Pada zaman banjir informasi saat ini, rakyat Indonesia tampaknya hidup dalam dua dunia yang bertolak belakang. Di satu sisi, kita sangat vokal di platform media sosial, memberikan komentar, berdebat, bahkan terlibat dalam pertikaian mengenai isu politik, rumor selebriti, hingga teori konspirasi. Namun, di sisi lain, minat membaca terhadap buku, artikel panjang, atau literasi yang mendalam sangat memprihatinkan. Berdasarkan informasi dari databoks. katadata.co. id, kemampuan membaca pelajar Indonesia tergolong rendah di tingkat ASEAN dan menduduki peringkat ke-3 di kawasan tersebut. Kementerian Komunikasi dan Digital melaporkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung enggan membaca, tetapi sangat aktif berkomentar di media sosial. Artikel ini akan membahas secara mendalam penyebab kondisi ini, dampaknya terhadap generasi muda, serta langkah konkret yang dapat kita ambil bersama.Peringkat Kemampuan Membaca di Indonesia
Sumber: databoks.katadata.co.id
A. Fakta Membaca: Peringkat Kedua Terbawah di Dunia
Menurut informasi dari UNESCO yang dikutip oleh Universitas Airlangga, tingkat minat baca penduduk Indonesia hanyalah 0,001 persen. Ini berarti dari seribu individu, hanya satu yang terbiasa membaca dengan serius. Peringkat literasi negara kita menempati posisi kedua terendah di dunia. Ini jelas bukan suatu pencapaian, melainkan sinyal bahaya. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang atau Finlandia, yang menjadikan membaca sebagai bagian dari budaya mereka yang diwariskan.
Data lain yang muncul dari jurnal ilmiah “Dampak Media Sosial Terhadap Rendahnya Minat Baca Siswa MAN 1 Ternate” (2024) menunjukkan bahwa rata-rata siswa menghabiskan antara 4 hingga 6 jam per hari untuk menggunakan media sosial, sedangkan waktu yang mereka luangkan untuk membaca buku tidak sampai 30 menit. Penelitian yang bersifat kualitatif ini menunjukkan bahwa bahan konten media sosial yang instan, menghibur, dan berbasis visual lebih menarik dibandingkan dengan bacaan yang panjang. Hal ini menyebabkan fokus menjadi berkurang, dan buku sering kali dianggap tidak menarik. Sementara itu, membaca buku sebenarnya dapat meningkatkan kemampuan analisis dan empati, dua hal yang sangat penting dalam menghadapi polarisasi digital saat ini.
B. Ironi “Cerewet di Medsos, Malas Baca”
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dalam rilis oficialnya menyatakan bahwa netizen Indonesia sangat aktif memberikan pendapat di platform media sosial, namun kurang tertarik membaca artikel atau buku secara keseluruhan. Kejadian ini menciptakan banyak “korban hoaks”: individu yang cepat terpengaruh oleh judul yang provokatif, menyebarluaskan informasi tanpa melakukan cross-check, dan sulit untuk terlibat dalam diskusi yang berlandaskan data.
Salah satu contohnya adalah banyaknya judul yang menyesatkan yang beredar di Instagram, yang tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya. Hal ini menimbulkan komentar negatif pada beberapa berita yang disampaikan, bahkan dapat menyebabkan munculnya Clickbait, yaitu istilah yang merujuk pada judul atau gambar konten yang dibuat dengan berlebihan, sensasional, dan menarik perhatian untuk menarik keingintahuan audiens agar menjelajahi atau meng-klik link tersebut. Namun, konten dalam artikel atau video yang disajikan sering kali tidak sesuai atau tidak se-menarik judul yang telah dipilih.
Contoh Hoax dan Clickbait pada Headline Instagram
Kasus lain muncul dalam sektor pendidikan. Seorang pendidik di Jakarta mengungkapkan kesulitan dalam mendorong murid-muridnya membaca buku paket. Mereka lebih cenderung menikmati video TikTok selama 15 detik atau melihat kutipan inspiratif di Instagram. Bahkan ketika ditugaskan untuk membaca satu bab buku, banyak siswa yang menyerah sebelum mencapai paruh pertama. Diah Litasari, S. Pd., M. Pd., pendiri KUBACA, dalam forum Airlangga Forum menyampaikan bahwa “usia 2–5 tahun merupakan masa penting untuk pembentukan kosakata. Anak berusia 3 tahun mampu menguasai 12.000 kosakata, tetapi justru dilarang untuk belajar membaca akibat kebijakan calistung (baca, tulis, hitung) yang kaku. ” Akibatnya, peluang emas untuk literasi menjadi terlewatkan, dan ketika mereka dewasa, sudah terjebak pada kecanduan perangkat elektronik.
C. Dampak Jangka Panjang: Generasi yang Gampang Diadu Domba
Hal ini fokus pengguna medsos lebih percaya pada “kata orang” di medsos daripada data resmi. Hal ini dimanfaatkan oleh aktor-aktor yang ingin memecah belah bangsa dengan isu SARA, fitnah politik, atau provokasi lainnya.
Studi di MAN 1 Ternate juga menemukan bahwa siswa yang menghabiskan waktu lebih dari 5 jam di medsos memiliki skor pemahaman bacaan yang rendah. Mereka terbiasa dengan teks pendek dan gambar bergerak, sehingga ketika dihadapkan pada teks panjang, otak mereka cepat lelah. Padahal, di perguruan tinggi dan dunia kerja, kemampuan membaca kritis dan sintesis informasi adalah syarat mutlak. Bila dibiarkan, kegiatan literasi membaca di Indonesia semakin memburuk terus menerus.
D. Peran Orang Tua dan Guru yang Tergerus.
Pengguna media sosial cenderung lebih mempercayai “ucapan netizen” di platform tersebut ketimbang informasi yang bersifat resmi. Hal ini dimanfaatkan oleh individu atau kelompok yang berupaya memecah belah masyarakat dengan isu berbasis suku, agama, ras, dan antar golongan, serta kampanye fitnah politik atau provokasi yang lain.
Penelitian di MAN 1 Ternate juga mengungkapkan bahwa siswa yang menghabiskan lebih dari lima jam sehari di media sosial cenderung memiliki pemahaman bacaan yang rendah. Mereka terbiasa dengan teks yang singkat dan gambar bergerak, sehingga saat menghadapi teks yang lebih panjang, konsentrasi mereka cepat menurun. Padahal, di perguruan tinggi dan di dunia kerja, keterampilan membaca secara kritis dan kemampuan untuk menyintesis informasi menjadi sangat penting. Jika dibiarkan, kondisi literasi baca di Indonesia akan terus memburuk.
Kesimpulan
Indonesia menghadapi masalah literasi yang cukup mengherankan: masyarakat sangat aktif dan “berbicara” di platform media sosial, namun ketertarikan untuk membaca sangat minim (hanya 0,001%, menempati peringkat kedua terendah di dunia). Dampaknya, masyarakat rentan terhadap berita bohong, kurang mampu berpikir kritis, dan generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu 4-6 jam sehari di perangkat daripada membaca buku.
Faktor utama dari masalah ini adalah kebijakan pendidikan yang kurang tepat, pola asuh orang tua yang menjadikan gadget sebagai “pengasuh”, dan algoritma media sosial yang memprioritaskan hiburan yang cepat. Ini memberikan peluang untuk mendorong generasi mendatang agar lebih tertarik membaca dan meningkatkan minat baca.
Daftar Pustaka:
Balai Bahasa Provinsi Maluku, Kemendikdasmen. (2023). Cerewet di Media Sosial tetapi Malas Membaca: Kondisi Literasi yang Tidak Baik-baik Saja. https://balaibahasaprovinsimaluku.kemendikdasmen.go.id/2023/06/cerewet-di-media-sosial-tetapi-malas-membaca-kondisi-literasi-yang-tidak-baik-baik-saja/
Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. (2025). Indonesia Darurat Literasi: Gadget Merajalela, Minat Baca Tergerus Sejak Dini. https://pasca.unair.ac.id/indonesia-darurat-literasi-gadget-merajalela-minat-baca-tergerus-sejak-dini/
Kementerian Komunikasi dan Digital. (2024). Teknologi: Masyarakat Indonesia Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. https://www.komdigi.go.id/berita/pengumuman/detail/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos
Gani, R., & Adam, A. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap Rendahnya Minat Baca Siswa Man 1 Ternate. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1(1). https://journalversa.com/s/index.php/jpp/article/view/4339
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































