HIMITEKINDO Meneguhkan Identitas
Dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan yang menjadi sumber kehidupan, jalur perdagangan, sekaligus bagian dari identitas bangsa. Namun, di tengah besarnya arti laut bagi Indonesia, sudah sejauh mana generasi muda, khususnya mahasiswa kelautan, benar-benar hadir untuk laut yang mereka pelajari? Pertanyaan ini menemukan relevansinya ketika Hari Maritim Nasional pada 23 September 2026 diperingati bersamaan dengan aksi pengabdian HIMITEKINDO di pesisir Carita, Banten.
HIMITEKINDO lahir dari kesadaran kolektif mahasiswa kelautan se-Indonesia yang bertemu di Pare-Pare, kemudian dilegitimasi melalui Musyawarah Nasional pertama pada 3 September 1993 di Jepara. Dari titik itu, organisasi ini bukan sekadar wadah akademik. HIMITEKINDO bahkan tercatat sebagai salah satu forum mahasiswa yang secara tegas menggagas berdirinya Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kini, setelah lebih dari tiga dekade berdiri, HIMITEKINDO telah berkembang dari 6 menjadi 42 anggota perguruan tinggi yang tersebar dari ujung barat hingga timur Indonesia. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa identitas HIMITEKINDO tidak berhenti sebagai warisan sejarah, tetapi terus menemukan maknanya melalui kontribusi mahasiswa kelautan bagi persoalan kemaritiman Indonesia.
Insan Pengabdi Kelautan
Melalui kegiatan Insan Pengabdi Kelautan, HIMITEKINDO menghadirkan rangkaian aksi konservasi yang menyentuh langsung ekosistem dan masyarakat pesisir. Di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, akan dilaksanakan transplantasi terumbu karang, penanaman 200 bibit mangrove di wilayah rawan abrasi dengan pemantauan rutin selama dua tahun ke depan, aksi laut sehat bebas sampah bertajuk SEBASAH, hingga pengibaran Bendera Merah Putih dan bendera HIMITEKINDO di bawah laut sebagai simbol kampanye menjaga laut Indonesia.
Tak berhenti di aksi lapangan, seluruh rangkaian ini juga akan diabadikan dalam film dokumenter berjudul “Insan Pengabdi Kelautan” yang direkam sejak pra-kegiatan hingga pasca-kegiatan, sekaligus menjadi bagian dari kampanye konservasi dalam rangka memperingati Deklarasi Djuanda. Edukasi ekosistem laut kepada masyarakat Kecamatan Carita turut menjadi bagian dari rangkaian, memastikan pengabdian ini tidak berhenti di permukaan, melainkan menyentuh langsung masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut.
Ilmu yang dipelajari di ruang akademik tidak cukup jika hanya berhenti di atas kertas. Pada 23 September 2026, HIMITEKINDO menerjemahkannya dalam aksi nyata, ketika delegasi dari berbagai perguruan tinggi turun ke pesisir Carita untuk menghibahkan ilmu, tenaga, dan kepedulian mereka bagi laut.
Dalam hal ini, menghibahkan diri berarti hadir melampaui sekedar bentuk seremonial. Monitoring mangrove setiap enam bulan selama dua tahun menunjukkan bahwa pengabdian ini dirancang untuk terus dijaga, bukan selesai ketika kegiatan berakhir. Setiap bibit mangrove dan bibit karang yang ditanam menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir, sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa kelautan tidak hanya mempelajari laut, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaganya.
Pengabdian semestinya tidak berhenti pada apa yang dilakukan di lapangan. Pengalaman dari pesisir, persoalan yang ditemui, serta pengetahuan yang dipraktikkan perlu menjadi bahan refleksi. Dari aksi lahir pengalaman, dari pengalaman tumbuh pemahaman. Di sanalah makna menghibahkan diri menemukan bentuknya, ketika ilmu, tenaga, dan kepedulian tidak hanya dipelajari, tetapi juga diberikan untuk menjaga ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Menghibahkan Diri, Menghadirkan Dampak
Menjelang MUNAS HIMITEKINDO XV, rangkaian pengabdian ini menjadi pengingat bahwa arah organisasi perlu tetap berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan ekosistem pesisir. Peringatan Hari Maritim Nasional menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pengetahuan, gagasan, dan komitmen mahasiswa kelautan diwujudkan melalui tindakan. Melalui kegiatan Insan Pengabdi Kelautan, HIMITEKINDO menunjukkan bahwa pengabdian tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi perlu dilanjutkan melalui perawatan dan pemantauan yang berkelanjutan. Di sinilah peran mahasiswa kelautan sebagai insan pengabdi menemukan maknanya, yakni ketika ilmu tidak hanya digunakan untuk memahami laut, tetapi juga menjadi dasar untuk hadir, mengambil tanggung jawab, dan merawat keberlanjutan ekosistem serta kehidupan masyarakat pesisir.
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Maritim Indonesia! Jalesveva Jayamahe!
Penulis : Angga Fadzar dan Ramzan Pradana
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































