YOGYAKARTA — Sebuah kamera dapat mengabadikan wajah sebuah kota dalam hitungan detik. Namun, sketsa membutuhkan waktu, pengamatan, dan keterlibatan langsung dengan ruang. Melalui goresan tangan, seorang sketcher tidak sekadar menggambar apa yang dilihat, tetapi juga merekam suasana, karakter, dan cerita yang ditemuinya.
Semangat itulah yang dihadirkan dalam 101 Travel Sketch dengan Sketsa Nusantara Chapter #4, yang digelar di Yogyakarta pada 8–9 Agustus 2026. Kegiatan yang digelar THE 101 Yogyakarta Tugu bersama Leeven & Co dan didukung Indonesia’s Sketchers Jogja ini mempertemukan 55 seniman dari 15 kota di Indonesia.
Mengusung perpaduan seni, perjalanan, dan eksplorasi budaya, kegiatan tersebut menjadikan sketsa sebagai medium untuk membaca kembali Yogyakarta. Kota tidak ditempatkan sekadar sebagai latar perjalanan, melainkan sebagai objek seni yang diamati, ditafsirkan, kemudian diterjemahkan ke dalam lembaran sketchbook.
Rangkaian kegiatan diawali workshop pengenalan teknik urban sketching bersama seniman Augustinus Madya dan Iqbal Amidha. Peserta diajak memahami bagaimana lingkungan perkotaan dapat diterjemahkan menjadi karya visual melalui pengamatan langsung terhadap bangunan, manusia, suasana, hingga detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian.

Pengalaman menggambar secara langsung juga diperlihatkan melalui sesi Live Sketch bersama Sudarman Angir. Dalam sesi tersebut, proses kreatif seorang urban sketcher menjadi bagian dari tontonan sekaligus pembelajaran. Garis demi garis dibangun untuk menangkap karakter ruang secara spontan dan ekspresif.
Tak hanya ruang dan arsitektur, budaya kuliner Yogyakarta turut diterjemahkan melalui Food Sketch. Peserta diajak mencermati pengalaman menikmati kuliner PIRINGAN, signature dishes LOTENG, sekaligus menjadikan makanan sebagai bagian dari cerita visual perjalanan.
Sketsa sebagai Cara Membaca Kota
Salah satu kekuatan urban sketching terletak pada prosesnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sketcher hadir langsung di lokasi, mengamati, berinteraksi dengan lingkungan, kemudian merekam pengalaman tersebut dalam bentuk visual.
Perspektif itu pula yang diangkat melalui eksplorasi Kotagede, kawasan cagar budaya yang memiliki kekayaan arsitektur Jawa tradisional, lorong-lorong kampung, serta rumah-rumah bersejarah. Dalam kegiatan ini, 101 Travel Sketch menggandeng Kampung Wisata Purbayan untuk memperkenalkan kawasan tersebut melalui perspektif para sketcher.

Bagi seni sketsa, objek yang menarik tidak selalu berupa bangunan monumental. Sebuah pintu tua, aktivitas warga di gang sempit, bentuk jendela rumah, pepohonan, warung, hingga interaksi manusia dapat menjadi bagian penting dari narasi visual.
Dengan demikian, sketchbook berfungsi seperti arsip perjalanan personal. Setiap halaman menyimpan bukan hanya bentuk visual, tetapi juga waktu, suasana, dan pengalaman seniman ketika berada di suatu tempat.
General Manager THE 101 Yogyakarta Tugu, Wahyu Wikan Trispratiwi, mengatakan Travel Sketch telah menjadi bagian dari perjalanan hotel tersebut sejak 2018.
“Travel Sketch telah menjadi bagian dari perjalanan THE 101 Yogyakarta Tugu sejak 2018. Memasuki penyelenggaraan yang keempat, program ini menjadi bentuk apresiasi kami kepada para sketcher yang selama ini turut merekam dan menghidupkan cerita Yogyakarta melalui karya-karya mereka,” ujarnya.
Menurut dia, penyelenggaraan tahun ini terasa lebih istimewa karena menjadi bagian dari rangkaian perayaan 12 tahun THE 101 Yogyakarta Tugu. Kolaborasi tersebut juga menjadi upaya mempertemukan seni, budaya, pariwisata, dan komunitas kreatif.
Dari Sketchbook Menjadi Ruang Pamer
Semangat merekam keberagaman melalui sketsa kemudian diteruskan melalui pameran bertajuk “Merekam Jejak, Merajut Ragam”.
Pameran yang digelar bersama Leeven & Co tersebut menampilkan 10 karya seniman kolaborator Nusantara. Karya-karya itu merepresentasikan cara berbeda para sketcher dalam membaca ruang dan budaya melalui lembaran sketchbook.
Pameran berlangsung hingga 31 Agustus 2026 dan dapat dinikmati para tamu yang berkunjung ke THE 101 Yogyakarta Tugu.
Founder Leeven & Co, Oktavia Soenardi, mengatakan keberagaman budaya Indonesia memberikan ruang yang luas bagi para seniman untuk mengembangkan pendekatan visual mereka.
“Dengan menggunakan berbagai variasi buku dari Stillman & Birn, keberagaman kultur budaya yang ada dapat direkam dengan apik,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini diharapkan terus membuka ruang kolaborasi bagi seniman dari berbagai daerah dan latar budaya.
Lebih jauh, Travel Sketch dengan Sketsa Nusantara Chapter #4 menunjukkan bahwa seni sketsa memiliki posisi yang menarik dalam perkembangan wisata berbasis pengalaman. Ketika wisatawan biasanya membawa pulang foto, para sketcher membawa pulang interpretasi personal atas tempat yang mereka kunjungi.
Di tangan para sketcher, Yogyakarta bukan hanya kota yang dipotret, tetapi kota yang diamati dan diceritakan kembali melalui garis, warna, perspektif, serta ekspresi masing-masing seniman.
Pada akhirnya, setiap lembar sketchbook menjadi semacam catatan perjalanan yang hidup—merekam apa yang mungkin hilang dari ingatan ketika perjalanan telah selesai.
Melalui pertemuan antara seni, komunitas, budaya, dan pariwisata tersebut, Yogyakarta kembali menunjukkan dirinya bukan sekadar destinasi untuk dikunjungi, tetapi ruang yang dapat dialami, ditafsirkan, dan diceritakan melalui karya seni. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































