Saya hampir jadi bagian dari masalah yang saya kritik pada tulisan ini.
Itu terjadi malam hari, awal Agustus lalu. Saya lagi rebahan sambil scroll linimasa sebelum tidur, ketika sebuah video muncul di beranda saya, lengkap dengan keterangan yang membuat jantung berdebar, seolah kejadian itu baru saja berlangsung beberapa jam sebelumnya. Niat saya sudah bulat: kirim ke grup keluarga besar, biar semua tahu, biar saya juga tampilkan sigap dan up to date soal berita terkini. Tapi entah kenapa, detik terakhir sebelum jempol saya mendarat, muncul rasa ragu kecil, semacam suara di kepala yang bilang “coba cek dulu deh.” Saya mengetik ulang beberapa frase dari video itu di mesin pencari. Hasilnya bikin saya ingat: video yang sama pernah beredar bertahun-tahun sebelumnya, dengan konteks yang sama sekali berbeda dari yang diklaim hari ini.
Pengalaman kecil itu yang membuat saya tertarik mengangkat isu ini sebagai bahan tulisan, khususnya dari sudut pandang mindfulness dan fokus, salah satu nilai yang dibahas di kuliah mata Estetika Humanisme. Bukan karena ingin membahas politik atau siapa yang benar dan salah dalam isu yang sedang ramai, tapi karena ada sesuatu yang lebih mendasar sedang terjadi: kita, sebagai pengguna internet, ternyata jauh lebih mudah kehilangan fokus dan bertindak di luar kesadaran daripada yang kita kira. Dan bagi saya, itu jauh lebih layak untuk dicari dibandingkan video itu sendiri.
Bukan Cerita Baru, Tapi Skalanya Bikin Geleng Kepala
Video daur ulang semacam ini sebenarnya bukan trik baru. Tiap ada momen sensitif, entah bencana, memancarkan, atau isu sosial lainnya, selalu ada saja oknum yang menyodorkan rekaman lama seolah kejadian terkini. Yang membuat saya berhenti sejenak justru bukan triknya, melainkan seberapa cepat dan seberapa luas hal itu menyebar hanya dalam hitungan hari. Peneliti dari Monash University Indonesia sempat menelusuri percakapan soal isu refleksi di berbagai platform, dari X sampai TikTok, sepanjang akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Angkanya cukup bikin saya menahan napas: sekitar 197.000 unggahan dari 63.000-an akun berbeda, dengan puncaknya mencapai 50.000 unggahan hanya dalam satu hari (Schoolmedia News, 2026).
Supaya tidak hanya angka di atas kertas, saya coba tuangkan datanya ke dalam bentuk yang lebih mudah dicerna.

Angka puncak 50.000 unggahan hanya dalam satu hari itu yang paling mencurigakan bagi saya. Lonjakan setajam itu bukan pola yang wajar untuk sekadar rasa penasaran orang-orang biasa. Peneliti sendiri menyebut ada dugaan pola amplifikasi yang terkoordinasi di baliknya, bukan murni respon spontan warganet (Schoolmedia News, 2026). Kalau benar begitu, artinya ada pihak yang sengaja “menyalakan api” dengan bahan bakar video-video lama, dan kita, para pengguna media sosial biasa yang fokusnya sedang tidak sepenuhnya hadir di layar sendiri, tanpa sadar ikut jadi corong yang meneruskannya.
Kenapa Kita Semudah Itu Terpancing?
Setelah rasa lega karena batal mengirim video itu mereda, muncul pertanyaan yang lebih mengganggu: kenapa saya, yang notabene sudah tahu betul bahaya hoaks, bisa hampir terjebak juga? Jawaban paling jujuryang bisa saya temukan: karena video itu sesuai dengan apa yang sudah saya khawatirkan sebelumnya. Psikolog menyebut bias konfirmasi, kecenderungan otak kita untuk lebih mudah percaya pada informasi yang memperkuat apa yang sudah kita yakini, dibandingkan repot-repot memeriksanya dulu. Ditambah lagi, video jauh lebih meyakinkan dibandingkan tulisan. Ada gerakan, ada suara, ada wajah orang yang tampak nyata, sehingga otak kita cenderung mengira sebagai “bukti”, padahal gambar bergerak meski bisa terlepas dari waktu dan konteks aslinya dengan sangat mudah.
Coba jujursebentar: kapan terakhir kali Anda benar-benar hadir penuh, benar-benar fokus memeriksa dulu sebelum menekan tombol bagikan? Saya berani bertaruh, kebanyakan dari kita akan kesulitan menjawabnya, bukan karena kita bodoh, tapi karena kebiasaan berhenti memang jarang sekali kita berlatih.
Di sini saya melihat relevansi mata kuliah Estetika Humanisme dengan kehidupan sehari-hari kita, khususnya konsep mindfulness atau kesadaran penuh yang sempat dibahas di kelas. Selama ini saya kira mindfulness hanya soal duduk tenang dan menarik napas dalam-dalam, semacam ritual relaksasi yang terpisah dari kehidupan digital saya yang serba cepat. Ternyata, penerapan paling sederhana justru ada di momen remeh seperti detik sebelum jempol menyentuh tombol bagikan. Jeda tiga puluh detik untuk mengetik ulang sebagian kalimat di mesin pencari, itu sudah bentuk mindfulness, hadir penuh dalam satu tindakan kecil, alih-alih bergerak secara autopilot mengikuti dorongan emosi.
Kalau saya runut lebih jauh, konsep literasi kemanusiaan atau literasi manusia yang diajarkan di mata kuliah ini sebenarnya tidak berhenti pada kemampuan berpikir logistik semata. Ada juga dimensi kesadaran diri atau konsep diri, dan kemampuan mengelola emosi atau kecerdasan emosional, yang sama-sama ikut menentukan bagaimana seseorang bereaksi terhadap sebuah informasi. Saat saya hampir ikut menyebarkan video pemaparan itu, yang bermain bukan hanya nalar saya yang lengah, tapi juga fokus saya yang sudah keburu direbut oleh dorongan emosi sebelum sempat logika bekerja. Rasa cemas dan geram yang muncul begitu menonton video itu jauh lebih cepat datang dibandingkan rasa ingin tahu untuk memverifikasi. Bagi saya, inilah benang merah pentingnya: Tidak mungkin menyampaikan kritis, ilmiah, dan sistematis kalau fokus kita sendiri sudah keburu dibajak oleh reaksi emosional pada saat itu. Mindfulness, dalam pengertian inilah, menjadi semacam gerbang, syarat awal sebelum nalar sempat bekerja sama sekali.
“Kita bukan korban algoritma. Kita cuma lupa memberi jeda pada diri sendiri.”
Fokus yang Terus-menerus Direbut
Menariknya, pola kehilangan fokus semacam ini ternyata tidak berhenti di satu isu saja. Di waktu yang hampir bersamaan, saya juga sempat melihat linimasa ramai oleh ekonometrik soal beberapa mal yang tiba-tiba memasang pagar tinggi, lengkap dengan berbagai tebakan pembohong soal alasan, sebelum akhirnya pihak terkait mengangkat pembicaraan bahwa itu bukan terkait kekhawatiran paksaan seperti yang banyak ditekankan. Ada juga fenomena nuansanya yang berbeda, soal warganet yang ramai-ramai “perang” berebut tiket upacara 17 Agustus di Istana Negara begitu dibuka, sampai jadi pembicaraan tersendiri di media sosial. Saya sendiri sempat coba peruntungan ikut mendaftar, dan gagal total, kalah cepat dari ribuan jari lain yang ternyata sama-sama gesit.
Saya sengaja menyandingkan dua contoh yang nuansanya jauh berbeda ini, satu soal kecemasan, satu lagi soal antusiasme, untuk menunjukkan bahwa yang direbut dari kita bukan cuma nalar, tapi juga fokus itu sendiri. Entah kabarnya menakutkan atau menggembirakan, perhatian kita sama-sama langsung tersedot habis begitu ada notifikasi atau tren baru muncul, tanpa sempat kita sadari bahwa kita sedang tidak benar-benar memikirkan apa yang sedang kita lakukan. Bedanya cuma emosi yang memicunya, tapi pola kehilangan fokusnya sama bertahan.
Fokus yang Dirampas, Bukan Hanya Hilang Sendiri
Saya paham, banyak yang lebih suka menuding algoritma media sosial sebagai biang keladi, karena memang dirancang untuk memprioritaskan konten yang memancing emosi kuat dan membuat kita terus menggulir tanpa henti. Saya tidak menjelaskan itu benar adanya, bahkan menurut saya inilah akar masalah yang lebih dalam: seluruh model bisnis platform digital hari ini memang dibangun di atas rebutan atas fokus penggunanya. Semakin lama kita dipaparkan di layar, semakin besar keuntungan yang mereka dapat, dan cara paling efektif untuk membuat kita terus dipaparkan adalah dengan membajak emosi kita sebelum kesadaran sempat bekerja.
Tapi rasanya terlalu enak juga kalau semua kesalahan dilempar ke sistem, seolah kita ini korban pasif yang tidak punya kendali sama sekali atas fokus kita sendiri. Pada kenyataannya, keputusan untuk berhenti sejenak dan menekan tombol bagikan tetap ada di tangan saya, di tangan Anda, di tangan setiap orang yang membaca tulisan ini. Kalau algoritma dirancang untuk merebut fokus kita, maka melatih diri untuk merebutnya kembali, menyadari kapan kita sedang bereaksi dan kapan kita benar-benar berpikir, adalah bentuk perlawanan kecil yang bisa dilakukan siapa saja.
Pejabat pemerintah pun sudah berulang kali mengingatkan hal serupa: masyarakat diminta memeriksa tanggal unggahan, menelusuri sumber, dan membandingkannya dengan pemberitaan media yang kredibel sebelum ikut menyebarkan sesuatu (Harian Berkat, 2026). Nasihat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin klise. Tapi justru karena sederhana itulah kita sering meremehkannya, padahal langkah itu pada dasarnya adalah ajakan untuk kembali fokus, kembali hadir, sebelum bertindak.
Kalau boleh usul, perbaikan yang diperlukan sebetulnya harus jalan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, memang perlu ada pengawasan yang lebih ketat terhadap bagaimana platform mendistribusikan konten yang berpotensi menimbulkan bahaya. Tapi di sisi lain, dan ini justru lebih mendesak menurut pengamatan saya, kita sebagai individu perlu melatih kembali kemampuan untuk fokus dan hadir penuh, alih-alih terus-menerus reaktif. Regulasi bisa saja diperbaiki bertahun-tahun ke depan, tapi kebiasaan pribadi untuk berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu, itu bisa mulai dipraktikkan hari ini juga.
Penutup: Jeda Kecil yang Berdampak Besar
Saya jadi berpikir, mungkin yang paling dibutuhkan bukan aplikasi pengecek hoaks yang canggih atau regulasi pemerintah yang ketat, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: mindfulness dalam artian paling praktis, kebiasaan untuk memberi jeda dan hadir penuh pada diri sendiri, sebelum jari bergerak lebih dulu dari kesadaran. Jeda itu yang menyelamatkan saya dari ikut menyebarkan video yang salah konteks beberapa waktu lalu. Bukan karena saya lebih pintar dari yang lain, tapi karena kebetulan saat itu fokus saya sempat kembali ke tempatnya, sebelum saya menekan tombol kirim.
Jadi, apa yang akhirnya saya kirim ke grup keluarga hari itu? Bukan video yang dipublikasikannya, tapi tautan artikel klarifikasi yang saya temukan setelah memeriksa. Responsnya jauh lebih sepi dibandingkan kalau saya kirim video dramatis tadi, cuma dua centang biru dan satu emoji jempol dari tante saya. Tidak seheboh video aslinya, tapi setidaknya saya tidak ikut menambah gangguan informasi yang salah, dan membuat saya itu jauh lebih penting daripada melihat sigap dan up to date di mata keluarga.
Fenomena video daur ulang bulan Agustus ini, bagi saya, adalah pengingat kecil yang datang di waktu yang tepat, menjelang perayaan kemerdekaan, tentang apa artinya menjadi warga digital yang merdeka sesungguhnya. Bukan sekedar bebas mengakses segala informasi, tapi juga bebas dari kemalasan berpikir dan hilangnya fokus yang membuat kita mudah dikendalikan oleh siapa pun yang pandai mewujudkan kembali kenyataan. Merdeka yang sesungguhnya, mungkin, dimulai dari jeda tiga puluh detik untuk hadir penuh pada diri sendiri, sebelum kita menekan tombol bagikan, meskipun hasilnya hanya dua centang biru dan satu emoji jempol.
Penulis: Anis Yesika_mahasiswa Universitas Siber Asia
Daftar Referensi
Harian Berkat. (2026, 3 Agustus). Foto dan video lama marak beredar, Kemkomdigi minta masyarakat cek fakta. https://harianberkat.com/2026/08/03/foto-dan-video-lama-marak-beredar-kemkomdigi-minta-masyarakat-cek-fakta/
Morf.id. (2026). Video viral Indo terbaru hari ini, ini yang ramai dibicarakan. https://www.morf.id/blog/video-viral-indo
Rosanah. (2026). Estetika Humanisme [Bahan terbuka perkuliahan]. Universitas Siberia Asia.
Berita Media Sekolah. (2026, 5 Agustus). Isu demo Agustus ramai di media sosial, peneliti menyimpulkan kesimpulan pola amplifikasi terkoordinasi. https://news.schoolmedia.id/lipsus/4814/isu-demo-agustus-ramai-di-media-sosial-peneliti-temukan-dugaan-pola-amplifikasi-terkoordinasi
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































