Purworejo, Jawa Tengah — Suasana Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, tiba-tiba berubah meriah seperti hari raya saat tradisi Jolenan diadakan. Warga setempat memenuhi jalan bersama ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Bahkan, para perantau pulang ke kampung halaman hanya untuk menyaksikan acara budaya yang berlangsung setiap dua tahun sekali ini.
Tradisi Jolenan, atau yang sering disebut tradisi Saparan, diadakan setiap Selasa Wage pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Ritual sakral dan meriah ini dipercaya sudah ada sejak era kolonial Belanda ratusan tahun lalu. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga sekarang.
Filosofi Ojo Kelalen dan 43 Gunungan Hasil Bumi
Secara etimologi, nama Jolenan berasal dari singkatan bahasa Jawa “ojo kelalen” atau “ojo lali”. Artinya jangan lupa. Filosofi ini mengingatkan masyarakat agar tidak lupa untuk selalu bersyukur dan mengingat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki serta kesuburan tanah.
Pada pelaksanaannya, warga membuat sekitar 43 buah jolen (gunungan) dari ancak bambu berbentuk piramida:
Bagian dalam berisi berbagai hidangan kenduri seperti tumpeng, nasi ambeng, sayur-mayur, tempe bacem, dan ayam panggang.
Bagian luar terdapat berbagai penganan tradisional dan gorengan khas seperti ledre, rengginang, geblek, dan kerupuk.
Bagian puncak diberi buah-buahan unggulan Somongari, seperti durian, manggis, dan rambutan.
Rangkaian Ritual: Kirab, Ngalap Berkah, hingga Tari Tayub
Pada pagi hari sebelum kirab, puluhan jolen dari seluruh pedukuhan terlebih dahulu dikumpulkan di halaman balai desa. Setelah itu, jolen diarak mengelilingi kampung.
Setelah diarak, rombongan kirab membawa jolen ke halaman Pesarean Eyang Kedhono-Kedhini untuk mengadakan ritual kenduri dan doa bersama. Setelah doa selesai, masyarakat dan wisatawan berebut jolen dalam prosesi ngalap berkah, yaitu meraih berkah. Masyarakat percaya bahwa makanan hingga tali lidi dari jolen yang dibawa pulang bisa membawa keselamatan, kesehatan, dan kesuburan untuk lahan pertanian.
Kemeriahan tradisi ini terus berlangsung sampai malam dengan pertunjukan seni Tari Tayub, yang dimainkan dari sore hingga dini hari sebagai penutup rangkaian acara.
Potensi Budaya dan Wisata Desa Somongari
Desa Somongari terletak di kawasan perbukitan Menoreh sekitar 12 kilometer di tenggara Kota Purworejo. Desa ini memiliki keistimewaan tersendiri. Selain menjadi tempat kelahiran pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman, desa ini juga memiliki potensi agrowisata manggis dan durian. Terdapat pula Curug Silangit dan Memorial House WR Soepratman.
Tradisi Jolenan yang menjadi ciri khas Somongari memiliki keunikan tersendiri. Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI secara resmi menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2016.
Dengan membawa semangat “Perbawa Adiluhung Kaloka” (berkarakter, bernilai tinggi, dan tersohor), tradisi Jolenan menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat desa mampu menjadi daya tarik wisata budaya yang penuh nilai spiritual, gotong royong, dan rasa syukur.
Penulis: Muhammad Adi Nugroho
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































