lokal mampu bersaing dengan produk lain yang telah lebih dahulu memanfaatkan strategi pemasaran modern.
“Kemasan dan identitas produk menjadi kesan pertama yang dilihat konsumen. Karena itu, banner usaha dan katalog produk harus dibuat menarik agar masyarakat mudah mengenali produk lokal Kaligerman,” terang Luluk.
Dalam pemaparannya, Narasumber juga menjelaskan bahwa digital marketing memiliki peran penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Dengan memanfaatkan media digital, produk UMKM tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar desa, tetapi juga berpotensi menjangkau konsumen dari luar kota bahkan luar daerah.
Materi berikutnya berfokus pada pemanfaatan Google Maps sebagai sarana promosi digital bagi UMKM. Narasumber menjelaskan bahwa Google Maps tidak hanya berfungsi sebagai layanan navigasi, tetapi juga dapat digunakan untuk menampilkan lokasi usaha sehingga lebih mudah ditemukan oleh calon pelanggan.
Menurut pemateri, keberadaan usaha di Google Maps dapat meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat. Ketika pelanggan dapat menemukan informasi lokasi, foto, serta nomor kontak usaha dengan mudah, peluang terjadinya transaksi pun menjadi lebih besar.
Selain Google Maps, transformasi digital UMKM juga diperkuat melalui pemanfaatan platform ojek online. Materi ini disampaikan oleh pemateri kedua yaitu Kak Nazwa khaila yang menekankan bahwa kehadiran usaha pada layanan digital seperti GoFood atau GrabFood bukan sekadar mengikuti tren, melainkan strategi memperluas pasar dan meningkatkan daya saing usaha.
Pemateri menjelaskan bahwa usaha yang telah terdaftar di platform ojek online umumnya dianggap lebih profesional karena memiliki informasi toko yang jelas, foto produk yang menarik, serta ulasan pelanggan yang dapat diakses secara terbuka. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan konsumen.
Pelaku usaha juga mendapatkan sejumlah tips agar produk mereka lebih diminati di platform digital. Di antaranya adalah menggunakan foto produk yang menarik, memberikan nama produk yang jelas, menentukan harga yang kompetitif, menjaga kualitas kemasan, serta memberikan pelayanan yang cepat dan ramah kepada pelanggan.
Meski demikian, pemateri mengingatkan bahwa digitalisasi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Persaingan dengan banyak pelaku usaha lain, tuntutan menjaga kualitas produk, dan pentingnya kemasan yang aman selama proses pengiriman menjadi beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pelaku UMKM.
Sebagai pelengkap transformasi digital, pemateri juga memperkenalkan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran modern bagi UMKM. QRIS memungkinkan pelanggan melakukan pembayaran menggunakan berbagai aplikasi dompet digital hanya dengan satu kode QR.
Dalam sesi tersebut, peserta diberikan penjelasan mengenai proses pendaftaran QRIS, mulai dari memilih penyedia layanan, menyiapkan dokumen, hingga proses verifikasi sebelum kode QR dapat digunakan untuk bertransaksi.
“penggunaan QRIS memberikan banyak keuntungan bagi pelaku usaha. Selain lebih praktis karena tidak memerlukan uang kembalian, transaksi digital juga lebih aman dan dapat menarik lebih banyak pelanggan yang telah terbiasa menggunakan pembayaran non-tunai” terang Nazwa Khaila
Salah seorang peserta kegiatan, Ibu Yatin mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari program pendampingan tersebut. Ia menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan pelaku usaha di desa Kaligerman.
“Selama ini kami hanya berjualan secara biasa dan belum memanfaatkan media sosial secara maksimal. Setelah mengikuti seminar edukasi ini, kami jadi paham digital marketing seperti cara membuat katalog produk, memasukkan lokasi usaha ke Google Maps, platfrom ojek online dan pembayaran menggunakan qris” ungkap Ibu Yatin
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak pelaku UMKM yang aktif bertanya mengenai strategi promosi, penggunaan media sosial, hingga langkah-langkah pendaftaran usaha pada platform digital. Pendampingan secara langsung dinilai membantu mereka memahami materi yang sebelumnya dianggap rumit dan sulit diterapkan.
Lebih jauh, mahasiswa menegaskan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dihadapi oleh seluruh pelaku usaha. Dengan strategi yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, UMKM Desa Kaligerman diharapkan mampu berkembang secara mandiri, berkelanjutan, dan menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat setempat.
Melalui program edukasi ini, KKN 59 UINSA berharap pelaku UMKM Desa Kaligerman mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal untuk memperluas pasar, meningkatkan penjualan, serta memperkuat daya saing produk lokal. Sebab, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi UMKM untuk berkembang secara berkelanjutan di era modern.
Penulis : Luluk Indah Kholifatin
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































