MEDAN—”Pernah ga kita tiba tiba merasa lelah yang luar biasa, bukan karena pekerjaan yang numpuk ataupun tugas yang menggunung, tapi karena harus menghadapi orang-orang yang “rese” di lingkungan yang menuntut tanpa apresiasi?” Bagi banyak orang, kelelahan ini sering kali dianggap sebagai kemalasan dan hal sepele. Padahal, burnout di era digital ini telah menjadi fenomena universal yang bisa menyerang siapa saja dari mahasiswa yang tertekan hustle culture hingga mereka yang sedang berjuang meniti karier.
Banyak orang terjebak dalam Fake Productivity, di mana kita merasa sibuk sepanjang hari namun pada akhirnya tidak ada hasil nyata yang memuaskan dan gatau tujuan kita hidup itu apa. Kondisi ini memicu burnout yang terjadi karena Energy Output kita jauh lebih besar daripada Meaningful Reward yang didapatkan.
Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Berdasarkan studi sistematis yang menganalisis 15 artikel ilmiah (2018–2025), ditemukan bahwa hustle culture memiliki hubungan positif dengan academic burnout. Penelitian tersebut menyoroti bahwa dorongan untuk terus produktif, sikap perfeksionisme, dan tekanan sosial yang berlebihan secara konsisten berkontribusi pada kelelahan emosional, sikap sinis terhadap kegiatan, serta menurunnya efikasi diri seseorang. Singkatnya, hustle culture yang menuntut kerja terus-menerus dan mengukur nilai diri hanya dari pencapaian, berpotensi besar menimbulkan tekanan psikologis yang nyata bagi individu.
Terus, Gimana Cara Keluar dari Lingkaran Ini? Ga perlu muluk-muluk, dari curhatan temen-temen di media sosial, ternyata banyak cara sederhana buat mulai berdamai sama diri sendiri, Banyak orang yang bilang jangan sepelekan tidur, jadi pas udah jam istirahat, mending disiplin rebahan tanpa pegang HP sama sekali biar otak kita tuh bener-bener off. Selain itu, kalau kepala udah ngerasa penuh banget, coba deh catat masalah satu per satu biar ga ngerasa buntu terus-terusan. Kalau lagi ngerasa hidup ga ada artinya, coba fokus ke hal simpel kayak kembali tekun belajar atau mendalami pendidikan. Banyak juga yang ngerasa kalau beribadah itu jadi tempat “pulang” paling tenang pas lagi capek-capeknya sama dunia. Dan yang paling penting, kalau kita ngerasa capek bukan karena kerjanya tapi karena ngadepin manusia rese, ingat kalau kita ga sendirian karena hal itu wajar banget dirasain orang-orang di luar sana.
Intinya, burnout itu tanda kalau kita manusia, bukan mesin yang bisa dinyalain terus. Mengaku lelah itu bukan berarti malas, tapi itu cara buat berhenti sejenak, napas, dan nata ulang hidup biar lebih tenang ke depannya. Karena pada akhirnya menjadi manusia yang utuh jauh lebih berharga daripada sekedar menjadi mesin yang selalu On.
Winda Safina—Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































