KEBUMEN, 13 Agustus 2026 — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak membuat pendidikan pesantren kehilangan relevansinya. Sebaliknya, santri mempunyai modal kuat untuk menghadapi perubahan dunia kerja melalui perpaduan karakter, kompetensi, dan penguasaan teknologi.
Pesan tersebut disampaikan oleh praktisi pemasaran dan pendidikan vokasi Ahmad Madani dalam kegiatan pembekalan bagi santri akhir Kelas 6 Mu’adalah di Pondok Tahfidz Al Ihsan Wat Taqwa, Kebumen.
Mengangkat tema “Santri vs. Algoritma”, Ahmad Madani mengajak para santri untuk tidak melihat AI sebagai ancaman, tetapi sebagai alat yang harus dipelajari, digunakan, dan diarahkan berdasarkan adab serta tanggung jawab.
Apakah Pesantren Masih Relevan di Era AI?
Ketika AI semakin mampu menulis, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, membantu pembuatan video, hingga mempercepat pekerjaan manusia, muncul pertanyaan penting:
Apakah pendidikan pesantren masih relevan ketika dunia semakin dipengaruhi teknologi dan algoritma?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena para santri akan memasuki dunia yang bergerak sangat cepat. Mereka akan menghadapi perubahan profesi, pola kerja, cara belajar, cara berkomunikasi, dan cara menjalankan usaha.
Sebagian pekerjaan mungkin berubah atau berkurang, sementara berbagai profesi baru akan muncul. Kemampuan teknis yang dibutuhkan hari ini juga belum tentu tetap relevan dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, perubahan tersebut tidak berarti manusia kehilangan perannya.
Pertanyaan utama yang perlu dijawab bukan hanya seberapa pintar AI pada masa depan, tetapi:
Seberapa kuat karakter manusia yang akan menggunakan AI tersebut?
Santri Memiliki Modal Kuat Menghadapi Perubahan
Ahmad Madani menegaskan bahwa pesantren tetap sangat relevan di era AI. Pendidikan pesantren tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membentuk disiplin, kemandirian, adaptabilitas, kemampuan berkomunikasi, integritas, dan adab.
Kemampuan tersebut tetap dibutuhkan meskipun teknologi terus berubah.
“Ketika kecerdasan teknis semakin mudah diperoleh melalui AI, kualitas kemanusiaan justru akan menjadi semakin mahal. Kejujuran, tanggung jawab, empati, integritas, kepercayaan, dan adab akan menjadi pembeda,” ujar Ahmad Madani.
Menurutnya, santri tidak harus memilih antara pendidikan agama dan keterampilan teknologi. Santri masa depan justru perlu menggabungkan keduanya:
- kitab dan coding;
- adab dan Artificial Intelligence;
- ilmu agama dan keterampilan digital;
- karakter dan kompetensi.
Karena itu, narasi yang tepat bukanlah pesantren melawan teknologi, melainkan:
Pesantren × Teknologi
Teknologi memberikan kemampuan dan daya ungkit, sedangkan pendidikan pesantren memberikan arah serta kompas moral dalam penggunaannya.
Dari Pertanyaan tentang Kesuksesan hingga Tantangan Masa Depan
Kegiatan tersebut diawali Ahmad Madani dengan sebuah pertanyaan sederhana kepada para santri.
“Siapa di sini yang ingin sukses?”
Hampir seluruh tangan terangkat.
Ketika ditanya mengenai arti kesuksesan, para santri memberikan jawaban yang beragam. Ada yang ingin menjadi pengusaha, memperoleh pekerjaan yang baik, melanjutkan pendidikan, membahagiakan orang tua, dan menjadi manusia yang bermanfaat.
Percakapan itu menjadi pintu masuk untuk membahas perubahan dunia yang akan mereka hadapi setelah meninggalkan pesantren.
Ahmad Madani menyampaikan materi tersebut bukan sebagai seseorang yang berada di luar lingkungan pesantren. Ia merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001 yang kemudian menjalani perjalanan profesional dalam bidang pemasaran, sales, pendidikan vokasi, digital marketing, kompetisi siswa, dan Artificial Intelligence.
Saat ini, Ahmad Madani merupakan Co-Founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI) dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI). Sejak 2019, ia juga dipercaya menjadi Juri Lomba Kompetensi Siswa bidang Pemasaran Digital Kemendikdasmen.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa kehidupan pesantren justru membentuk kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi perubahan.
Santri terbiasa hidup dengan jadwal, mengikuti proses, menerima koreksi, menyelesaikan tugas, belajar bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda, dan tetap menjalankan tanggung jawab meskipun tidak selalu menyukainya.
Kebiasaan tersebut membentuk learning agility, yaitu kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi ketika kondisi berubah.
“Yang membuat seseorang tertinggal bukan karena pernah mondok. Seseorang akan tertinggal ketika berhenti belajar,” tegas Ahmad Madani.
Mengapa Adab Menjadi Keunggulan Santri?
AI dapat membantu manusia menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun, AI tidak menjalani kehidupan sebagaimana manusia.
AI dapat membuat tulisan tentang keikhlasan, tetapi tidak mengalami keikhlasan. AI dapat menjelaskan kasih sayang, tetapi tidak mempunyai orang tua. AI dapat menghasilkan kalimat tentang tanggung jawab, tetapi tidak merasakan konsekuensi moral dari sebuah keputusan.
Karena itu, kecanggihan teknologi tetap memerlukan manusia yang mampu menentukan:
- apa yang benar;
- apa yang salah;
- apa yang bermanfaat;
- apa yang merugikan;
- dan untuk tujuan apa teknologi digunakan.
Dalam dunia profesional, adab dapat menjadi competitive advantage atau keunggulan yang membedakan seseorang dari orang lain.
Dua orang mungkin mempunyai kemampuan teknis yang sama. Keduanya dapat menggunakan AI dan menguasai teknologi digital. Namun, dunia kerja akan lebih membutuhkan orang yang amanah, disiplin, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, mau belajar, dan dapat dipercaya.
Kemampuan teknis dapat dipelajari. Namun, kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan ijazah atau sertifikat.
Pendidikan pesantren, menurut Ahmad Madani, memiliki “kurikulum kehidupan” yang tidak selalu tertulis, tetapi sangat berpengaruh terhadap pembentukan manusia.
Kurikulum kehidupan tersebut meliputi:
1. Disiplin
Santri terbiasa mengikuti jadwal, menjalankan kewajiban, belajar, beribadah, dan mengikuti kegiatan secara konsisten.
2. Kemandirian
Hidup jauh dari orang tua melatih santri mengurus kebutuhan sendiri, menghadapi masalah, dan mengambil keputusan.
3. Adaptabilitas
Kehidupan bersama teman dari berbagai daerah, bahasa, karakter, dan kebiasaan menjadi latihan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial.
4. Komunikasi
Santri belajar berbicara, mendengarkan, berdiskusi, bernegosiasi, serta menyelesaikan perbedaan dan konflik.
5. Integritas
Santri belajar bahwa baik dan buruk tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya orang yang melihat, tetapi oleh nilai yang diyakini dan dipertanggungjawabkan.
Bekal tersebut menjadi semakin penting ketika AI membuat kemampuan teknis lebih mudah diakses oleh banyak orang.
Santri Harus Menggunakan AI, Bukan Menjadi Korban AI
Ahmad Madani tidak mengajak santri menjauhi AI. Ia justru mendorong santri untuk mempelajari dan memanfaatkannya.
AI dapat digunakan untuk membantu riset, mempelajari bahasa asing, berlatih coding, membuat desain, mengembangkan ide bisnis, menyusun materi, menciptakan konten dakwah, dan mempercepat pekerjaan.
Namun, teknologi tidak boleh digunakan untuk membuat fitnah, menyebarkan informasi palsu, memanipulasi orang lain, menciptakan deepfake yang merugikan, atau membuat manusia kehilangan kemauan untuk berpikir.
“Dahulu kita belajar menjaga lisan. Sekarang kita juga harus menjaga jari, keyboard, kamera, akun media sosial, dan prompt,” jelasnya.
Prinsip tersebut disebut sebagai adab digital, yaitu penerapan nilai etika ketika seseorang menggunakan teknologi, media sosial, dan AI.
Satu prompt dapat menghasilkan karya yang bermanfaat. Namun, satu prompt juga dapat menghasilkan gambar palsu, narasi bohong, atau video manipulatif. Teknologinya baru, tetapi prinsip moral yang mengaturnya tetap sama.
Jangan Hanya Menguasai Tool, Kuasai Cara Belajar
Dalam menghadapi perkembangan AI, santri juga diingatkan agar tidak merasa cukup hanya karena menguasai satu aplikasi.
Platform dan aplikasi akan terus berubah. Tool yang populer hari ini mungkin tidak lagi relevan beberapa tahun mendatang. Karena itu, kemampuan paling penting bukan sekadar menggunakan ChatGPT, Gemini, atau aplikasi tertentu, melainkan kemampuan mempelajari teknologi apa pun yang dibutuhkan.
Santri perlu menaikkan cara pandang dari:
“Saya bisa menggunakan aplikasi ini.”
menjadi:
“Saya mampu mempelajari teknologi apa pun yang dibutuhkan.”
Kemampuan belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan memecahkan masalah akan membuat santri tetap relevan ketika teknologi berubah.
Formula Kesiapan Santri: Karakter × Kompetensi × Teknologi
Ahmad Madani menawarkan formula kesiapan santri menghadapi masa depan:
Karakter × Kompetensi × Teknologi
Karakter menentukan arah penggunaan kemampuan.
Kompetensi menentukan apa yang dapat dilakukan seseorang.
Teknologi memperbesar daya ungkit dan dampaknya.
Karakter tanpa kompetensi membuat niat baik sulit menghasilkan dampak. Kompetensi tanpa karakter dapat membahayakan orang lain. Sementara teknologi tanpa karakter dan kompetensi hanya akan memperbesar apa yang sudah ada dalam diri manusia.
Santri juga tidak cukup menjadi konsumen teknologi. Mereka perlu naik tingkat menjadi pencipta, pembangun, inovator, pengusaha, dan pemecah masalah.
Teknologi harus digunakan untuk menciptakan karya, membangun usaha, menyebarkan ilmu, menyelesaikan persoalan masyarakat, membuka lapangan kerja, dan memberikan manfaat.
Masa Depan Boleh Dipenuhi Algoritma, tetapi Tetap Membutuhkan Manusia
Ahmad Madani menegaskan bahwa algoritma bukan musuh santri. AI juga bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dijauhi.
Santri perlu belajar AI, data, digital marketing, bahasa, komunikasi, bisnis, dan coding sesuai bidang yang akan ditekuni. Namun, seluruh kemampuan tersebut harus berdiri di atas fondasi adab, integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan kebermanfaatan.
Pesantren tidak hanya menyiapkan santri untuk pekerjaan yang tersedia hari ini. Pesantren membentuk manusia yang mampu menghadapi berbagai perubahan pada masa depan.
“Menjadi santri bukan berarti hidup jauh dari kemajuan. Menjadi santri adalah mempersiapkan diri agar mampu memimpin kemajuan dengan ilmu, karakter, kompetensi, dan tanggung jawab,” kata Ahmad Madani.
AI akan semakin pintar. Komputer akan semakin cepat. Algoritma akan semakin memahami perilaku manusia. Namun, dunia tetap membutuhkan manusia yang mampu menentukan arah dan tujuan penggunaan teknologi.
Masa depan boleh dipenuhi algoritma, tetapi masa depan tetap membutuhkan manusia.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan pendidikan vokasi, trainer, konsultan, serta content creator. Ia merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001, Co-Founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), Sekretaris Jenderal Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), dan sejak 2019 menjadi Juri Lomba Kompetensi Siswa bidang Pemasaran Digital Kemendikdasmen.
Informasi dan artikel lainnya dapat diakses melalui ahmadmadani.id.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































