Di era digital yang terus berkembang dengan cepat, pola masyarakat dalam mencari informasi wisata telah mengalami transformasi yang cukup mendasar. Generasi Z yang sejak kecil akrab dengan dunia digital kini lebih mengandalkan media sosial sebagai referensi utama sebelum memutuskan untuk mengunjungi suatu destinasi wisata. Fenomena ini semakin menyimpulkan bahwa komunikasi pariwisata memegang peran yang sangat efektif dalam membangun daya tarik sekaligus meningkatkan minat masyarakat terhadap wisata lokal. Berangkat dari ketertarikan terhadap fenomena tersebut, saya bersama Reinsky dan Yusuf memutuskan untuk melakukan observasi langsung di dua destinasi wisata yang cukup populer di wilayah Kabupaten Pasuruan, yaitu Cimory Dairyland Prigen dan Air Terjun Putuk Truno.
Dalam beberapa tahun terakhir, cara masyarakat memperoleh informasi mengenai destinasi wisata telah mengalami pergeseran yang cukup nyata. Jika dahulu informasi wisata lebih banyak didapat melalui brosur cetak, siaran televisi, atau rekomendasi langsung dari kerabat dan keluarga, kini sebagian besar Generasi Z lebih memilih untuk mencari inspirasi wisata melalui platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Berbagai konten berupa foto, video pendek, maupun ulasan perjalanan yang tersebar di internet kerap kali menjadi faktor penentu seseorang tertarik untuk mengunjungi suatu tempat. Fenomena inilah yang menegaskan bahwa komunikasi pariwisata memiliki peran penting, tidak hanya dalam memperkenalkan destinasi, tetapi juga dalam membentuk citra dan ekspektasi calon wisatawan sejak sebelum mereka tiba di lokasi.
Observasi pertama kami lakukan di Cimory Dairyland Prigen. Saat berada di lokasi, hal pertama yang saya perhatikan adalah keberagaman profil pengunjung yang hadir. Tidak hanya keluarga dan kelompok anak muda, terlihat pula beberapa rombongan siswa dari berbagai jenjang sekolah yang sedang menjalani kegiatan wisata edukasi. Kehadiran rombongan sekolah ini menjadi indikator bahwa Cimory Dairyland telah berhasil memposisikan diri bukan sekadar sebagai tempat rekreasi, melainkan juga sebagai wahana pembelajaran yang memadukan unsur edukasi dan hiburan secara harmonis. Para siswa tampak antusias dan penuh semangat mengikuti berbagai aktivitas yang tersedia, mulai dari mengenal ragam hewan ternak, menyaksikan proses pengolahan susu secara langsung, hingga berinteraksi dengan lingkungan peternakan yang telah dikemas secara menarik dan edukatif.
Salah seorang pengunjung bernama Yunita mengungkapkan bahwa Cimory Dairyland adalah pilihan yang tepat untuk kegiatan outing sekolah karena memiliki area yang luas serta menyediakan berbagai sarana edukasi terkait dunia peternakan dan kehidupan hewan. Menurutnya, tempat ini berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan di luar lingkungan kelas, sehingga anak-anak dapat menyerap pengetahuan baru dengan cara yang lebih menarik dan tidak membosankan.
Pendapat serupa disampaikan oleh Hendrik, yang menilai bahwa Cimory Dairyland merupakan destinasi wisata edukasi yang cukup baik untuk anak-anak dari berbagai usia. Ia memberikan apresiasi terhadap keberagaman wahana dan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran, meskipun secara jujur ia juga menyampaikan bahwa aspek kebersihan di beberapa area masih perlu mendapat perhatian lebih agar kenyamanan pengunjung dapat terjaga dengan optimal.
Berdasarkan pengamatan saya, daya tarik Cimory Dairyland terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman wisata yang inklusif dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan usia. Bagi pelajar, tempat ini menjadi ruang belajar alternatif yang menyenangkan di luar kelas. Sementara bagi wisatawan umum, Cimory menawarkan beragam spot foto yang Instagramable, area belanja produk olahan susu, serta berbagai aktivitas seru yang cocok untuk dijadikan konten media sosial. Tidak sedikit pengunjung yang terlihat asyik mengabadikan momen bersama teman maupun anggota keluarga untuk kemudian diunggah ke akun Instagram atau TikTok mereka. Aktivitas tersebut secara tidak langsung menjelma menjadi bentuk promosi organik yang efektif dalam memperkenalkan Cimory Dairyland kepada audiens yang lebih luas di dunia digital.
Observasi berikutnya kami lakukan di Air Terjun Putuk Truno yang terletak di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Berbeda dengan Cimory Dairyland yang menonjolkan konsep wisata edukasi dan rekreasi keluarga, Air Terjun Putuk Truno lebih mengandalkan pesona alam sebagai daya tarik utamanya. Saat tiba di lokasi, saya melihat banyak wisatawan muda yang datang bersama teman-teman maupun pasangan untuk menikmati kesejukan alam dan keindahan panorama yang masih tampak alami dan asri. Di samping menikmati suara gemericik air yang menenangkan, sebagian besar pengunjung juga terlihat aktif mengambil foto dan video untuk kemudian dibagikan di berbagai platform media sosial mereka.
Wisatawan bernama Rama dan Mirza berbagi tips bermanfaat, yakni menyarankan calon pengunjung untuk datang pada hari kerja agar dapat menikmati suasana yang lebih tenang dan nyaman dibandingkan saat akhir pekan yang biasanya dipenuhi keramaian. Keduanya menilai bahwa harga tiket masuk masih cukup terjangkau dan kondisi kebersihan kawasan wisata secara keseluruhan terjaga dengan baik. Namun, mereka mengungkapkan harapan agar ke depannya tersedia lebih banyak warung atau tempat makan di sekitar area wisata, sehingga pengunjung dapat bersantai dan menikmati pemandangan air terjun dengan lebih leluasa dan nyaman.
Menurut saya, Air Terjun Putuk Truno merupakan contoh menarik tentang bagaimana sebuah destinasi wisata alam dapat dikenal luas oleh masyarakat berkat peran komunikasi pariwisata yang berkembang melalui media digital. Banyak wisatawan yang mengaku datang ke tempat ini setelah sebelumnya melihat unggahan foto atau video yang menarik di media sosial. Hal ini membuktikan bahwa penyampaian informasi wisata yang dikemas secara kreatif dan visual mampu membangkitkan rasa penasaran seseorang hingga mendorong mereka untuk hadir dan menyaksikan langsung keindahan destinasi tersebut.
Dari keseluruhan hasil observasi yang kami lakukan di Cimory Dairyland Prigen dan Air Terjun Putuk Truno, dapat disimpulkan bahwa komunikasi pariwisata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan wisatawan dalam memilih destinasi kunjungan. Informasi mengenai kedua tempat ini sangat mudah ditemukan melalui berbagai media digital yang memang menjadi konsumsi sehari-hari Generasi Z. Sebelum berkunjung, para wisatawan umumnya terlebih dahulu mencari informasi seputar lokasi, harga tiket, fasilitas yang tersedia, serta aktivitas yang dapat dilakukan di sana. Kemudahan akses informasi inilah yang mendorong semakin banyak orang tertarik untuk datang secara langsung. Selain itu, konten foto dan video yang beredar di media sosial turut berperan dalam menampilkan keunikan dan daya tarik masing-masing destinasi, sehingga mampu menumbuhkan rasa penasaran yang besar di kalangan calon pengunjung. Tidak mengherankan apabila Cimory Dairyland kini menjadi destinasi wisata edukasi favorit bagi rombongan sekolah maupun keluarga, sedangkan Air Terjun Putuk Truno banyak diminati oleh wisatawan muda yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengabadikan momen berharga untuk dibagikan di media sosial.
Dari pengalaman observasi yang saya jalani bersama kelompok ini, satu hal yang menjadi kesimpulan saya adalah komunikasi pariwisata memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan sebuah destinasi wisata di era modern. Kehadiran media sosial tidak hanya membantu wisatawan dalam memperoleh informasi secara cepat dan mudah, tetapi juga telah bertransformasi menjadi sarana promosi yang jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan metode konvensional. Cimory Dairyland dan Air Terjun Putuk Truno menjadi bukti nyata bahwa destinasi wisata yang mampu memanfaatkan kekuatan komunikasi digital dengan baik akan lebih mudah untuk dikenal, diingat, dan dipilih oleh masyarakat, khususnya Generasi Z yang sangat melek teknologi.
Oleh karena itu, komunikasi pariwisata saat ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai sekedar penyampai informasi. Komunikasi pariwisata telah berkembang menjadi strategi yang penting dalam membangun citra destinasi, menciptakan koneksi emosional dengan calon wisatawan, serta meningkatkan daya saing wisata lokal di tengah persaingan yang semakin ketat. Dengan pengelolaan komunikasi yang kreatif, informatif, autentik, dan disesuaikan dengan karakteristik serta preferensi generasi muda, potensi wisata daerah dapat terus tumbuh dan berkembang, sekaligus memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat dan perekonomian setempat.
Oleh: Firely Imanuel Lahendra
Mata Kuliah: KomunikasiPariwisata
Program Studi: Ilmu Komunikasi
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu: Drs. Widyatmo Ekoputro, M.A.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































