Institut Teknologi Bandung berkolaborasi dengan IT Dell, UNPAD, USU dan USI menyelenggarkan kegiatan pelatihan eksplorasi dan asesmen pohon plus kemenyan (hamijon) kepada kelompok tani hutan kemeyan di desa Simardangiang Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 21-24 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang berjudul;” Eksplorasi Pohon Plus Kemenyan (Styrax Sp) Sebagai Upaya Rehabilitasi Hutan Kemenyan Terdampak Bencana Longsor di Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara, yang diketuai oleh Dr. Ir. Yayat Hidayat S.Hut, M.Si dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB.
Masyarakat Desa Simardangiang kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara sudah sejak zaman dahulu secara turun temurun menekuni usaha penyadapan getah/resin kemenyan sebagai mata pencaharian utama mereka (Gambar 1). Mereka memiliki masalah penurunan produktivitas getah resin per pohon per musim panennya dibanding dengan beberapa dekade sebelumnya. Penurunan produktivitas ini dapat disebabkan beberapa faktor antara lain adalah faktor teknik budidaya pohon kemenyan. Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Utara, setidaknya terdapat 70 petani kemenyan, luas kebun kemenyak sebesar 209,89 Ha, jumlah batang sebanyak 41.916 batang, dan produksi getah/resin kemenyan 8.797 kg per tahun. Hingga saat ini sebagaian besar petani kemenyan melakukan penanaman kemenyan menggunakan bibit dari cabutan (wildlings) di kebun mereka. Teknik pembibitan (persemaian) kemenyan masih dilakukan secara konvensional dan belum dilakunan dengan baik.
Penggunaan bibit dari hasil cabutan anakan alam (wildlings) sulit diketahui kualitas genetiknya, karena tidak diketahui secara pasti dari induk mana bibit tersebut berasal. Jika bibit cabutan itu berasal dari hasil perkawinan kerabat dekat (inreeding) maka dikhawatirkan akan terjadi penyempitan genetik pada generasi berikutnya yang dikenal dengan fenomenan The bottleneck generation. Jika kebiasaan ini berlangsung lama maka dikhawatirkan terjadi penurunan kualitas genetik yang akan berpengaruh kepada penurunan kualitas dan produktivitas resin kemenyan pada populasi di Tapanuli Utara.
“Kondisi praktik budidaya kemenyan yang dilakukan petani kemenyan di Desa Simardangiang sebagaimana dijelaskan di atas itulah yang menjadi keprihatinan kami dan mendasari diajukannya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) ini”, kata Yayat. Apapun tujuan utama dari kegiatan PPM ini adalah menyelamatkan populasi pohon plus kemenyan dari kepunahan. Populasi pohon plus tersebut nantinya akan digunakan untuk populasi pemuliaan pohon kemenyan (tree improvement).
“Kegiatan eksplorasi dan asesmen (pemilihan) pohon plus kemenyan, mebutuhkan waktu lama, tenaga banyak dan biaya yang cukup mahal. Oleh karena itu agar kegiatan eksplorasi dan asesmen pohon plus kemenyan ini berjalan efektif dan efisien harus dilakukan bersama sama dengan masyarakat kelompok tani hutan kemnenyan. Prioritas utama yang harus dilakukan adalah melatih para petani kemenyan agar mampu memahami teknik eksplorasi dan asesmen pohon plus kemenyan serta terampil mempraktikannya secara swadaya masyarakat. Hal itulah yang melatarbelakangi diselenggarakannya acara pelatihan eksplorasi dan asesmen pohon plus kemenyan”, demikian ujar Yayat.
Pelatihan tersebut diikuti oleh sekitar 20 orang peserta petani kemenyan di Desa Simardangiang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara, dibawah koordinator lapangan bapak kepala Desa Simardangiang, Tampan Sitompul. Topik pelatihan terdiri dari 2, yaitu (1) teknik eksplorasi dan asesmen pohon plus dan (2) teknik pencatatan (recording) data berdasarkan aplikasi IT sederhana. Acara pelatihan terdiri dari 2 sessi yaitu (1) sesi penyampaian teori dan (2) sesi praktik di lapangan.
“Dalam pelatihan ini sengaja kami melatih petani melakukan pencatatan tidak berbasis pencatatan konvensional di kertas (non paper baased) tetapi berbasis IT (Internet of think) dengan teknologi aplikasi sederhana yang dapt dioperasionalkan melalui gawai (handphone). Pecatatan data dan informasi secara konsional seringkali menemukan masalah data hilang, data sulit dioperbaharui (update) dalam waktu yang cepat dan cermat”, demikian penjelasan dari Philippians Manurung ST, MT, anggota tim PPM berasal dari IT Del.
Selesai mengikuti acara pelatihan, peserta akan melakukan kegiatan eksplorasi calon pohon plus (CPP) kemenyan di area kebun kemenyan miliknya. Masing-masing petani diwajibkan untuk memilih 6 CPP kemenyan sesuai dengan pedoman teknik eksplorasi yang telah diajarkan saat pelatihan dan menyetorkan data dan informasi kepada Tim. Selanjutnya seluruh CPP yang dijaukan petani kemenyan tersebut akan diasesmen (dinilai) untuk dipilih menjadi pohon plus (PP) kemenyan. Kegiatan asesmen dilakukan oleh tim ahli PPM dan hasilnya akan disosialisasikan kepada peserta petani kemenyan. Hasil PP kemenyan yang lolos seleksi akan diregistrasi oleh kepala desa untuk dilakukan penilaian lebih lanjut sebagai pohon induk guna pembangunan kebun benih unggul kemenyan.
Dalam pentupan acara pelatihan pak Kades Simardangiang, Tampan Sitompul, mengucapkan terima kasih keopada tim PPM kolaborasi ITB, IT Del, UNPAD, USU dan USI yang dipimpin oleh Bapak Dr. Ir. Yayat Hidayat dari ITB. “Atas nama masyarakat Simardangiang, khususnya para petani kemenyan, kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar besarnya, kami telah diberikan ilmu pengetahuan dan teknologi bagaimana cara memilih pohon induk kemenyan untuk tujuan perbaikan kualitas dan produktivitas resin kemenyan dimasa mendatang. Tentu kami akan berusaha keras menyelamtkan populasi pohon induk kemenyan ini yang masih berada di kebun-kebun kami, sebelum terlambat punah atau hilang”, demikian ujar pak Kades.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































